Aku dan Keputusan Berjilbab

Pagi ini, aku memulai ritual wajibku yang baru setiap bangun tidur, buka facebook lewat ponsel. Walaupun aku tahu paling-paling notification-ku hanya 3-4, bahkan mungkin tak ada satupun karena aku sudah mengeceknya semalam. Dan benarlah, hanya 4 ‘kabar’ baru : 1 message dari PMR Smansagal dan 3 komentar untuk foto (yang di tag-an oleh teman)ku. Memang susah kalau mengharapkan ada banyak notification tapi aku sendiri malas untuk membuat status yang kontroversial ;P, ataupun mengkomentari foto dan status orang lain..
Jadi, aku mulai membuka link “amis” alias friends…(sok bahasa prancis) dan menemukan sebuah status menarik dari mbak Diah Probo Ningtyas (mantan menteri PSDM BEM KM + bos geng DUGEM, ha6). Bunyinya begini,
“hmm..sorry sebelumnya, tp biar hal ini gak kjadian lg..bg sluruh handai taulan pengguna facebook, pliz jgn posting foto tmnny yg tlah berjilbab, dgn foto yg blm brjilbab..coz sensitif bgt, hub.ny dgn aurat..cb d tmn2 buka firman Allah QS An-Nuur:31..thanx 4 ur attention, sorry ‘bout this status..:)”
Aku tersenyum kecil, teringat bahwa aku juga pernah mengalami hal yang sama 2 kali. Temanku men-tag fotoku jaman SMA yang bisa dibilang ‘binal’ :D . Tetapi lebih dari itu, teringat juga hari ini genap sudah 2 tahun aku berjilbab.
Kenangan-kenanganpun berkelebat. Terbayang pertimbangan-pertimbangan yang kulakukan hingga akhirnya memutuskan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dalam QS An-Nuur:31 dan QS Al-Ahzab:59 ini.
Beberapa bulan yang lalu, aku pernah ditanyai seorang teman (oke, cowok), “Apa yang bikin kamu jilbaban?” Kujawab, “karena aku takut mati sebelum berjilbab.” Lalu dia meneruskan, “Bener? yang lain dong jawabannya. Kan, bisa dibilang klise tuh.” Aku kebingungan. Kukorek-korek lagi ingatanku. Akhirnya aku menjawab, “Nggak tau sih mas, aku sih udah lama sadar kalo itu wajib, aku selalu nunda-nunda pakenya. Gampanglah ntar kalo udah punya suami.., itu pikiranku dulu. Tapi, waktu aku berpikiran begitu, aku mikir lagi, siapa yang bisa menjamin bahwa satu jam lagi aku masih bisa bernapas?
Saat aku berpikir bahwa jika aku berjilbab, tak akan lagi bisa punya banyak teman, aku mikir lagi, siapa yang berkuasa memberikan teman?
Saat aku berpikir bahwa jika aku berjilbab, akan sulit mendapat pekerjaan nantinya, aku mikir lagi, siapa yang berkuasa memberikan rejeki?”
Aku sadar dan aku takut jika aku mengabaikan perintah-perintah itu, akhirnya bayanganku tentang hidup tanpa jilbab tak seindah yang kuharapkan. Aku takut pada pemikiranku sendiri.
Akhirnya temanku diam. Dan keheningan tercipta sesaat.
Begitulah, sebenarnya waktu memutuskan berjilbab, aku tidak terlalu memusingkan banyak hal. Aku siap untuk mengalami hal terburuk. Dijauhi, dll. Aku hanya punya modal bahwa aku merasa dicintai oleh Allah karena jilbabku.
Setelah aku mulai berjilbab, barulah satu per satu hal yang menyenangkan hadir. Hal-hal menguntungkan yang tidak pernah terpikirkan ketika pertama kali aku mengenakan ‘sepotong kain’ ini. Hal yang membuatku sangat bersyukur karena aku tidak lagi menunda. Yang paling remeh, ketika aku berjalan sendiri, tak ada lagi siulan dan celetukan mengganggu. Lebih dari itu, aku merasa aman dan tenang. Tak tahu apa sebabnya. Tapi aku yakin, Allah lebih sayang padaku kini.
Sebuah buku hebat berjudul Dari Penjara Taliban Menuju Iman (Anton Kurnia, penerbit Mizan, 2007) juga semakin memantapkan langkahku. Buku ini berkisah tentang perjalanan Yvonne Ridley, wartawati feminis Inggris yang menjadi mualaf setelah ditawan Taliban dan kini menjadi pembela Islam di barat. Di buku ini Yvonne mengatakan,
“…Jika aku menganggap ada sesuatu dalam agama ini yang tidak adil terhadap kaum perempuan, aku pasti tak akan mau masuk Islam. Kini, katakan padaku mana yang lebih membebaskan, dinilai karena panjang rokmu dan ukuran buah dada palsumu, atau dinilai karena kepribadian, otak dan kecerdasanmu ?
…memakai hijab berarti aku menyatakan diri bahwa aku adalah seorang muslim dan oleh karena itu aku berharap diperlakukan dengan penuh hormat ”
Hmm…ini ‘bonus’ lain dengan memakai jilbab, orang berhenti melihat kita dari ukuran besar kecil, tinggi rendah, panjang pendek, hitam putih…
Dalam buku hebat lainnya yang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu ( Salim A. Fillah, U ROXXX !!!), aku menemukan mozaik lainnya, dari buku itu aku baru tahu kalau istri Rasulullah Saw. pun ada yang suka bela diri, galak, dan ehm.. tertawa terbahak-bahak. Hafshah kalau tak salah.
Maka, aku bertekad bahwa jilbab ini tak akan pernah membuatku menjadi orang lain. Aku masih suka berpakaian dan berpose seksi (di kamar tentunya). Aku juga masih suka bangun siang. Tertawaku tetap terbahak-bahak. Jilbab yang kukenakan juga masih asal (asal matching, asal modis, asal menutup dada, asal nggak ketat, he6)
Bukannya aku mencari pembenaran. Aku tetap ingin memperbaiki hidupku dari hari ke hari. Dengan keyakinan bahwa jilbab tak akan pernah mengekang. Ia akan selalu membebaskan.
Semangat, wanita-wanita cantik kepunyaan Allah!!