Marjane, yang ketika itu berumur 10 tahun, mengalami sendiri pergantian rezim ke republik Islam. Dia adalah seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh keluarga dari kelas menengah dan berhaluan kiri. Dia tumbuh dengan pemikiran yang ditanamkan oleh ayahnya untuk menentang pemerintahan tersebut. Ayahnya bernama Ebi Satrapi, sedang ibunya Taji Satrapi. Bagi keluarganya, pemerintahan Islam dengan sistem fundamentalisnya mengekang kebebasan. Misalnya, mulai diterapkan peraturan yang tunduk pada hukum Islam. Polisi syariat mulai diturunkan ke jalan untuk memastikan bahwa syariat Islam ditegakkan dan tidak ada satupun pernak-pernik berbau Amerika, yang merupakan simbol sekulerisme.
Akhirnya, mereka sering terlibat dalam aksi demonstrasi menentang Shah Reza Pahlevi, yang lazim disebut Shah saja. Untungnya, tak ada satupun dari mereka bertiga: ayah, ibu maupun Marjane yang pernah dijebloskan ke penjara. Titik balik dalam kehidupannya adalah saat pamannya yang bernama Anoosh mengunjungi rumah keluarga Satrapi setelah sekian tahun mengasingkan diri di Rusia dan belajar Marxisme-Leninisme. Pada zamannya, Paman Anoosh adalah seorang pembela demokrasi. Itulah sebabnya Ia kabur ke Rusia untuk menghindari pasukan Shah. Paman Anoosh menjadi pahlawan di mata Marjane.
Sayangnya, beberapa hari kemudian, pasukan Shah mengetahui Anoosh telah kembali ke Iran, dan segeralah Ia dijebloskan ke penjara. Tak lama, Anoosh dieksekusi. Marjane sangat terpukul menghadapi keadaan ini. Kini Ia tak lagi percaya kekuatan Tuhan. Ia sangat terobsesi dengan persamaan sosial dan derajat sesama manusia. Tahun 1979, Setelah peristiwa matinya Paman Anoosh, meledaklah perang Iran-Irak. Kaum fundamentalis Iran mencoba mengendalikan sekutu syiah Irak mereka untuk melawan Saddam Hussein dan terjadilah invasi Arab kedua.
Pada umur 14 tahun, Marjane dikirim orangtuanya ke Wina, Austria untuk melanjutkan pendidikan sekaligus menghindari penangkapan. Setelah pendidikannya selesai, Ia kembali ke Iran untuk melanjutkan kuliah di jurusan Seni. Di akhir cerita, Marjane menyadari bahwa dia tak dapat lebih lama lagi di bawah tekanan dan akhirnya dia memilih untuk menetap di Prancis.
Pada saat filmnya dirilis pertama kali di Prancis, dengan segera Persepolis mendapat perhatian dunia. Tanggapan datang berupa pujian dan cercaan. Di negara-negara Barat, Persepolis banyak menuai pujian. Dia dianggap sebagai pahlawan pemberontakan wanita. Mengingat kultur Iran yang sangat menjunjung tinggi kesopanan dan reputasi , Marjane berani untuk mengekspos kehidupan pribadinya. Selain itu, Ia berani mengkritik pemerintahan revolusi Islam. Ia tak jarang melontarkan pemikiran untuk mengubah Iran dan sistem kekuasaan para Mullah yang berlaku di negeri itu.
Dari penghargaan bergengsi Academy Award tahun 2008, Persepolis memenangkan kategori film berbahasa asing terbaik dan menjadi nominator dalam film animasi terbaik. Tahun 2007, Persepolis juga mendapatkan kemenangan di kategori Jury Prize Festival de Cannes. Tercatat, ada lebih dari 40 penghargaan yang diterima Persepolis di Amerika dan Eropa.
Di Iran sendiri, film ini tidak diperbolehkan beredar. Pemerintah Iran mengecam Persepolis sebagai film yang tidak menampilkan gambaran yang sebenarnya tentang hasil positif dari revolusi Islam. Iran juga memprotes keputusan panitia festival film Cannes yang telah memilih film tersebut dan menilai pemilihan itu tidak lepas dari "kebijakan yang bias dari dominasi kekuatan-kekuatan" Barat yang tidak senang dengan negara Iran (www. eramuslim.com).
Terlepas dari penilaian dua ‘kubu’ tersebut, film ini memang banyak menyajikan kesegaran-kesegaran dalam bidang sastra. Akhirnya, Persepolis lebih dari sekadar memoar dan autobiografi. Film ini merupakan angin segar yang mendewasakan para pelaku sejarah dan pengamatnya. Penggambaran yang dilakukan Marjane dalam mengisahkan setiap peristiwa dalam hidupnya sangat unik. Dia berhasil memadukan berbagai peristiwa yang tragis, tetap dengan suasana yang suram, tetapi indah dan berselera humor.
Seperti karya sastra lainnya, Persepolis tidak bisa disikapi dari segi baik buruk. Persepolis mengajak kita untuk melihat sebuah peristiwa dari pandangan seorang anak yang dibesarkan dengan paham liberalis. Tak ada yang salah dalam pemutaran Persepolis karena itu adalah kenyataan yang dialami oleh pengarangnya.
Kebanyakan orang memang tidak bisa menerima sebuah film yang terkesan mengubah persepsi yang telah lama terbentuk mengenai sebuah sejarah. Hampir sama halnya dengan yang terjadi dalam film Tora Tora Tora!. Mengapa film Tora Tora Tora! kalah masyhur dibanding Pearl Harbor, padahal dari segi penggarapan dan kualitas lebih bagus? Karena ending-nya. Dalam Pearl Harbor, akhirannya adalah keberhasilan misi pemboman balasan Doolittle terhadap kota Tokyo. Artinya, Amerika dicitrakan menang. Sementara Tora Tora Tora! Diakhiri segera dengan setelah keberhasilan penyerbuan Jepang ke Teluk Mutiara dengan ucapan salah seorang laksamana Jepang, “Kita baru saja membangunkan raksasa yang terlelap!” Bagaimanapun, di film ini Amerika dicitrakan sebagai pihak yang kalah. Itulah sebabnya, publik Amerika tak begitu mengapresiasikan Tora Tora Tora!
Dari kasus tersebut terlihat jelas bahwa publik lebih menerima sebuah sejarah yang ‘ditelikung’ daripada kenyataan yang terjadi. Melihat bahwa film Persepolis dapat mengubah paradigma dunia tentang perang Iran, maka hal ini juga dianggap sebagai ancaman yang menggoyah wibawa Iran.
Dalam kata pengantar yang ditulis Marjane di komik Persepolis, Ia menyebutkan bahwa peradaban Iran yang besar dan tua ini kebanyakan dibicarakan dalam kaitannya dengan fundamentalisme, fanatisme dan terorisme.
“Sebagai orang Iran yang telah tinggal lebih dari separuh hidupku di Iran, aku tahu bahwa gambaran tersebut jauh dari kebenaran. Inilah kenapa menulis Revolusi Iran: Dongeng Seorang Anak (judul Persepolis dalam versi Indonesia, penerbit Resist Book : 2005) menjadi penting bagiku. Aku percaya bahwa suatu bangsa seluruhnya tidak seharusnya dinilai dari kekeliruan segelintir ekstremis. Aku juga tidak ingin orang Iran, yang kehilangan nyawanya di penjara saat mempertahankan kebebasan, yang gugur dalam perang melawan Irak, yang menderita di bawah berbagai rezim yang represif, atau yang dipaksa meninggalkan keluarga dan tanah air mereka, dilupakan. Orang boleh memaafkan, tapi seharusnya ia tidak pernah melupakan.” ujarnya.
Dengan pemikiran dewasa, seharusnya pemerintah Iran dapat melihat bahwa sebuah peristiwa bisa berdampak berbeda pada orang yang berbeda pula. Film Persepolis adalah sebuah sarana pendewasaan betapa sesungguhnya sejarah bisa sangat subyektif.