Menyoal BEM KM dan Kepemimpinan

Saya ingat 2 tahun lalu, akhir tahun 2008, saya berdoa "Ya Allah, semoga saya kembali bergabung dengan BEM KM"

Baiklah, silahkan tertawa. Ingat ya, ini akan menjadi semacam rahasia kecil kita berdua =).
Entah mengapa saya tersihir dengan BEM KM. Saya tidak mengerti apa hal yang membuat se-desperate itu untuk masuk lagi ke BEM, sampai-sampai dengan khusyuknya saya berdoa di salah satu sesi pascasholat.

Saat itu yang kuingat, ada 2 hal fundamental yang membuat saya seperti itu. Pertama, dari segi eksternal. BEM KM penuh dengan orang-orang hebat yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan superkeren. Sementara alasan kedua, dari segi internal, saya sudah pernah mengalami sebuah sesi kerja, dan itu membuat saya senang dengan hasilnya. Namun, saat ingin mencoba lagi, saya harus dihadapkan pada kenyataan menteri Media saat itu kurang berkomitmen pada departemen sehingga staf-staf lama tidak dihubungi. Jadilah saya hanya dianggurkan sebagai staf. Tak ada panggilan rapat- apalagi panggilan kerja. Itulah yang membuat saya sangat penasaran untuk kembali lagi. Saya belum memberi apa-apa. Maka saya harus kembali.

Dengan posisi menteri-pra-purnatugas seperti kini, jika itu adalah staf saya, saya pasti tidak akan membuatnya menganggur sedikitpun. =D

Setelah itu, benar Allah mengabulkan.
Tengah tahun 2008 saya dihubungi untuk mengerjakan sebuah proyek buletin. Tahun depannya saya dihubungi Menteri Media tahun 2009 untuk dijadikan deputi.
Benar-benar pengalaman yang mendewasakan.

Saat itulah saya mengenal Islam lebih jauh. Belajar menghadapi si "rezeki" sehingga pikiran saya tentang hubungan lawan jenis sangat-lebih-menjadi terbuka, menjadi PJS dan belajar bertanggung jawab terhadap sebuah proyek booklet, hingga ujian persahabatan =)

dari situ saya mulai mengerti, dunia BEM tidak seindah yang dibayangkan. Saya ingin menyerah saja. Hingga akhirnya, tawaran untuk memperbaiki keadaanpun datang, yaitu tawaran menjadi menteri. Bimbang rasanya. Tapi dengan tekad untuk mengubah yang sangat kuat. Jadilah saya menerima tawaran itu.

2010 menjadi penanda bagi kehidupan saya yang benar-benar baru. Pindah kos, lebih melek urgensi belajar Islam, ujian persahabatan dengan "menjaga jaraknya" seorang teman dekat, hingga tantangan untuk mengelola orang.

hingga datanglah hari ini. sebuah penanda berakhirnya masa jabatan itu.
Kalau pepatah bilang,

pekerjaan pertama seorang pemimpin adalah mencari pemimpin baru

maka saat inilah pertanyaan itu datang, apa benar selama ini saya sudah mencetak seseorang di bawah kepemimpinan saya?