Keluh Kesah si Anak Tengah

oh-my-Goodness..
Saya baru membuka sent-item email saya..
dan saya menemukan tulisan saya zaman SMA ..di situ tertanggal 1 Agustus 2007

ANAK TENGAH

Hmm..sering kita mendengar tentang dilema anak bungsu. Yang karena kehadirannya dalam keluarga paling akhir, menyebabkan ia menjadi manja. Ada juga dilema anak sulung. Dilahirkan sebagai anak pertama yang belum sempat merasakan kasih sayang penuh karena keburu ‘diserobot’ oleh adiknya, ia menjadi pendengki dan suka cari perhatian. Yang paling populer tentu saja anak semata wayang. Dimana-mana, the only child ini identik dengan kemanjaan, plus keegoisan dan sifatnya yang temperamental.
Well,berapa banyak sih, orang yang meributkan anak tengah?

Dilahirkan sebagai adik dari dua orang kakak perempuan dan kakak dari seorang adik lelaki yang sedang puber, hidup saya juga tidak bisa dibilang sederhana.
Bapak dan Mama - bukannya salah satu dari mereka adalah orangtua tiriku, hanya Mbakyu-ku yang pertama tak bisa mengucapkan ‘Ibu’ saat baru belajar bicara- biasa mengatakan pada orang-orang bahwa keempat bersaudara ini terbagi dalam 2 kloter kelahiran. Kalau dipikir memang aneh sih.

Jarak antara kakak pertama dan kedua hanya setahun. Jarak antara saya dan adik hanya dua tahun. Tetapi jarak antara kakak kedua dan saya, sangat lama hingga 10 tahun. Dan kemudian hal inilah yang menjadi pangkal masalah. Saya dan adik saya (yang selanjutnya disebut pihak, eh kloter 2) hidup dalam keadaan yang berbeda dengan kakak-kakak saya (yang selanjutnya disebut kloter 1). Perbedaan yang paling nyata terlihat pada keadaan ekonomi keluarga saya. Saat kloter 1 lahir, bapak saya masih pegawai biasa dengan pangkat…..,sehingga dalam pertumbuhannya, mereka hidup penuh dengan keprihatinan. Mulai dari naik sepeda ke sekolah, sampai uang saku yang tak kurang dari Rp 50,- perhari (eit,tapi itu kan sebelum krismon?sudahlah, yang penting intinya hidup susah)

Inilah yang akhirnya berdampak pada kami,si kloter 2. Alhamdulillah, pada masa-masa saya, Bapak sedang dalam puncak karirnya sehingga saya dan adik hidup sejahtera dari kecil (dan jujur saja, hanya saya yang belum pernah merasakan capeknya naik sepeda tiap hari)

Tapi rupanya kakak-kakak saya kurang setuju dengan segala macam bentuk pemanjaan seperti itu. Yah, entah cuma perasaanku atau memang kenyataan, tapi aku merasa mereka menjadi lebih ‘semena-mena’ terhadap saya dan adik.

Baru-baru ini kakak menyuruh saya untuk membeli sabun cuci piring. Setelah itu, saya bilang padanya, “mbak yang nyuci piring ya?”. Lalu dia bilang,
“kenapa bukan kamu?”
“kenapa harus aku?”. Dan..akhirnya dia balas,
“aku kira kamu bakal otomatis nyuci setelah kusuruh beli Sunbright..”
GOTCHA!!! Dan aku menimpali,
“oh,jadi itu intinya?oke..”
“ya udah, tinggalin aja. Sini aku aja yang nyuci!”
“monggoh!”

Huff, begitulah. Lebih parah lagi ketika aku baru kelas 2 SMP, saat kedua kakakku masih lajang, masih kumpul di rumah dan masih norak dengan pekerjaannya di bank. Mereka kira aku masih seorang adik kecil yang polos, sehingga dengan dongkolnya aku menahan diri untuk berontak saat mereka menertawakanku setiap aku mengucapkan kata-kata yang sedikit intelek. Teringat saat itu aku berkata,
“mbak Fitri kerjanya jadi marketing ya?”
Keduanya tak menjawab dan hanya mencibir sambil diikuti dengan gerakan saling tatap dan menaikkan alis. Arrrgghhh! Aku sudah besar kak…

Tapi dibanding adikku, bisa dibilang aku lebih tabah dan bijak menghadapi fase ini. Sebagai adik terkecil, ia mendapat cobaan yang lebih parah (aku kan cuma diledek oleh 2 orang, sementara dia diledek 3 orang. Hehe..) Seringkali saya merasa kasihan padanya.

Ternyata menjadi anak tengah merupakan keadaan yang tersulit. Sering diremehkan kakak karena eksistensi belum diakui sekaligus menahan dongkol karena harus sering-sering mengalah pada adik.

Tapi tidak selalu buruk kok, jadi anak tengah. Tidak hanya mendapat solusi-solusi bijak dalam menghadapi masalah, tapi juga jadi pihak yang selalu ditemenin dan diantar jemput. Punya kakak wanita juga memungkinkan saya untuk pinjam baju, sepatu, tas dan pernik wanita lainnya. Pada dasarnya, tak ada satupun urutan kelahiran yang sepenuhnya merugikan kok. Asal kita bijak melihat sisi baiknya.




-Gimana menurut temen2 sekalian tulisan SMA sayah?