Di bagian sampul belakang, tertulis kalimat seperti ini.
“ Sebagai seorang feminis sosialis, saya terpaksa masuk daftar hitam dan menderita di bawah rezim Sadat. Ketika rezim beralih ke Mubarak, saya masuk daftar abu-abu. Saya dapat menerbitkan karya di Mesir. Tetapi rezim itu tidak senang dengan apa yang saya tulis. Saya kira semua penulis kreatif termasuk oposisi di negeri-negeri mereka….”
Racikan tulisan yang dibuat Nawal dalam buku ini memiliki beragam topik, mulai dari gugatan terhadap ketidaksetaraan gender (digambarkan secara baik ketika ia incognito menjadi laki-laki dan menyusup ke panti pijat di jantung kota Bangkok) hingga pengungkapan berbagai sisi lain dari apa yang menjadi citra sebuah Negara. Ia merangkum perjalanan ke berbagai Negara di 4 benua menjadi rangkaian kisah yang kaya warna humanis dalam Perjalananku Mengelilingi Dunia. Karakter tulisannya tidak berubah. Ia tidak memisahkan pembebasan kaum perempuan dengan pembebasan bangsa atau dengan penindasan sistem-sistem kelas patriarkal lokal dan internasional.
Dalam buku yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1991 ini, Nawal memaparkan catatan perjalanannya sebagai penulis feminis. Catatan perjalanan tersebut terbagi menjadi sebelas bagian. Di awal tulisan, saya sedikit bingung dengan urutan perjalanan dilakukan Nawal. Dia mengawali tulisannya dengan kenangan masa kecilnya di Kafr Tahla, Mesir. Namun kebingungan tersebut tidak lagi menjadi masalah ketika saya mulai membaca bagian kedua yang berjudul “Belahan Lain Dunia”.
Bagi orang awam seperti saya, catatan perjalanan ini bukanlah sekadar catatan biasa. Di dalamnya memuat pemikiran-pemikiran menarik, karena Nawal datang datang ke Negara-negara tersebut tidak untuk mengunjungi tempat-tempat untuk para turis, yang pastinya tidak bisa menggambarkan realitas keadaan masyarakatnya.
Dia menyaksikan sendiri, dan mengkritik bagaimana perlakuan terhadap masyarakat kelas-kelas sosial rendah, terutama wanita di setiap negara dalam berbagai segi, ekonomi, politik, sosial. Saya pribadi, menganggap fase perjalanan terbaiknya berada di India. Sangat menarik mengetahui isi pikirannya mengenai bangunan yang menjadi ikon India, Taj Mahal. Taj Mahal, menurutnya, seperti piramida di Mesir.
" …Banyak orang membayangkan bahwa hal paling penting di mesir adalah piramida-piramida, persis sebagaimana banyak orang berpikir bahwa yang paling penting di India adalah Taj Mahal. "
Nawal tidak pernah memuja monumen atau bangunan kuno, karena pertanyaan yang muncul di benaknya, apa alasan piramida-piramida itu dibangun jika harus mengorbankan darah dan peluh ribuan budak yang kelaparan ? Pun Taj Mahal, bangunan paling indah di dunia, dibangun oleh tangan ribuan orang India yang kelaparan selama dua puluh tahun. Malah konon, kaisar Mogul itu memotong tangan-tangan insinyur membangunnya agar ia tidak pernah akan membangung bangunan seperti itu untuk kaisar lain. Bagian lain yang menarik yaitu ketika dia berada di perkebunan teh, serta pertemuan dengan Indira Gandhi.
Kini adalah tahun 2011, sementara buku ini, dibuat pada 1991. Mungkin gerakan feminisme sudah banyak berubah. Saya pribadi, hingga sekarang masih meraba-raba bagaimana sebenarnya konsep feminisme. Bagaimanapun, jika ideologi feminisme dikonsepkan seperti yang tercantum dalam buku ini, sudah pasti saya menyetujuinya.
PS: Kini, saya sedang merintis usaha dengan teman diskusi saya tersebut, dan berharap seluruh tenaga kerja dari pabrik yang akan didirikan terdiri dari perempuan. Selanjutnya jika usaha mulai berjalan, akan ada sebuah Yayasan Wanita dan Anak untuk mencegah trafficking sebagai bentuk Coorporate Social Responsibility. Doakan!