Entah kenapa, saat penulisan skripsi seperti ini membuat saya lebih rajin menulis entri baru di blog. Lebih rajin pinjam buku tidak jelas (tepatnya:tidak berhubungan dengan skripsi). Misalnya yang saya pinjam kemarin dari seorang sahabat. Judulnya Kisah 1001 Malam. Abu Nawas: Sang Penggeli Hati. Penerbitnya bernama "Pustaka Indonesia" Jakarta.
Awalnya tidak ada niatan untuk meminjamnya. Saya baru pegang, pemiliknya langsung bilang, "Ih, itu bagus lho Diin," Saya hanya tersenyum skeptis. Bayangkan, penggeli hati lihat kata-kata itu saja rasanya sudah bikin geli hingga ke bulu kuduk. Lalu kutanya, "Ini ada lafadz Allah-nya gak? Y udah deh aku pinjem, lumayan buat bacaan di toilet." (aduh ketauan lagi nih kebiasaan buruk)
Dan ternyata, pada halaman 12 ucapan teman saya tidak terbukti. Tertera lafadz Allah di sana. Untunglah belum sampai kamar mandi (soalnya semakin penasaran saat sudah sampai rumah). Sebelum lafadz tersebut, tertulis kisah yang sangat menyentuh.
Berikut kisah lengkapnya, dengan gubahan di beberapa tempat.
Suatu hari, seorang laki-laki setengah baya (SB) pergi ke Kedai Teh untuk mencari Abu Nawas. Namun yang dicari ternyata tidak ada. "Sudah lama menghilang," begitu kata anak nongkrong Kedai Teh yang juga kawan Abu Nawas. Karena terlihat gusar, salah satu anak nongkrong (bapak nongkrong mungkin lebih tepat, eh?) itu mencoba untuk membantu.
"Coba utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu." Kata kawan Abu Nawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sementara aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia" Begitu ujar Pak SB.
Ternyata kawan Abu Nawas itu tak bisa memberi jalan keluar, hingga akhirnya menyarankan SB (kok jadi kayak tersangka) untuk datang ke rumah Abu Nawas langsung.
Eh, rupanya si Abu Nawas ada dan sedang mengaji.
Segeralah disampaikan keluh si SB. Kemudian, Abu Nawas memberi saran SB untuk membeli domba dan menempatkannya di dalam rumah. SB tanpa membantah, langsung membeli domba.
Beberapa hari kemudian SB datang lagi. Dia mengeluhkan betapa sesak rumahnya kini.
"...aku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba," keluh SB.
Abu Nawas menimpali, "Kalau begitu, belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu"
Hal sama terjadi. SB kembali ke rumah Abu Nawas. Katanya, dia dan keluarganya semakin tidak betah di rumah yang semakin banyak penghuni. Abu Nawas tidak mengatakan hal lain, melainkan menyuruh SB untuk membeli seorang anak unta, lagi-lagi dipelihara di rumah.
Seperti yang disangka-sangka, orang itu datang lagi.
"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari hari-hari sebelumnya. (...) kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu"
"Baiklah, kalau kalian sudah tidak tahan. Juallah anak unta itu"
SB menurut. Beberapa hari setelahnya dia kembali ke rumah Abu Nawas dan berkata bahwa sekarang keadaan lebih baik di rumahnya. Lalu, berturut-turut Abu Nawas menyuruhnya menjual unggas-unggas serta domba.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu. Abu Nawas bertanya,
" Bagaimana Keadaan rumah kalian sekarang?"
" kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Kami sekarang lebih berbahagia dari pada dulu. Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga padamu, wahai Abu Nawas" kata Sb berseri-seri.
Lalu sebelum pulang, Abu Nawas bertanya pada SB.
"apakah engkau sering berdoa?"
"Ya." jawab SB.
Langsung berdesir rasanya ternyata buku yang saya pinjam tidak sedangkal yang saya sangka. Langsung teringat, wajah-wajah yang memainkan peran domba, unggas dan unta itu. Mereka merupakan gambaran objek, yang dalam dunia warna-warni, saya kategorikan sebagai kelabu. Kelabu kelam.
Domba, Unggas dan Unta adalah gangguan-gangguan dalam hidup. Kerikil kecil, yang kita anggap mengganggu. Kita tidak tahu apa hikmah yang ada dari keberadaan mereka. Kita seakan lupa bahwa setiap orang, merupakan guru bagi pembelajaran kehidupan. Ya, sekarang saya mengerti, merekalah yang membuat kita senantiasa bersyukur.
Keberadaan Domba, Unggas dan Unta sekaligus juga mengingatkan pada hidup yang semakin gila. Semakin lama, saya merasa kehidupan yang hanya saya lihat di sinetron dan film-film, terwujud dalam gambar nyata. Kekerasan, melodramatik,perhatian yang membuat jengah (sejengah-jengahnya! tidak malu sama Allah berperilaku kayak gitu?!, okay, sit back and relax, Din)..
Kegilaan-kegilaan yang akan terus mengingatkan kita betapa manis kehidupan kita. kenapa harus mengeluh? Kalo tidak ada asam dan pahit, apakah kita bisa menghayati rasa manis?
penghujung 30 Mei 2011.
(aku butuh Kau, untuk mengingatkan diriku bahwa masih ada kewarasan di muka bumi ini)
Awalnya tidak ada niatan untuk meminjamnya. Saya baru pegang, pemiliknya langsung bilang, "Ih, itu bagus lho Diin," Saya hanya tersenyum skeptis. Bayangkan, penggeli hati lihat kata-kata itu saja rasanya sudah bikin geli hingga ke bulu kuduk. Lalu kutanya, "Ini ada lafadz Allah-nya gak? Y udah deh aku pinjem, lumayan buat bacaan di toilet." (aduh ketauan lagi nih kebiasaan buruk)
Dan ternyata, pada halaman 12 ucapan teman saya tidak terbukti. Tertera lafadz Allah di sana. Untunglah belum sampai kamar mandi (soalnya semakin penasaran saat sudah sampai rumah). Sebelum lafadz tersebut, tertulis kisah yang sangat menyentuh.
Berikut kisah lengkapnya, dengan gubahan di beberapa tempat.
Suatu hari, seorang laki-laki setengah baya (SB) pergi ke Kedai Teh untuk mencari Abu Nawas. Namun yang dicari ternyata tidak ada. "Sudah lama menghilang," begitu kata anak nongkrong Kedai Teh yang juga kawan Abu Nawas. Karena terlihat gusar, salah satu anak nongkrong (bapak nongkrong mungkin lebih tepat, eh?) itu mencoba untuk membantu.
"Coba utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu." Kata kawan Abu Nawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sementara aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia" Begitu ujar Pak SB.
Ternyata kawan Abu Nawas itu tak bisa memberi jalan keluar, hingga akhirnya menyarankan SB (kok jadi kayak tersangka) untuk datang ke rumah Abu Nawas langsung.
Eh, rupanya si Abu Nawas ada dan sedang mengaji.
Segeralah disampaikan keluh si SB. Kemudian, Abu Nawas memberi saran SB untuk membeli domba dan menempatkannya di dalam rumah. SB tanpa membantah, langsung membeli domba.
Beberapa hari kemudian SB datang lagi. Dia mengeluhkan betapa sesak rumahnya kini.
"...aku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba," keluh SB.
Abu Nawas menimpali, "Kalau begitu, belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu"
Hal sama terjadi. SB kembali ke rumah Abu Nawas. Katanya, dia dan keluarganya semakin tidak betah di rumah yang semakin banyak penghuni. Abu Nawas tidak mengatakan hal lain, melainkan menyuruh SB untuk membeli seorang anak unta, lagi-lagi dipelihara di rumah.
Seperti yang disangka-sangka, orang itu datang lagi.
"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari hari-hari sebelumnya. (...) kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu"
"Baiklah, kalau kalian sudah tidak tahan. Juallah anak unta itu"
SB menurut. Beberapa hari setelahnya dia kembali ke rumah Abu Nawas dan berkata bahwa sekarang keadaan lebih baik di rumahnya. Lalu, berturut-turut Abu Nawas menyuruhnya menjual unggas-unggas serta domba.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu. Abu Nawas bertanya,
" Bagaimana Keadaan rumah kalian sekarang?"
" kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Kami sekarang lebih berbahagia dari pada dulu. Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga padamu, wahai Abu Nawas" kata Sb berseri-seri.
Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, maka Tuhan akan mencabut kesempitan hati dan pikiranmu
Lalu sebelum pulang, Abu Nawas bertanya pada SB.
"apakah engkau sering berdoa?"
"Ya." jawab SB.
Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah. Karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau, Dia tidak memberi engkau. Maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian sebenarnya.
Langsung berdesir rasanya ternyata buku yang saya pinjam tidak sedangkal yang saya sangka. Langsung teringat, wajah-wajah yang memainkan peran domba, unggas dan unta itu. Mereka merupakan gambaran objek, yang dalam dunia warna-warni, saya kategorikan sebagai kelabu. Kelabu kelam.
Domba, Unggas dan Unta adalah gangguan-gangguan dalam hidup. Kerikil kecil, yang kita anggap mengganggu. Kita tidak tahu apa hikmah yang ada dari keberadaan mereka. Kita seakan lupa bahwa setiap orang, merupakan guru bagi pembelajaran kehidupan. Ya, sekarang saya mengerti, merekalah yang membuat kita senantiasa bersyukur.
Keberadaan Domba, Unggas dan Unta sekaligus juga mengingatkan pada hidup yang semakin gila. Semakin lama, saya merasa kehidupan yang hanya saya lihat di sinetron dan film-film, terwujud dalam gambar nyata. Kekerasan, melodramatik,perhatian yang membuat jengah (sejengah-jengahnya! tidak malu sama Allah berperilaku kayak gitu?!, okay, sit back and relax, Din)..
Kegilaan-kegilaan yang akan terus mengingatkan kita betapa manis kehidupan kita. kenapa harus mengeluh? Kalo tidak ada asam dan pahit, apakah kita bisa menghayati rasa manis?
penghujung 30 Mei 2011.
(aku butuh Kau, untuk mengingatkan diriku bahwa masih ada kewarasan di muka bumi ini)
