Pertemuanku dengannya pertama kali, sama dengan momen perubahan terbesar dalam hidupku. Kesan pertama yang kudapat darinya, judes,lantaran dia jarang tersenyum. Lalu, ketika pertama kalinya mahasiswi-mahasiswi sastra prancis keluar untuk makan bersama dan tiba-tiba ban motorku bocor , disitulah terlihat tanda-tanda bahwa dia akan menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupku.
Nadia Aviani namanya. Percakapanku dengannya, masih sangat melekat di otakku.
"Wah, bocor ini. Sini motormu tak tuntun"
Untuk ukuran pendatang sepertiku, dia kuanggap malaikat penyelamat. Aku, yang lebih mengedepankan kepanikan dibanding penyelesaian masalah, jadi bengong menanggapi pertanyaan yang (terdengar) tulus itu. Apalagi dia tak menunggu jawabanku, melainkan langsung mengambil alih stang motor dari tanganku. Dituntunnya motorku sementara aku hanya bisa mengikutinya dari belakang (nggak tau diri banget yah?) .
Dari situlah, dan kemudian kejadian-kejadian serupa setelahnya, lambat laun aku menyadari bahwa dia memang tulus. Dia memang malaikat penyelamatku. Sifatnya yang cepat tanggap melengkapi diriku yang suka linglung.
Persahabatan kami mungkin tidak sama seperti hubungan pasangan sahabat lain dengan frekuensi bertemu tinggi. Kami, karena disibukkan dengan urusan masing-masing,bisa sampai 3 minggu lose contact. Tapi,seperti pepatah, "Sejauh Air mengalir, akhirnya jatuh ke pelimbahan juga" (maaf kalau salah, hmm) "Sejauh Dinda pergi, akhirnya jatuh ke Nadia juga".
Begitulah, walaupun sudah lama tak mengobrol (kami sama-sama tak begitu bisa menikmati obrolan via sms), setiap kesempatanku untuk bersam adia benar-benar merupakan "quality time".Waktu yang kuhabiskan dengannya dilakukan dengan banyak hal. Sambil masa kmakanan favorit (spaghetti bolognaise àla Madame Coffee, crèpes) atau mengemiltakoyaki, kami mengobrol mengenai banyak hal, berdiskusi, membayangkan hal yanganeh-aneh, tertawa, menangis.. dan itu membuat saya jauh lebih rileks. Setelahmengobrol dengan Nadia, ibaratnya, saya siap kembali ke medan perang.
Hal yang paling kusuka darinya, dia tak pernah berprasangka padaku. Kami bisa dibilang tak pernah salah paham mengenai sesuatu. Dia selalumenjaga perasaanku (okay, I started to cry now). Pertengkaran pertama (mungkin satu-satunya)kami, adalah perdebatan mengenai keputusan golput saat Pemilu tahun lalu. Eh, ada lagi, saat Tragedi Sari Eco =p...
Kami jarang bertengkar.Mungkin benar teori, semakin jarang frekuensi bertemu, semakin minim potensikonflik. Selain itu, rumah Nadia, bisa dibilang tempatku mengasingkan diri. Mungkinsebulan sekali aku menginap di tempatnya. Keluarganya sampai hafal padaku(walaupun setiap kedatangaku, Eyangnya selalu memasang mimik mata menyipit dengan ucapan , « Kamusiapa ?? »). Pokoknya, kalau saya tiba-tiba tak bisa dihubungi,kemungkinan besar saya berada di rumah Nadia, dan ponsel saya mati karena sayaingin menginap tiba-tiba tanpa persiapan. Mengerjakan tugas juga sering menjad ialibi untuk menginap di rumahnya.
Hmm.. kini, 3tahun berlalu, Nadia menjadi wanita baru.Ahmad Ubaidillah, pria terbaik didatangkan dari Allah untuknya. (okay,cry again) Aku sedikit menyesal tak bisa hadir untuk mempersiapkan pernikahan sahabatku sendiri. Tapi, aku yakin saat melihatnya di pelaminan, bahwa aku merelakannya di tangan pria yang tepat . (sebenarnya merelakan bukan kosakatayang pas, mengingat Nadia mengenal Mas Ujo lebih dulu daripada aku, tapi ya sudahlah, mataku terlanjur basah dan kepalaku sudah pening karena menangis).Dari keterbatasanku yang sedang KKN, kado pernikahan (sekaligus milad) kusampaikan lewat tulisan ini. Aku hanya bisa berdoa pada Allah, semoga pernikahanmu selalu diberi keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, perlindungan, rezeki, serta seluruh keluargamu menjadi penghuni surga Allah.
Beberapa hariyang lalu adalah hari jadimu. 21 usiamu. Aku mungkin tak bisa lagi sepertitahun lalu, seenaknya mengunjungi rumahmu pukul 6 dengan membawa sponge cake untuk memberi ucapan selamatulang tahun. Inilah persembahan dariku, sebuah tulisan tribute to pertamaku, di tengah-tengah keadaan yang tidakmemungkinkan kita untuk bertemu.
Nadia, For Your Information,
I do love you.miss youtoo much.
XOXO
24/08/2010
now she's waiting for her first baby boy..yaaayyy
Nadia Aviani namanya. Percakapanku dengannya, masih sangat melekat di otakku.
"Wah, bocor ini. Sini motormu tak tuntun"
Untuk ukuran pendatang sepertiku, dia kuanggap malaikat penyelamat. Aku, yang lebih mengedepankan kepanikan dibanding penyelesaian masalah, jadi bengong menanggapi pertanyaan yang (terdengar) tulus itu. Apalagi dia tak menunggu jawabanku, melainkan langsung mengambil alih stang motor dari tanganku. Dituntunnya motorku sementara aku hanya bisa mengikutinya dari belakang (nggak tau diri banget yah?) .
Dari situlah, dan kemudian kejadian-kejadian serupa setelahnya, lambat laun aku menyadari bahwa dia memang tulus. Dia memang malaikat penyelamatku. Sifatnya yang cepat tanggap melengkapi diriku yang suka linglung.
Persahabatan kami mungkin tidak sama seperti hubungan pasangan sahabat lain dengan frekuensi bertemu tinggi. Kami, karena disibukkan dengan urusan masing-masing,bisa sampai 3 minggu lose contact. Tapi,seperti pepatah, "Sejauh Air mengalir, akhirnya jatuh ke pelimbahan juga" (maaf kalau salah, hmm) "Sejauh Dinda pergi, akhirnya jatuh ke Nadia juga".
Begitulah, walaupun sudah lama tak mengobrol (kami sama-sama tak begitu bisa menikmati obrolan via sms), setiap kesempatanku untuk bersam adia benar-benar merupakan "quality time".Waktu yang kuhabiskan dengannya dilakukan dengan banyak hal. Sambil masa kmakanan favorit (spaghetti bolognaise àla Madame Coffee, crèpes) atau mengemiltakoyaki, kami mengobrol mengenai banyak hal, berdiskusi, membayangkan hal yanganeh-aneh, tertawa, menangis.. dan itu membuat saya jauh lebih rileks. Setelahmengobrol dengan Nadia, ibaratnya, saya siap kembali ke medan perang.
Hal yang paling kusuka darinya, dia tak pernah berprasangka padaku. Kami bisa dibilang tak pernah salah paham mengenai sesuatu. Dia selalumenjaga perasaanku (okay, I started to cry now). Pertengkaran pertama (mungkin satu-satunya)kami, adalah perdebatan mengenai keputusan golput saat Pemilu tahun lalu. Eh, ada lagi, saat Tragedi Sari Eco =p...
Kami jarang bertengkar.Mungkin benar teori, semakin jarang frekuensi bertemu, semakin minim potensikonflik. Selain itu, rumah Nadia, bisa dibilang tempatku mengasingkan diri. Mungkinsebulan sekali aku menginap di tempatnya. Keluarganya sampai hafal padaku(walaupun setiap kedatangaku, Eyangnya
Hmm.. kini, 3tahun berlalu, Nadia menjadi wanita baru.Ahmad Ubaidillah, pria terbaik didatangkan dari Allah untuknya. (okay,cry again) Aku sedikit menyesal tak bisa hadir untuk mempersiapkan pernikahan sahabatku sendiri. Tapi, aku yakin saat melihatnya di pelaminan, bahwa aku merelakannya di tangan pria yang tepat . (sebenarnya merelakan bukan kosakatayang pas, mengingat Nadia mengenal Mas Ujo lebih dulu daripada aku, tapi ya sudahlah, mataku terlanjur basah dan kepalaku sudah pening karena menangis).Dari keterbatasanku yang sedang KKN, kado pernikahan (sekaligus milad) kusampaikan lewat tulisan ini. Aku hanya bisa berdoa pada Allah, semoga pernikahanmu selalu diberi keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, perlindungan, rezeki, serta seluruh keluargamu menjadi penghuni surga Allah.
Beberapa hariyang lalu adalah hari jadimu. 21 usiamu. Aku mungkin tak bisa lagi sepertitahun lalu, seenaknya mengunjungi rumahmu pukul 6 dengan membawa sponge cake untuk memberi ucapan selamatulang tahun. Inilah persembahan dariku, sebuah tulisan tribute to pertamaku, di tengah-tengah keadaan yang tidakmemungkinkan kita untuk bertemu.
Nadia, For Your Information,
I do love you.miss youtoo much.
XOXO
24/08/2010
now she's waiting for her first baby boy..yaaayyy