Tragedi Maskara Waterproof

Kalau memang nantinya menikah sama orang non muslim, ya nggak papa kan Mbak? itu kan termasuk takdir Allah. Kalau ada cewek 'kecelakaan' sampai hamil duluan, itu takdir juga kan?

Lidahku kelu. Mulutku berbusa. Ususku terburai.
Oke, dua kalimat terakhir bohong. (ngikut2 gaya komedinya Raditya Dika)

Pertanyaan ini terucap dari mulut salah satu dari mereka. Mereka yang kusebut adik-adik ketemu gede c: Sudah sering pertanyaan serupa terlontar dari mulut mereka. bagi sebagian orang memang terdengar sepele. Namun, tidak bagi saya. Kenapa sulit? Itu karena, sebenarnya saya mengalami/berpikir sama dengan apa yang mereka tanyakan.

Sebagai contoh
1. Mbak, apa hukumnya menyambung rambut? Trus apakah boleh pake maskara waterproof ?
jengjengjeeng..gampang kan pertanyaannya? tinggal googling atau ngintip buku fiqh wanita dalilnya. Tapi masalahnya adalah, SAYA JUGA MASIH SUKA PAKE MASKARA WATERPROOF dengan merk oriflame (kemakan rayuan katalog-red). saya teringat suka pakai maskara itu pagi-pagi sebelum memulai aktivitas, dan suka tidak ingat saat wudhu buat sholat dzuhur siangnya.
Sambil senyum-senyum pait, saya jawab aja dengan pertanyaan lagi, "Kan kalo waterproof berarti kedap air, nah, bulu mata termasuk anggota wudhu bukan?"

gambar barang bukti

gambar barang bukti yang ingin dibeli. (ga penting)




pertanyaan kedua,
2. Mbak, boleh nggak sih ngobrol di kamar mandi? boleh nggak berlama-lama di kamar mandi?
-dalil pertanyaan pertama "Apabila dua orang buang hajat, maka hendaklah keduanya saling menutup auratnya dari yang lain dan janganlah keduanya saling berbincang-bincang. Sesungguhnya Allah sangat murka dengan perbuatan tersebut.(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)"
Pertanyaan kedua kujawab, Ya jangan dek, kan WC sarangnya setan. Lama gara-gara banyak ngelamun tuh. Ati-ati loh, angan-angan kosong itu datangnya dari setan.
Lagi-Lagi, oh-my-God..padahal berlama-lama di kamar mandi itu AKU BANGET. walaupun bukan gara-gara kebanyakan merenung melamun. Tapi kan tetap aja lamanya..

Kemudian, jawaban di awal tulisan tentang takdir itupun sempat membuat tergagap-gagap jawabnya..Akhirnya kujawab dengan pertanyaan lagi, 'Tapi sebelumnya itu cewek punya pilihan untuk melakukan zina atau nggak kan?'

Si adek tampaknya kurang puas dengan jawaban saya "iya sih, tapi kan.."

Huff, memang gampang-gampang susah menjawab pertanyaan semacam itu. Harus pandai ngeles dan menjawab semudah mungkin untuk dicerna. Jika kita tidak pandai mengatur strategi jawaban, salah-salah mereka akan 'mundur teratur'.

Tapi inilah hal yang paling membuat semangat. Pertanyaan-pertanyaan lugu plus kritis inilah yang menjaga saya tetap semangat mengumpulkan mereka dalam sebuah forum ta'lim. Sulit mencari kenikmatan itu, kenikmatan menatap sinar-sinar antusiasme dari mata mereka. Ada yang bilang, forum seperti ini adalah jebakan sebenarnya. Tapi jebakan menuju kebaikan. Menaklukkan hati-hati mereka lebih penting dari penyampaian materi tentang ajaran Islam sesungguhnya. Hal ini sangat penting untuk mengimbangi dampak propaganda media tentang 'aliran-aliran sesat'.

Bahkan ada media yang jelas-jelas bilang "hati-hati jika ada yang bilang, Yuk, Ngaji. Karena itu adalah awalan aliran tersebut menggaet pengikut"
Haduh, pengajian yang benar dan sesat susah banget dibedainnya jaman sekarang.

Propaganda media yang gencar itu, lagi-lagi, punya dua sisi mata uang. Pertama, pemberitaan itu itu bisa berdampak positif manakala orang-orang semakin terpacu untuk mencari tahu, mana yang benar, mana yang sesat. Tapi, dampak jeleknya, malah membuat orang semakin apatis sehingga antipati dengan hal-hal berbau kajian, dakwah, apalagi jihad. Itulah sebabnya Asistensi Agama Islam hadir. Untuk menanamkan kebenaran tentang Islam, sehingga memberi pilihan yang lebih luas kepada muslimin-muslimah di luar sana. Yang belum begitu paham esensi Islam.

Kalau tidak memikirkan niat sevisioner itu, pasti sudah lama saya off ngisi pengajian. Bayangkan aja, setiap minggu saya harus sms untuk mengkonfirmasi jadwal. Mereka susah sekali dikumpulkan karena sibuknya. Tapi agaknya, terlalu banyak kesenagna-kesenagan lain yang membuat pengorbanan itu terbayar. Saat salah satu dari mereka bilang "Aku sampe nggak sabar nunggu hari Jum'at! Kangen ngaji" atau saat mata mereka berkaca-kaca saat mencurahkan perasaannya. (bukan air mata tertekan, tapi dia juga mempercayakan kami untuk berbagi masalah pribadinya =p)

Selebihnya, aku merasa malah aku yang dibina sebenarnya. Secara tidak langsung akhlakku (dipaksa harus) terjaga, begitu pula ibadahku. Aku sempat takut karena merasa belum bisa melakukan seperti yang kusampaikan kepada mereka, aku terpikir lagi, lalu kapan lagi aku bisa berdakwah? apa saat aku sudah sempurna? harus nunggu berapa puluh tahun nunggu aku sempurna? bukankah waktu akan terbuang selama menunggu kesempatan itu?

Tarbiyah adalah tentang menyampaikan kebaikan, dan perlahan-perlahan, jika memang semangat kita tinggi untuk memperbaiki diri, apa yang kita ucapkan lambat laun akan mengubah diri secara otomatis. (itu kalau kita mempunyai tingkatan malu yang cukup ya untuk konsisten pada ucapan sendiri)


-yang cinta mereka karena Allah..