Siksaan itu Bernama Sawi


Tidak ada hal yang paling membuat saya merasa begini, selain skripsi.
Serius, maksudnya,
saya berusaha agar bisa enjoy..tapi mengapa rasanya benar-benar sulit?

Sebentar, sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin mengganti dulu istilah skripsi.
Enaknya diganti apa ya?
Pare? Karena dia pahit. Dan itu adalah sayuran yang paling saya benci.
Kenapa harus nama sayuran? Tidak tahu. Pokoknya harus makanan.
Tapi sebentar, nanti kalau pahit beneran bagaimana?
Oke, berarti harus yang manis. Apa sayuran manis? wortel? itu juga sayuran yang tidak terlalu enak menurut saya. Baiklah, sudah kuputuskan.

SAWI

ya! itu yang paling cocok. Jangan tanya apa filosofinya. Hanya ada dua alasan.
1. Sawi dan skripsi sama-sama dimulai dengan huruf S
2. Sawi sayuran favorit saya. (jadi semoga pikiran bawah sadar saya lama-kelamaan akan mendekonstruksi konsep skripsi sama lezatnya dengan Sawi)

Sawi itu...
Adalah beban yang tidak tahu diri.
-itu karena, di transkrip nilai nanti, dia hanya akan berupa tulisan kecil diantara deretan mata kuliah-mata kuliah lain. Dengan jumlah sks yang hanya terbilang selisih kecil dengan mata kuliah lain, namun dengan USAHA mendapatkannya yang lebih, JAUHLEBIH BESAR!!

Sawi itu
Adalah teroris
-itu karena, kita tidak pernah bisa memprediksikan apa komentar Dosen Pembimbing Sawi, Dan tidak mengerti mengapa komentar dia sebegitu besarnya, membuat down atau malah membuat optimis.

Dia teror karena waktu siksaannya tidak bisa dihentikan. dia berhenti meneror hanya ketika kita memberikan perhatian lebih padanya. Jadi bisa disimpulkan, skripsi itu teror, sekaligus penggemar fanatik kita. (haduuuuhh, jadi keingetan seseorang yang dramatis sekaligus mengerikan..)

Sawi itu, merupakan 'pengundang' penderitaan.
Karena, tidak tahu mengapa, tiba-tiba saat skripsi ada banyak godaan? Sudah niat-niat, ternyata kepikiran " Haduh, koq tiba-tiba pengen ngepel-ngepel kamar, Haduh, kayaknya baju itu kencingnya copot, jahit dulu mumpung inget, haduh, pengen telpon Indri udah lama gak denger kabarnya, haduh, pengen ini, pengen itu..

Sampai akhirnya saya sadar,,
itu adalah mekanisme yang datang dari dalam diri sendiri, untuk sebisa mungkin menghindari hal yang kita benci. Menghindari apa, ya menghindari sawi!!

Sawi itu, jagonya membuat perasaan bersalah karena
-saat mengerjakannya, kita menjadi muak. dan ingin segera berhenti
-saat meninggalkannya, kita merasa bersalah karena kenapa tidak memakai waktu untuk mengerjakan sawi? (oke, sekarang kok malah berasa kayak petani?)

Sawi itu...
Membuat saya merasa bersalah karena, bukannya mengerjakannya, saya malah posting blog!


Haduh, saya mengeluh terus......
ya Allah, aku tidak meminta ya muluk-muluk..
aku hanya minta, buatlah aku mencintai Sawi!!!!

setelah aku mencintainya sepenuh hati, aku yakin semua akan menjadi oke...
Bagaimana cara mencintai sawi???!!!

AAAAA...huahuahuaaaaa