Cerita ini berawal dari awal tahun 2011, pas ada teman ngabarin tentang lowongan menjadi surveyor di sebuah LSM. Aku yang memang suka hal-hal baru (halah padahal mau ngehindarin skripsi), akhirnya tertarik buat mencoba, dan akhirnya diterima. (alhamdulillaah..ehehe)
Sudah sekitar 4 kali proyek di mana aku terlibat didalamnya. Dan memberiku sangaat banyak pelajaran..Pengalaman-pengalaman selama menyurvey sudah kuringkas menjadi beberapa poin,here it is
1. Diperlakukan seperti sales
Sebenarnya, saat pertama kali try out survey, aku dapat responden yang keren. Definisi responden keren adalah: yang tahu persis apa yang dibicarakan beserta jawaban-jawaban yang dibuatnya. Mungkin itu yang orang sebut sebagai keberuntungan pemula. Tapi keberuntungan itu tidak bertahan lama. Di percobaan kedua, aku ditolak matang-matang (kan kalo mentah-mentah=frontal)nah, aku diusir secara halus. Sebelum aku masuk, aku sempat melihat orang lalu lalang di di ruang televisi (karena pintunya udah kebuka). Setelah mencapai pintu, tiba-tiba aku mendengar pintu tertutup. Arrgghh, ternyata mereka buru-buru masuk kamar dan menutup pintunya. Dan ini bukan asumsi berlebihan. Karena TV di ruang depan masih menyala. Jadi, alasan apa lagi coba selain menghindari aku?? Tapi, aku nggak akan nyerah!! aku punya solusi! apa solusi itu? lihat poin berikutnya
2. Bokek karena beli dagangan responden
Karena pengalaman ditolak terus menerus itulah, akhirnya aku mengganti strategi. Strategi ini aplikasinya untuk responden yang rumahnya dijadikan tempat usaha sekaligus. Responden saya selanjutnya yaitu penjual pulsa. Nah, tapi bukan berbentuk counter gitu usahanya. Hanya rumah biasa, terus ada banner berisikan list harga pulsa. Akhirnya kuketuk pintunya, dan saat ada orang yang membukanya dan bertanya "Mau apa mbak?", dengan muka sok innocent-tanpa-dosa kujawab, "Mau isi pulsa mbak"...setelah bayar pulsa dll...baru deh aku melancarkan serangan, "jadi gini mbak, saya dari LSM sedang...bla,bla,bla.."
Wakakak...tapi belakangan strategi ini tidak lagi terlalu urgen untuk diaplikasikan. Alasan utama: membuat bokek. Walaupun saya selalu membeli barang termurah dan selalu beli yang memang berguna sih, seperti beli bensin eceran atau makanan ringan. Untungnya saya sudah bisa menyurvey tanpa harus "menyuap" responden seperti itu lagi. Nggak kebayang deh, ada juga responden yang punya usaha Distro..masak aku harus beli boxer dulu?? (secara yang paling murah)
3. Diperlakukan seperti cucu sendiri
Nah, ada kalanya juga (sering sih kalo dipikir-pikir) aku bertemu orang-orang yang sangaat baik. Saat itu aku dapat jatah di Kelurahan Panembahan, Kraton dan mendapat surveyor seorang nenek-nenek. Proses menyurvey lumayan lancar. Dan kebetulan saat berada di rumahnya, adzan dhuhur dikumandangkan. Jadilah saya meminta izin untuk sholat di rumahnya. Dia langsung mempersilahkan diriku, sembari menawariku,
"Nduk, Kalau Mbah kasih kopi susu mau nggak?" dengan sikap malu-malu harimau, tawaran itu kuiyakan.Usai sholat, aku diajaknya minum kopi susu (which is, ehem, ternyata susunya adalah Anlene Gold..ahaha, uhuk,uhuk) sembari berkeliling mengitari rumah dan bercerita tentang hidupnya. Dari ceritanya, aku tahu baru beliau tinggal sendirian setelah ditinggal meninggal anak dan suaminya. Hanya cucunya yang kadang menemaninya. Dan tiba-tiba beliau bilang,
"Coba ya nduk kalau UGM deket, kan kamu bisa tinggal di sini aja nemenin Mbah. Sebenarnya udah banyak anak-anak muda yang pengen ngekos di sini, tapi mbah nggak mau karena takut, mereka kan orang asing" Aku tak banyak bicara untuk menjawab si Mbah. Cuma bisa bergumam dalam hati, "Huahuaa..si Mbah telah berhasil kuperdaya!!Ni cuma tampang doang yang polos Mbah,wekekek.."
Cerita mbah bikin aku merenung banyak. Ya Allah, bisa yah beliau tinggal sendirian..Beliau hanya mengandalkan keyakinan bahwa Engkau yang selalu ada untuk melindunginya, yang menjadi sumber kekuatannya bertahan hidup.. Lindungi dia selalu Ya Allah.. sebenernya aku kayaknya sempet bilang mau ke sana lagi..tapi aku nggak yakin masih inget di mana alamat rumahnya.. (hahahaa..kebiasaan buruk)
5. Kenikmatan sholat
Nah, saat menjadi surveyor inilah yang membuatku sangaaat menikmati waktu sholat. Pada hakikatnya, memang sholat itu sebagai sarana beristirahat. Tapi baru sekarang aku merasakan senikmat ini..Saat seharian sudah mengejar deadline survey, adzan adalah saat yang kutunggu-tunggu..karena inilah alasan paling syar'i utnuk sejenak menghentikan kegiatan survey..Terasa enak banget ruku' setelah seharian duduk dan nyetir motor..apalagi pas sujud..Subhanallah :))
Wah, aku merasa sangat bersyukur mendapat kesempatan menjadi surveyor..walaupun nggak bisa dipungkiri kalau bikin capek bangeet..tapi rasanya seneng, apalagi kalo udah, payday, payday :D
Dari semua pengalamanku cari duit sendiri (translator, interpreter, surveyor) kayaknya ini adalah hal yang paling kusuka..Tapi masih mikir banget kalo dijadiin profesi tetap..
