Obrol-obrol tentang Nangka



Sebenernya malas, tapi ingin. Malas membahas hal kayak gini, tapi keinginan menuliskannya tak bisa terbendung lagi sepertinya. Baiklah, masih dalam rangka galau gara-gara Sawi , akhirnya saya memutuskan menulis dengan tema Nangka. Nangka tak lain merupakan istilah dari Nikah. (tuh kan nulisinnya aja udah males, jadi kayak biasa deh, pake istilah yang dicomot dari nama makanan. Kenapa nangka, karena saya masih idealis, jadi pilihannya ke buah, which is the healthy choice). *supernggakpenting)

Saya bukannya alergi dengan Nangka. Saya akan menangka suatu saat. Namun saya belum tahu kapan, karena menangka sangat tidak mudah. Saya sudah melihat sendiri beberapa model pernangkaan dan, jujur saya, sedikit membuat jadi antipati. Antipati karena ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Hal inilah pula yang sekarang menjadi pelajaran bagi saya untuk melihat kadar kesiapan diri sendiri. Dari pemikira-pemikiran yang selama ini saya lakukan, saya merumuskan sebuah teori,
Kadar kesiapan untuk menangka diukur dari bayangan kita mengenai proses setelah pernangkaan itu sendiri

Jujur sih, pas awal-awal berpikir tentang nangka, hal pertama yang saya pikirkan adalah wah, pokoknya kalo udah punya anak, aku pengen punya kereta bayi yang model gini!.. tuh kan, bisa dilihat kesiapan saya waktu itu sebatas MENCARI MODEL KERETA BAYI. Lalu, bagaimana dengan sekarang. Lebih dewasa dong, karena mikirnya wah, pokoknya kalo punya anak perempuan mau dikasih nama ini! (sambil baca shiroh shahabiyah) Tuh, udah lebih dewasa kan? ;)

Nah, contoh pemikiran yang sudah dewasa beneran (sebagai bukti pelengkap teori saya) adalah pemikiran dari sahabat saya, Nadia. Sebelum menikah ia berpikir, bagaimana pola pendidikan terbaik buat anakku nanti yah? ini jelas datang dari pemikiran yang lebih matang, karena hal yang dipikirkan itu rencana jangka panjang. Bukan sekadar 'pernak-pernik' seperti kereta bayi dan nama anak perempuan. Cape dehh..

(walaupun banyak yang sepertinya menyesali kenapa dia tidak memilih untuk menyelesaikan kuliah terlebih dahulu-termasuk dia sendiri- namun aku tahu bahwa dia sebenarnya mampu :))

Kini, saya benar-benar 'dipaksa' untuk menjadi dewasa. Tidak boleh lagi ada pemikiran sedangkal itu. Jadi, pada kesempatan kali ini saya akan merangkum beberapa suplemen tentang pernangkaan ideal yang disaring dari berbagai sumber. Ingat, pembahasan di bawah ini bukan saya yang buat. Jadi insya Allah nggak banyak ngaconya. Komentar pribadi saya akan ditandai dengan huruf tebal okeh, cekidot

I. Luruskan Niat! Motivasi, Tujuan, Pusat Perhatian Berkeluarga
*disarikan dari kajian KRPH nama ustadznya lupa,,hehe
Tujuan berkeluarga adalah membangun keluarga Samara serta melahirkan pribadi da'iyah ( da'i bukan berarti penceramah, namun pribadi yang senantiasa bergerak ke arah yang lebih baik. Untuk saat ini dan masa depan.
Motivasinya haruslah untuk beribadah, menjaga kesucian, merealisasikan Maratib Al-a'mal dalam dakwah yaitu Takwin Al Bait Al Muslim (angguk-angguk sok paham)
Pusat Perhatiannya yaitu: Peningkatan kualitas Ruhiyah, fikriyah, nafsiyah, jasadiyah dan bersosialisasi.

II. Kapan Siap Menangka?
Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dulu saya akan memaparkan Hakikat Cinta (hoek,hoek,, udah kayak judul lagu dangdut, atau judul novel menyeh-menyeh)

apakah menangka dilakukan saat kita telah jatuh cinta?
Baiklah, ini yang mungkin rada krusial. Sebenarnya apa sih hakikat cinta? Okeh, kita akan memulai sebuah pembahasan tentang hal paling aneh di dunia, Cinta (perlu direname juga gak yah ini?)
Bagaimana sih, cara mencintai seseorang? Kata Ustadz Syatori di kajian DS setiap Kamis-Sabtu, cara mencintai yang terbaik adalah secara Benar dan Jujur. Definisi benar dan jujur adalah mencintai yang menjadi hak kita. Yaitu berusaha agar sesuatu/seseorang yang kita cintai, bisa menjadi jalan surga bagi kita. Nah, jika kita mencintai sesuatu/seseorang yang bukan hak kita, tak ada cara lain kecuali BERPALING darinya. Inilah cara mencintai yang bukan hak kita dengan cara benar dan jujur. Kriteria yang hak ataupun tidak itu sendiri, bisa dilihat dalam skala prioritas mencintai di QS At-Taubah: 24. (I know exactly how difficult to apply it

Tanda-tanda siap Menangka
Oke, jika kita merasa sudah ingin membuat yang belum hak itu menjadi hak, terlebih dulu kita harus mengukur kesiapan diri sendiri.
Tausiah mengenai Tanda-tanda siap menangka ini saya dapat masih dari Ustadz Syatori, namun di Kajian Tafsir QS An-Nuur 33 di Masjid Nurul Ashri (yang ada kolam ikan koi segede bagong).

Saat ustadz tersebut memulai pembahasan tentang tanda-tanda ini, pikiran pertama yang muncul di kepala saya adalah, sudah selesai dengan diri sendiri Ya, tanda-tanda siap menangka adalah ketika kita sudah 'selesai' dengan diri sendiri. Apakah sudah disiplin beribadah? Apakah sudah berhasil mengelola waktu? Apakah kita sudah menunaikan hak-hak diri sendiri sekaligus orang lain? Namun ternyata bukan itu tanda-tandanya menurut Ustadz Syatori. Menurut beliau, menangkalah saat kaki hidup kita sudah menginjak puncak ruhaniyahnya.. hmm, berat nih nah, ayo kita bercermin, apakah sudah termasuk dalam ciri berada di puncak ruhaniyah sebagai berikut??

-Tidak silau oleh gemerlap kesenangan dunia.
Kesenangan dunia adalah segala hal yang membuat kita senang, tapi tidak memberi manfaat untuk hidup sesudah mati.
contoh: pada laki-laki: kalau matanya masih jelalatan liat cewek, berarti dia belum siap menikah. Atau contoh favorit Ust. Syatori: Nonton pertandingan sepakbola. Renungkan, apakah lapangnya lapangan sepakbola bisa membuat kuburan kita lapang pula? MJJ kalau rumah tangga tidak silau dengan gemerlap dunia, maka akan mendapatkan Sakinah yaitu ketenangan, ketenangan karena tidak mudah terusik oleh persoalan-persoalan duniawi.

-Memandang peristiwa apapun sebagai hamparan jalan lurus menuju Surga, sehingga memperoleh Mawaddah yaitu memandang pasangan kita sebagai yang paling cocok dan membuat hidup ini penuh warna.

-Selalu ingin memberi yang terbaik untuk orang lain, sehingga memperoleh Rahmah mengasihi tanpa berharap dikasihi

...

Hmm..that's all..
mungkin ini postingan saya yang paling geje..sebenarnya kalau di kerangka tulisan, seharusnya ada pembahasan tentang kriteria, dll. Tapi lama-lama saya malas sendiri. Karena di dalam hati sepertinya ada yang ribut-ribut, "Ngapain sih mikirin nangka? pikirin yang lain kan masih banyak"



Link gambar di sini