Bahasa berperan tak sekadar sebagai alat komunikasi. Selama ini kita tidak menyadari, bahasa memudahkan dalam mencapai satu tujuan. Tujuan itulah yang memberikan alasan untuk mempelajari sebuah bahasa. Tujuan itu pula yang membuat kita menggunakan bahasa yang berbeda pada orang tertentu. Inilah Politik Bahasa
Kenapa politik bahasa? Karena dalam setiap berbahasa, baik diksi maupun struktur, selalu ada maksud yang senantiasa menyertainya. Contoh paling mudah, kelas bahasa dalam masyarakat Jawa. Kromo Inggil, Kromo Alus, Ngoko Alus, Ngoko Inggil.. (emang ada gitu, ngoko Inggil? yang ini ga yakin deh). Level bahasa seperti ini adalah salah satu cara untuk memudahkan kita agar dimurahkan saat belanja di Malioboro. Dengan memakai bahasa Jawa, penjual disana akan menganggap kita sebagai penduduk asli.
¬¬¬
Lebih daripada kepentingan konsumtif semacam itu, Kuliah Morfologi dan Fonologi beberapa minggu lalu memaksa saya untuk berpikir tentang pentingnya kita mempertahankan keaslian bahasa Indonesia. Bukan hanya dalam konteks “benar” yaitu dalam ejaan, ataupun “baik” dalam hal penempatan, tetapi juga mengusahakan pemilihan kosakata bahasa Indonesia asli.
Sebagaimana kita tahu, akibat pesatnya perkembangan teknologi yang hadir dari negara-negara Barat membuat kosakata bahasa Inggris berkembang pesat. Sebagian telah diadaptasi menjadi kata serapan (contoh : system=sistem ; generation : generasi) sementara sebagian lain telah dibahasa-indonesiakan secara 'brutal' ¬¬(appology=apologi).
Dalam hal ini kita bisa bercermin pada negara jiran, Malaysia yang telah memiliki Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), yaitu lembaga yang memiliki wewenang untuk mengkonversi (Gosh! Convert=konversi) istilah-istilah bahasa asing untuk dibahasa-malaysiakan. Produk dari DBP yaitu kamus yang tidak hanya deskriptif, melainkan juga preskriptif karena merupakan hasil usaha untuk mengakomodasi tantangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Walaupun jadi terdengar lucu bagi telinga orang Indonesia (cth: WC diubah menjadi tandas, cellular phone jadi Talipon Bimbit, Joystick jadi batang senang, hahahahahahaaaaaaa) tetapi setidaknya ada usaha dari pemerintah untuk memberikan perhatian pada bahasa asli.
Sebuah ironi, Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pemersatu setelah sekitar 700 bahasa daerah di Indonesia terancam musnah dimakan zaman. Pemerintah harus sadar, urgensi lembaga bahasa tak ubahnya Komisi Pemberantasan Korupsi (tetep, BEM KMnya,,). Melestarikan bahasa tak kalah penting dibanding pemberantasan korupsi, penanggulangan kemiskinan, peningkatan kesehatan dan penguatan ekonomi.
Setelah dikonversi, kata-kata yang telah dibahasa-indonesiakan tersebut juga mutlak untuk disosialisasikan. Jangan seperti nasib kata ‘sangkil’ sebagai pengganti kata efektif dan ‘mangkus’ sebagai pengganti kata efisien yang kemudian punah lagi karena tak dipublikasikan secara besar-besaran. Peran dari media cetak maupun elektronik sangat penting untuk menyosialisasikan bahasa Indonesia hasil konversi. Begitu pula kata-kata presiden dalam pidato kenegaraan. Semua itu tentunya bisa mempengaruhi penggunaan bahasa dalam masyarakat sehingga kosakata bahasa Indonesia bisa terjaga.
Kata-kata bahasa Indonesia hasil konversi yang harus kita pertahankan keberadaannya antara lain ‘sucihama’ sebagai pengganti steril ; ‘unduh’ sebagai pengganti download; ‘unggah’ sebagai pengganti upload, ‘tautan’ sebagai pengganti link, ‘borang’ sebagai pengganti formulir, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, munafik rasanya jika tetap mempertahankan keberpihakan kepada bahasa daerah sementara diri jarang menggunakan bahasa daerah sendiri, Tegal. Bukan, bukan karena malu seperti yang dikatakan Ahmad Tohari. Saya bangga dengan bahasa Tegal. Saya bangga dilahirkan di Tegal. Semua hanyalah masalah stereotip.
Saat pertama kali memperkenalkan diri di depan teman-teman kuliah, begitu mereka tahu saya berasal dari Tegal, mereka langsung menyuruh saya berbicara dengan logat Tegal. Saya menyetujuinya, yang secara otomatis membuat orang satu ruangan tertawa. Saya pikir, menggunakan logat Tegal pada seseorang pada saat perkenalan dengan sendirinya akan mengenyampingkan kualitas-kualitas lain yang ada pada diri saya. Orang akan lebih sibuk memikirkan stigma orang Tegal yang berlogat ngapak daripada melihat saya secara utuh.
Itulah sebuah jawaban-tak-terucapkan dari banyak pertanyaan serupa yang dilontarkan oleh teman-teman saya, kenapa cara bicara kamu tak berlogat ngapak
Akhirnya, semua kembali pada satu kesimpulan, sebuah pergulatan kepentingan yang dirumuskan dalam Politik Bahasa.
Politilingue..