Menemukan Kebahagiaan

Renungan Akhir Pekan #2-

Tips Bahagia


Kadang, atau malah seringkali kita dihinggapi perasaan inferior. Tidak percaya diri karena banyak kekurangan. Seringkali perasaan minder itu tidak masuk akal karena standar yang pakai bukan berdasarkan hal yang masuk akal, yaitu standar Tuhan. Fisik misalnya. Yang kedua, inferior karena memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang lain. Oke, akan kita mulai pembahasan tentang masalah ‘keminderan’ ini. Diawali dengan menganalisis penyebabnya. Penyebab adanya perasaan tidak percaya diri, bisa disebabkan oleh dua hal. Eksternal dan Internal. Dimulai dari pihak eksternal. Contohnya, ada orang lain yang mengkritik kita. Bilang kalau kita tidak cantik, dll. Nah, bagaimana mengatasi perasaan minder karena ada orang yang terang-terangan bilang begini ke kita? Reaksi pertama yang hadir tentu saja marah. Padahal, konon kritikan lebih bagus daripada pujian. Karena pujian mendorong kita untuk terlena.

Namun, kenyataannya tidak semudah itu menghadapi kritik. Kalau masalah fisik, kalau dibilang tidak cantik, ya sudah. Ada dua pilihannya, mencoba untuk berpenampilan, at least lebih bersih dan ‘cling’. Dan juga berlapang dada, karena toh malah kebetulan, berarti penampilan kita tidak mengundang decak kagum dari lawan jenis. Di awal-awal kekagetan, boleh juga untuk meng’adem2kan’ diri dengan menuduh si pengkritik adalah orang yang tidak beretika. Karena tidak ada gunanya menilai fisik seseorang. Malah bisa dibilang sangat bahaya karena membuat orang yang dikritik tidak bersyukur kepada apa yang diberikan Tuhan untuk dia. Kalau dari Internal, seringkali rasa sedih atau bahasa keren sekarang, Galau- datang dari rasa tidak bersyukur. Rasa tidak bersyukur kemungkinan besar disebabkan terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Inilah mengapa sebaiknya kita harus membatasi aktivitas kita di ruang social media.

 Aktivitas yang saya maksud adalah aktivitas melihat-lihat profil teman di dunia maya. Saya pernah mendengar riset yang menyatakan bahwa orang sedih sebaiknya tidak melihat facebook. Kenapa? Satu, karena bias saja ada status negative dari orang lain yang menyugesti seseorang itu untuk bersedih. Dua, Dengan melihat profil kehidupan orang lain, akan terbersit rasa rendah diri dan membandingkan dengan hidup orang lain yang lebih keren, hebat, seperti yang dia idam-idamkan. Jadi, alih-alih terhibur karena membuka social media, seseorang bisa tambah terpuruk karena membandingkan diri dengan model hidup ideal dari teman dunia maya. Nah, menilik dari berbagai penyebab inferioritas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada satu resep yang dapat ditempuh untuk mengatasinya.. yaitu... bersyukur..
“Bersyukur adalah cara abadi untuk menciptakan kebahagiaan. Dalam bersyukur, ada perasaan menenangkan bahwa kita telah dicukupkan,”
kata seorang teman facebook dalam statusnya (tuh kan facebook lagi  hehe)