Sebulan berganti dua bulan, berganti tiga bulan, dari awalnya percakapan tentang kantor, berubah menjadi lebih pribadi. (hahaha, gimana gitu kesannya) Dia kunilai sebagai sosok wanita materialistis, brand minded, tapi tunggu, di samping itu, dia juga gigih. Saya kini percaya, bahwa orang hebat cenderung tidak 'biasa' memang perilakunya. Mereka anti mainstream, tidak biasa. Dan itulah yang ada pada dirinya, dia memang menyebalkan, judes, indifference , tak acuh. Apalagi waktu itu memang saya juga sedang berada di kondisi awal kerja yang berat.
Sesudah mengenalnya lebih dalam, barulah saya perlahan melihat sisi hebat pada dirinya. Di balik jiwa materialistisnya, saya melihat bahwa dia adalah orang dengan sense bisnis yang kuat. Jadi, saya menyimpulkan bahwa obsesinya pada barang2 branded adalah sumber motivasi untuk bekerja keras. Dia ingin mandiri secara finansial demi memenuhi hasratnya pada barang branded. Tak bisa dipungkiri memang, sayapun termasuk orang yang suka memakai barang-barang branded. Ada kepuasan tersendiri saat membeli barang-barang itu. Namun saya tidak, (atau belum?) pada tahap terobsesi. Nah, menurut saya, 'dia' itu sudah pada tahap terobsesi. Namun, obsesi material itu diformulasikan menjadi sesuatu yang positif, yaitu dengan menjadikannya semangat untuk mengumpulkan 'ember-ember' rezeki yang lain.
Tentang ember ini, tercetus dari obrolanku dengannya. Sebut saja Seli (emang itu namanya beneran,hehe). Suatu hari kami berdiskusi masalah rezeki. Mencari sumber rezeki lain bukan berarti kita tidak mensyukuri rezeki yang ada. Bukan berarti karena yang sekarang tidak cukup. Hanya saja, sebagai karyawan, kita seakan-akan menutup aliran rezeki (rezeki dalam hal ini uang tentunya, mengingat ada banyak sekali bentuk rezeki) hanya pada saat tanggal gajian saja. Itulah mengapa, kata Mbak Seli, kita perlu menyediakan 'ember' lain, tempat aliran rezeki yang lain bisa datang. Hal ini memang sinkron dengan istilah, 'menjemput rezeki'. Rezeki setiap orang memang sudah ada, namun kita juga harus mengusahakannya.
Mba Seli sendiri, menciptakan ember dari jalan berjualan tas. Jiwa bisnis ini rupanya menular, jadilah sekantor (terutama karyawan wanita) beramai-ramai berbisnis. Mulai dari seprai, tupperware, kripik kentang, kue lebaran, baju, pulsa, dan sepatu. Beberapa memang mempunyai bakat bawaan bisnis. Seperti mbak Nining yang memulai usahanya pertama kali berjualan kerupuk saat SD. Dari semua orang yang berbisnis di kantor ini, saya bisa menyimpulkan bahwa, kita harus menjual barang yang kita suka. Seperti halnya Mbak Seli, misalnya, Mbak Sunis menjual tupperware hanya karena dia ingin membeli tupperware yang dia inginkan. Itulan kepuasan, yang orang sebut passion.
Lumayan sulit bagi saya untuk menemukan passion itu. Barang apa sih yang benar-benar suka? Barang apakah yang saya rela membayar orang lain untuk membuatnya? Konon hal itu merupakan pertanyaan-pertanyaan dasar dalam penentuan passion kita. Pertanyaan dasar lain adalah, hal apakah yang dengan memikirkannya saja, kita sudah merasa senang? Yang membuat kita rela menghabiskan waktu untuknya. (setelah dipikir-pikir, passion mirip dengan jodoh *ga penting*)
Akhirnya, melalui proses trial dan error serta perenungan panjang, saya sepakat untuk berkongsi/syirkah/joint venture/bersekutu bisnis dengan 3 orang teman kantor. Dan passion itupun bernama BROS. Begitu panjang, namun penuh kejutan saat akhirnya menemukan bahwa bros merupakan sebuah passion.
Saya sangat bersyukur diberi petunjuk ini oleh Allah.. Jalan ini sangat indah dan tidak disangka-sangka. Dan saya yakin walaupun keuntungan menjadi kecil karena harus dibagi 4. Ini bukan tentang keuntungan materiil. Berkongsi bisnis memungkinkan untuk saling menjaga semangat dan juga membuat stok barang menjadi aman, karena dibuat bersama-sama. Lagipula, saya yakin, InsyaAllah rezeki yang datangpun rezeki 4 orang.
Bismillah..

