Mari Evaluasi!


Terkadang kita terjebak pada keadaan bingung dan tak tentu arah. Terkesan berputar-putar pada masalah yang sama dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Saya teringat dalam salah satu forum saat kuliah dulu, di situ terdapat sebuah diskusi mengenai "Kiat Menghadapi Masalah". Jawabannya beraneka ragam. Dari mulai, mengemut permen, hingga tidur. Saya sendiri lupa apa jawaban saya dulu. Opsi tidur itu, bisa jadi rasional. Orang yang menjawab tidur sebagai salah satu pereda masalah, memanfaatkan tidur menjadi ajang untuk menjernihkan pikiran. Paling tidak setelah melewati satu waktu tidur, biasanya dia akan bangun dalam keadaan yang lebih bugar.

Saya merasakan hal yang sama. Terkadang tidur itu cukup untuk mengembalikan 'akal sehat' saya. Toh menurut penelitian yang pernah saya dengar, dalam tidur otak kita mengalami 'reorganisasi' dan 'rehabilitasi'. Nah, lalu bagaimana jika sudah tidur berpuluh-puluh kali tidak juga dapat menyelesaikan masalah? Jawaban lain yang dilontarkan oleh salah satu peserta cukup masuk akal. Katanya, "Coba direnungkan, apa yang menjadi niatan awal ketika masuk/terlibat dalam hal tersebut". Bisa jadi, mungkin kita kini telah melenceng dari niatan yang ada di awal. Kita mengharap lebih dari yang seharusnya. Keadaan telah memanjakan kita sehingga kita tidak lagi puas dengan apa yang dimiliki sekarang.

Yap! Kebahagiaan dan rasa syukur dekat sekali hubungannya. Mari evaluasi! ketika akhirnya saya memutuskan hal tersebut, dalam hal ini, Nangka, apa yang menjadi niatan awal saya akhirnya memutuskan bersegera? Utamanya karena saya tidak tenang atas dosa yang saya lakukan. Ada perasan bersalah yang melingkupi ketika saya terlalu dekat dengan 'dia'. Oke, kita kunci jawaban itu.

Sekarang ke pertanyaan lain? apakah benar cinta yang mendasari keputusan saya menikah? saya tidak bisa terlalu persis menjawab pertanyaan ini. Karena yang saya dengar dari luaran, cinta seharusnya tidak mengharap balas. Sementara saya melakukan hal tersebut. Saya mengharap balasan. Saya mengharap mendapat perlakuan yang sama seperti perlakuan saya padanya. Dan ketika saatnya dia tidak melakukan itu, saya marah. Ini cinta yang tidak sehat bukan? atau malah tidak layak disebut cinta?

Mari kita panggil ulang memori yang lama. Apa hal yang membuat saya berkesimpulan mencintai dia? apakah karena getaran (huek, males ngetiknya) yang terjadi setiap berkomunikasi. Hello, kayaknya itu memang reaksi wajar ketika kita menghadapi lawan jenis. Sudah merupakan fitrah manusia seperti itu. Jadi sepertinya, chemistry yang mungkin menjadi indikasi tanda-tanda saya disebut mencintai dapat dieliminasi.

Alasan kedua, dialah orang yang membuat saya merasa dihargai, selain orang tua, ketika orang lain saat itu hanya memandang saya sekilas dan tidak berarti. Baiklah. Benar ini alasan saya mencintainya? Oke, bisa dibilang benar juga. Namun sayangnya hal itu tidak lagi terjadi kini. Bisa juga karena waktu yang telah berubah, keadaan berubah. Saya takluk dengan perhatian yang dia berikan terus menerus. Belum lagi tekanan lain yang dia berikan.

Sekarang mungkin saya sudah mendapat jawabannya. Mungkin alasan saya akhirnya mau menangka dengannya, adalah karena perhatian-perhatiannya yang membuat saya merasa menjadi manusia yang lebih berarti. Itu kesimpulan yang masuk akal, menimbang sekarang mungkin ada tuntutan untuk diberi lebih banyak perhatian.

Nah, sekarang berarti kita sampai pada kesimpulan selanjutnya. Sekarang saya bisa menyimpulkan jika, hmm, mungkin niat saya telah melenceng. Saya merasa nangka tidak layak untuk saya jika inilah hal utama yang saya harapkan. Bukan cinta yang saya punya. Saya hanya punya ego. Saya hanya punya sifat menuntut. Saya memberi jika telah menerima. Saya merasa tidak pantas untuk sebuah ikatan sesuci
pernikahan.. Ya Allah...