Taatnya Istri pada Suami

Ketaatan pada suami merupakan salah satu kewajiban seorang istri. Terdengar menyiksa, ya? Setidaknya buat saya. Salah satu hal signifikan yang terjadi setelah menikah, adalah, hampir semua hal harus didiskusikan berdua. Semua hal dilakukan bersama. Dan pada saat perundingan keputusan itulah biasanya gesekan-gesekan terjadi. Ego sebagai manusia (apa cuma ego saya yah :D) pasti tidak bisa dipungkiri, ingin pendapat dirinya yang menang. Namun dalam sebuah pernikahan, kita ternyata tak bisa mengandalkan logika sebagai manusia biasa. Apalagi bagi wanita. Kakak perempuan saya pernah bilang, "akal wanita itu tidak sebaik laki-laki, " katanya pada suatu ketika. Itulah hal yang membuat wanita harus tunduk pada keputusan suami.

Saya sedikit menyangsikan pernyataan itu. Tapi bagaimanapun, saya mengalami sendiri kebenaran yang ada pada keputusan seorang laki-laki (dalam hal ini suami tentunya). Saya yang memang pada dasarnya pemberontak ini sudah berkali-kali kualat karena tidak mengikuti perkataan suami. Satu contoh. Pada suatu hari, kami pergi membeli kurma untuk Ibu. Nah, rencananya kurma itu akan dititipkan kepada kakak ipar saya yang bekerja di Depok, untuk disampaikan pada Ibu saya yang pada saat itu berada di rumah kakak ipar d Bekasi. Karena saat itu sabtu malam, saya menyarankan untuk diantar ke kantor kakak malam itu juga, sekalian lewat gitu. Namun suami bilang, "Hari Senin aja sekalian berangkat kerja."

Saya bersikeras untuk diantar malam itu juga, karena hari Senin biasanya berangkatnya buru-buru ke kantor. Akhirnya suami (terpaksa) menyetujui. Tanpa diduga dan disangka, Ibu Mertua saat itu berkeinginan untuk pergi ke Bekasi mengunjungi Ibu saya. Dan sayapun kecele. Kalau misal saya menuruti saran suami untuk diberikan hari Senin, tentulah saya bisa memberikan kurma itu langsung kepada Ibu saya di Bekasi. Dan ternyata pula Ibu saya bermaksud pulang ke Tegal pada hari Senin, sehingga mau tidak mau, tidak ada pilihan selain memberikan kurma tersebut hari itu juga. Jadilah pagi itu kami membelikan Ibu kurma lagi.

Suami sya bukanlah peramal atau cenayang, dia juga tidak memprediksikan ibunya akan secara mendadak menjadwalkan kunjungan ke Bekasi. Mungkin Allah memberikannya kelebihan untuk memutuskan secara tepat. Ada banyak lagi contoh lain keputusan suami yang langsung berdampak pada saya. Pada saat saya mematuhinya, Alhamdulillah kelancaran tercipta. Contoh: pada suatu kesempatan kami pergi ke Bandung,  saat kami memutuskan untuk pergi keluar, eh ternyata di luar hujan sehingga kami mengurungkan niat.  Setelah itu suami saya menyuruh saya mandi. Sebenarnya saat itu saya sangat malas mandi.. Bayangkan saja, ini Bandung, hujan lagi. Tapi saya menurut. Dan,voilà, hujan reda ketika saya selesai mandi. Pun saat saya tidak mematuhi saran suami untuk menaruh tas di depan pada saat mengantri tiket KRL, pintu masuk e-ticketing tiba-tiba macet. Ealaah, kaya di Mekkah ya bo'. Azab ga patuh ama suami dateng secepat itu. Begitu pula, kenikmatan datang langsung begitu kita patuh pada suami. Astaghfirullah..Subhanallah..


Sebegitu powerfulnya suami kita. Perlahan-lahan saya dididik untuk menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas. Sabarnya suami saya perlahan-lahan menular. Saya kini semakin yakin bahwa, everything happen for a good reason. Apalagi ridho suami memang penting sebagai bagian dari ridho Allah pada kita. Ya bagaimana tidak, beratnya beban suami dengan mengambil kita sebagai istri membuat mereka pantas untuk ketaatan itu.


 Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya. (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, di shahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/54).