Setahun Menjadi Nyonya (Rizky Febriana)

his display picture today

-Januari 2009
Semuanya bermula di ruangan itu, bercat biru dengan tumpukan barang-barang khas aktivis, sekretariat BEM KM UGM. Laras Dini Fitria adalah orang yang mengenalkanku pada lelaki ini, yang kelak menjadi suamiku. Aku ingat sekali dulu dia memanggilku 'mbak'.

-Medio 2009
Waktu berjalan, hubungan kami berjalan seperti biasa. Hingga suatu saat dia memintaku untuk menulis di kolom Republika yang merupakan tugas bulanan lembaga. Saat itulah akhirnya rasa itu muncul. Rasa suka? bukan. Yang ada yaitu rasa sebal karena saat itu saya berencana pulang kampung. Memang bukan salah dia sih karena timingnya bisa pas seperti itu. Namun tetap saja saya tidak suka. Dari situlah kami mulai berkomunikasi.

-Juni 2011
Sesudah menghadiri acara sidang skripsi salah satu teman kuliah, tiba-tiba ada sms masuk di ponsel saya. Di situ tertera nama pengirim: Rizky Aliet. Sms itu berbunyi (kurang-lebih) "Ada hal yang ingin kubicarakan. bisa YMan?" Ternyata 2 tahun berlalu tidak bisa juga menghapus debaran jantung yang selalu ada kapanpun namanya muncul. Malamnya kami YMan. Dia mengutarakan maksudnya yang katanya ingin serius denganku. Namun, ada satu dan lain hal hingga akhirnya pembicaraan ditutup tanpa ada konklusi.

-Akhir 2011
Dia menunjukkan keseriusan yang lebih. Namun ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai syarat. Dari pihak keluarga saya, dia harus lulus terlebih dahulu. Dari pihaknya, hampir sama, dia harus lulus kuliah, ditambah lagi kakaknya harus lulus kuliah ekstensi dan juga menikah terlebih dahulu. Saat itu, hampir-hampir saya menjadi putus asa dengan hubungan ini.

2012
Secara ajaib, kakaknya lulus di awal tahun. Kemudian bulan Mei mereka menikah. November (saat itu) calon suami saya itu wisuda. Orangtuanya naik haji.

30 Desember 2012
Hari bersejarah itu. Pukul 10.00 WIB keluarganya hadir untuk meminangku. Hanya sebuah acara sederhana. Namun saya merasa bahagia karena mereka menyempatkan hadir untuk acaraKU.

10 Maret 2013
Hanya berselang 2 bulan 11 hari dari waktu lamaran seharusnya menjadi waktu yang sempit untuk sebuah persiapan pernikahan. Namun nyatanya, Alhamdulillah aku dan dia bisa menjalaninya dengan baik. Yah, tidak semua bisa berjalan lancar. Namun, nothing's perfect kan kalo untuk acara yang diadakan manusia.

Akad nikah yang sedianya dilaksanakan pukul 9, dimajukan jadi pukul 8. Alhasil saya juga akhirnya dirias kilat hanya 1 jam. Bayangkan, rias pengantin hanya satu jam. Kemudian masalah juga terjadi saat undangan. Di dalam undangan itu tidak ada nama orang tua di bagian belakang, juga tidak ada kolom 'Kepada Yth.'. Masalah juga terjadi dalam pemilihan tema warna resepsi, yang sedianya warna Maroon-Gold, berganti menjadi Hijau Pupus-Gold karena furing yang dipakai untuk kebaya orangtua malah membuat kebaya jadi emas kehijauan. :D

Tapi ya sudahlah. Yang penting kami bersama hingga saat ini. Pernikahan itu memang tidak sepenuhnya menyenangkan.(yakin ga nyenengin Din, koq gendutan?) namun yang pasti, pernikahan itu mendewasakan. Segala macam hal terjadi dalam setahun pernikahan kami. Namun yang bisa saya simpulkan, suami saya itu ternyata lebih baik daripada sebelum saya mengenalnya saat menikah. Dia sangat baik, begitu pula dengan keluarganya. Dia jarang berucap 'Aku mencintaimu' namun dia menggantinya dengan perhatian dan perlakuan yang membuat meleleh..

Hehe,
Seperti banyak doa untuk kita, semoga kita selalu sakinah, mawaddah, warahmah ya. Langgeng sampai kakek nenek.. I love you, fillah