Open Together, yo!

Saat bulan puasa tentunya ada satu kegiatan yang hampir selalu ada. Apalagi kalau bukan Buka Bersama. Buber ini merupakan ajang yang pas untuk bertemu teman lama. Namun setelah bertahun-tahun saya jalani buber ini (aseek, bertahun-tahun), saya baru menyadari satu hal, sepatutnya buber ini kita sikapi dengan lebih bijak.



Hal ini tiba-tiba terpikir oleh saya, dan juga menurut saya sangat urgen untuk ditulis di blog sebagai pengingat (untuk diri sendiri), yaitu karena buber yang saya datangi memberikan efek 'jera'. Hehe. Pertama, buber ribet di tempat. Kenapa? karena terutama di Jakarta, dimana-mana tempat makan rame, terutama di Mall. Tidak hanya ramai, penyajian juga relatif lama karena orang-orang memesan makanan di waktu sama, yaitu menjelang berbuka. Nah, untuk mengatasi permasalahan ini, maka tindakan preventif yang bisa dilakukan yaitu; Hindari makan di Mall, Kalau mau di Mall boleh, tapi cari tempat makan yang ga rame (= ga laku?), Tapi sebagian besar tempat makan di Mall pasti ruame. Jadi kalau mau yang enak dan ga antri, mending beli di restoran biasa di luaran.

Kedua, timing. Masalah waktu ini sangat vital banget. Karena waktu magrib yang sempit, maka kita harus pintar memanfaatkan waktu. Masalah waktu ini tidak hanya berdampak tak hanyapada saat buka puasanya, tapi juga harus diatur sejak sebelum janjian. Harus ada kesamaan waktu kedatangan dan komitmen untuk on time. Ga enak kalau ada satu orang datang duluan sementara yang lain telat. Namun jika memang waktu kedatangan tidak dapat diprediksi karena macetnya lokasi (lagi-lagi Jakarta menjadi contoh kasus), sekalian aja janjiannya dibuat sangat lowong. Misal buka jam 6, pulang kantor berbeda-beda rentang jam 4-5, maka mending janjiannya malam sekalian jam 7. Jadi semua sudah buka puasa dengan makanan kecil dan juga sudah solat magrib. Jadi lebih lowong juga waktu, ga keburu-buru. Tapi kalo makin mundur, makin kasihan yang rumahnya jauh.

Pasca buka puasa juga bisa berpotensi menjadi masalah pelik. Setelah buka bersama, tenaga kita terkuras, waktupun begitu, apalagi kantong. Kita yang biasanya di hari biasa, ga pake mampir kemana-mana aja udah capek saat pulang kerja, ini harus meluangkan waktu untuk kesempatan lain. Apalagi kelakuan kita kalau ketemu teman lama mengobrol panjang dan banyak tertawa. Walhasil kita bakal sangat cuapek. Dampaknya, bakal jadi uring--uringan. Sampai rumah langsung terkapar. Tarawih aja malas apalagi Isya.

Ketiga, menu. Menu paling enak dipilih saat semua orang sudah ngumpul. Nah, karena ngumpulnya aja ga barengan (baca lagi poin 2), maka menu ini juga jadi ribet. Mau nunggu semua ngumpul, eh keburu laper dan ga enak juga dong sama  restonya. Ditambah lagi datengnya menu biasanya lama (baca poin 1). Untuk meminimalisir masalah menu ini, mendingan buber di tempat yang sudah kita tahu. Jadi bisa langsung pesen menu walaupun belum semua datang. Reservasi itu penting! plus menu tentunya. Jadinya nggak merepotkan yang sudah datang on time.

Keempat, boros. Banyak biaya tidak terduga. Ditambah lagi kalau di Mall makanannya mehong maharani mahal. Karena sedang puasa kita jadi lapar mata. Biasanya pengeluaran bertambah saat dgn teman. Apalagi kalau bukanya di pusat perbelanjaan dan udah dapet THR, agendanya bisa lanjut shopping-shopping cantek.

Kesimpulannya, kerugian akibat buber ini berkesinambungan saudara-saudara. Istilah kerennya berdampak sistemik lah. Cuma jangan jadi antipati juga sih dengan buber. Buber sangat berguna untuk menjalin silaturahim. Jadi sebagai pengganti acara buber (in case semua tips2 di atas nggak bisa diterapkan) bisa di lain waktu, asal kita berkomitmen untuk datang. di weekend misalnya. Ohya, kalau di kota kecil mah nggak perlu sebegini ribetnya ngerencanain acara buber.

Well, gini aja tips-tips saya memaksimalkan acara buber. Semoga Ramadhan kita nggak banyak dipenuhi kegiatan yang sia-sia ya teman. Semoga juga saya lebih terlecut semangatnya untuk memaksimalkan hari-hari terakhir Ramadhan. Aamiiinnnn