Sesudah setahun lebih keluar dari pekerjaan yang terdahulu, baru sekarang saya bisa berbagi cerita. Hehe..
Niat baik emang banyak banget ya godaannya. Makanya di kesempatan saya bisa berhadapan lagi dengan layar komputer, ga boleh disia-siain deh yaa.
Kisah Wirausaha ini saya awali dulu dengan 'pergolakan batin' yang terjadi sesudah resign. Banyak orang yang bilang, awal-awal masa resign itu kayak bulan madu. Senang dan bahagia. Bisa bangun siang, ga terburu waktu. Beberapa saat setelahnya baru rasa sepi muncul. Lama kelamaan malah banyak orang yang dilanda stres karena bingung mau ngapain.
Dalam kasus saya, Alhamdulillah semua itu nggak terjadi. Satu tips penting setelah resign memang cuma satu. Sibukkan diri. Kemalasan itu membunuh secara perlahan loh. Alhamdulillah saya diberi kelonggaran materi untuk melanjutkan bisnis saya. Bukan, saya bukan melanjutkan bisnis dari keuntungan penjualan jilbab yang sudah dirilis sejak saya masih bekerja kantoran. Terus darimana dong? Di tulisan inilah saya ingin membahas manajemen keuangan bisnis saya.
Jujur, dalam hal pengaturan keuangan bisnis dan pribadi (kerumahtanggaan) saya bukan tipe disiplin. Uang jilbab saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Kenapa? Tidak lain karena bokek :D Hehehe.. iya, sesimpel itu. tapi ya bersyukur juga karena ternyata bisa lumayan menutupi loh. Yah walaupun sepele, misal untuk beli sayur, gula, dll. Saya pikir, toh modal jilbab juga dari uang suami (uang rumahtangga) Jadi saat kebutuhan rumahtangga juga lagi kekurangan, lebih baik saya ambil uang jilbab. Daripada memaksakan diri berhutang kan?
Efek buruknya, keuntungan bisnis memang tidak terlihat 'terkumpul' secara fisik sih. Cuma terlihat di catatan cashflow aja. Maupun begitu, saya udah bersyukuuur sekali. Karena kebutuhan-kebutuhan saya Alhamdulillah terpenuhi walaupun kalau dipikir dan dihitung secara rasional, pemasukan kami (jauh) lebih sedikit dari pengeluaran.
Mungkin itu yang disebut berkah berdagang ya? Secara catatan, untung ga seberapa, percobaan-percobaan produk baru juga banyakan error (plus tekor). Memang bener kata temen saya. Manusia mah bukan tugasnya mikir tentang rejeki, tapi yang penting usahanya. Alloh mah ngeliatnya kerja kita aja. Mau hasil kayak apa itu terserah Dia. :)
Beralih ke hal lain, yaitu tentang modal.
Begini, saya termasuk tipe penjual yang menerima custom order dari pelanggan. Mungkin itu sebabnya pula kayaknya setiap dapet duit, keuntungannya abis buat beli bahan lagi. Tapi ya memang begitulah. Saya merasa diri saya (dan uang yang saya punya) belum mencukupi untuk membeli bahan produksi yang banyak sehingga saya bisa membuat jilbab secara massal (yang mana bisa menjual secara massal juga sehingga omzet juga bisa lebih banyak terkumpul dalam satu waktu). Lagipula, stok dagangan saya juga masih buanyaakk, jadi sayang aja kalau mau produksi lagi.
Bukan berarti hal ini buruk ya. Cara bisnis seperti ini enak diterapkan untuk orang yang terbilang santai seperti saya. Jalannya tergantung modal soalnya. Kalo ada uang produksi gencar, kalau bokek ya udah berarti promosi yang harus gencar untuk menghabiskan stok.
Jadi kesimpulannya, pengaturan keuangan dalam bisnis itu ga ada yang mutlak. Tergantung kondisi individu, dan kita nggak bisa menerapkan secara mentah-mentah pengaturan keuangan bisnis orang lain. Terakhir, jangan menitikberatkan laba sebagai tolak ukur kesuksesan sebuah bisnis, omzet lebih penting!
Salam Businesswoman!
*haseeekkk
