Adiksi dalam Intelegensi Embun Pagi

Novel terakhir dari serial Supernova ini membuat saya mengutuk dalam hati. Betapa tidak, rasanya ada pusaran tak kasat mata yang membuat saya lekat membacanya. Jelas seri ini merupakan seri yang paling menguras logika. Pada buku sebelumnya, saya cukup mengikuti kisah pemeran utamanya, dan mengabaikan 'keping-keping' konstruksi utuh cerita yang dibangun oleh Dee. Tujuan saya membaca adalah mencari hiburan semata- saya selalu terpikat oleh dunia lain yang disuguhkan oleh cerita-cerita fiksi....

Namun akhirnya sayapun menyerah juga. Walaupun sepanjang halaman dahi saya mungkin tak henti berkerut, hasrat untuk segera menyelesaikannya sangat menggebu-gebu. Mungkin ini ya namanya kecanduan. Berada di batas tipis antara perasaan bersalah dan kebahagiaan tak terjabarkan. guilty feeling? or guilty pleasure? Namun yang jelas semua ini harus dihentikan.