A (not so) Deep Thoughts about Marriage

My parent's marriage turns 39 this year. And a couple days ago, the owner of the sewing course celebrate their 50th wedding anniversary. These moments took me to a little contemplation because, that quite a long time and so on.  In the other hand, what happened to some couple that got divorced after 1 year of marriage or even shorter?

The fact is, either my parents and the old couple still fighting quite often. But what's the reason they didn't easily gave up on each other? I've been thinking a lot and it leads me to conclude that:

Sadarlah bahwa 'goal' utama setan adalah perceraian.

Pertengkaran dalam rumah tangga hampir selalu dipicu oleh masalah yang sangat sepele. Setan selalu menyusupkan propaganda-propaganda buruk tentang pasangan kita. Dan setiap kali terjadi pertengkaran akan timbul pergolakan mengenai "siapa yang salah? Siapa yang minta maaf duluan?" Di situlah biasanya berhembus bisikan-bisikan 'sepertinya berpisah lebih baik daripada begini'. Padahal pasangan kita juga merupakan pilihan kita sendiri.

Jangan Berharap bisa Mengubah Pasangan dengan Mudah

Seiring berjalannya waktu, adakalanya kita merasa pasangan lebih banyak membuat jengkel daripada bahagia. Kita merasa sia-sia jika telah berusaha memperingatkannya agar tak melakukan kesalahan yang sama. Itulah kesalahan pertama kita. KITA HARAP BISA MENGUBAH ORANG. Dan apa yang kita dapat? Dia akan menjadi orang yang sama dan memang begitulah alurnya. Rumah tangga bahagia bukan hadiah yang jatuh begitu saja. Bukan orang lain yang harus berubah. Kita saja yang harus lebih bekerja keras mengubah diri kita. Berkaca pada diri sendiri, kitapun tidak akan semudah itu mengimplementasikan saran orang lain di diri kita.

Sebagian besar orang berubah bukan karena nasihat, namun karena mereka sendiri berproses. Sampai kapok sendiri, begitu biasanya kata orang. Maka, di sinilah doa sangat berperan. Hanya doa yang bisa melembutkan hati-hati yang keras. Mintalah hidayah Alloh sampai padanya..

Tak Apa Mengalah, Karena Kita Selalu Butuh Suasana Kondusif untuk Beribadah

Semua pihak tahu bahwa pertengkaran itu bisa dengan mudah diselesaikan jika ada salah satu pihak yang bersusah payah menekan ego untuk memulai rekonsiliasi terlebih dahulu. Dan dalam pernikahan, menekan ego itu selalu tidak enak, bertentangan dengan hawa kemarahan bahkan menurut kita sangat menjatuhkan harga diri. Terus menerus hingga akhirnya kita terjebak dalam kesedihan tak tentu arah, malas melakukan apapun termasuk ibadah. Akan lebih baik untuk segera menepis perasaan sendiri karena kita pasti ingin suasana rumah selalu kondusif untuk beribadah. Ya, sesimpel itu. 
  
Cinta kepada Pasangan Penting, tapi Cinta kepada (Lembaga) Pernikahan Lebih Penting

Mempertahankan pernikahan merupakan perwujudan rasa cinta kita terhadap Alloh. Dan mungkin alasan mengapa pernikahan disebut menyempurnakan separuh agama ialah karena beratnya ujian dalam mempertahankan bahtera rumah tangga.

Manusia sudah disetting akan berubah-ubah. Apalagi cinta. Dan hidup setelah pernikahan kadang dirasa tak seideal saat pendekatan dulu. Sangat wajar apabila dua orang hidup bersama kemudian banyak gesekan-gesekan yang terjadi. Saat ini terkadang membuat seseorang tidak mensyukuri pasangannya. Di sinilah kita perlu merenungkan kembali arti "mencintai karena Alloh".

Alloh suka jika rumah tangga kita terjaga. Maka dari itu, kita harus selalu ingat untuk selalu loyal pada lembaga ini. Jadi jika seseorang merasa kesal terhadap pasangannya, perlu diingat bahwa itu hal yang wajar karena memang seharusnya ibadah menikahlah yang kita cintai, jika kecintaan terhadap pasangan dirasa tidak cukup.