Saat Ramadhan, katanya setan dibelenggu. Namun mengapa kita tetep aja bikin dosa dan mengikuti hawa nafsu. Kan hawa nafsu datangnya dari setan?
Berawal dari tafsir surat Al-Baqarah ayat 183-186, membawa saya pada pertanyaan itu. Pertanyaan atas topik "Persiapan Menyambut Ramadhan" di dua pengajian dengan waktu yang berdekatan, pengajian Liqo dan pengajian kompleks. Ya, Ramadhan akan datang kurang lebih sepekan lagi. Alhamdulillah, semoga kita bisa sampai pada bulan mulia itu ya.. Jawaban dari pertanyaan di atas dan intisari kedua pengajian tersebut akan saya coba angkat di postingan kali ini.
Ramadhan itu spesial. Alloh memberi bulan ini sebagai bulan istimewa karena di bulan inilah setan dibelenggu. Itulah mengapa seringkali ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan jauh lebih ringan untuk dilakukan. Kata ustadzah, Ramadhan itu bulan pelatihan. dimana-mana, pelatihan biasanya didesain mirip dengan keadaan sesungguhnya. Namun seringkali keadaan nyata lebih unpredictable, lebih sulit, lebih kompleks. Maka, Alloh mempersiapkan kita menghadapi kesulitan di dunia dengan hadirnya Ramadhan sekali dalam setahun.
Tapi, betapapun ringannya Ramadhan karena setan dibelenggu, kok tetep ya ada yang berbuat dosa? Apakah pernyataan itu tidak benar? apa emang sifat-sifat setan sudah melekat dalam diri kita? Jawaban atas pertanyaan semacam ini ternyata sudah ada jawaban lengkapnya di sini. Saya kutip sedikit yah
Sebelumnya, kita simak hadisnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).
Ketika kita menghadapi hadis shahih, namun ada hal yang mengganjal sehingga masih kita pertanyakan, maka kedepankan pernyataan ini,
اتهم رأيك، اتهم نفسك
“Salahkan akalmu… salahkan dirimu”
Doktrin diri kita, al-Quran itu benar, hadis itu benar, Rasul itu benar, hadis itu tidak ada cacatnya. Selanjutnya, ini semua karena keterbatasan saya dalam memahaminya. Ini karena ketidaktahuan saya. Husnudzan (berprasangka baik-red) kepada hadis, dan suudzan (berprasangka buruk-red) kepada diri sendiri.
اتهم رأيك، اتهم نفسك
“Salahkan akalmu… salahkan dirimu”
Doktrin diri kita, al-Quran itu benar, hadis itu benar, Rasul itu benar, hadis itu tidak ada cacatnya. Selanjutnya, ini semua karena keterbatasan saya dalam memahaminya. Ini karena ketidaktahuan saya. Husnudzan (berprasangka baik-red) kepada hadis, dan suudzan (berprasangka buruk-red) kepada diri sendiri.
Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami kasus ini,
Pertama, sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan.
Kedua, setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya.
Ketiga, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu.
Keempat, yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa.
Pertama, sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan.
Kedua, setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya.
Ketiga, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu.
Keempat, yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa.
Selanjutnya, di ayat 184, ustadzah menyebutkan tafsir pada pernyataan " Puasa wajib atas orang-orang terdahulu dalam beberapa hari tertentu". Saya baru tahu jika dulunya puasa sudah wajib, namun hari tiga hari dalam sebulan atau puasa Yaumul Bidh. Pada zaman dahulu juga, jika tidak bisa puasa, ada dua pilihan sebagai pengganti, yaitu mengganti di hari lain atau membayar fidyah.
184. (yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya[3], wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin[4]. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[5], maka itu lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Di ayat ke-185, disebutkan spesifik bahwa Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur'an. So.. Bulan ini selayaknya dimaknai penuh, dan seharusnya menjadi tolak ukur 'kemenangan'. Bahwa inilah bulan dimana kita seharusnya lebih dekat dengan Al-Qur'an.
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran[6], sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada[7] di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu[8]. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah[9] atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur[10].
Nah, bagian ini nih yang paling menarik (sekaligus paling mak jleb-jleb) "...sesungguhnya Aku dekat.." Di dalam Al-Qur'an, seringkali kita mendapati kata ganti 'Kami' untuk menunjuk Alloh. Nah, ketika Alloh menyebut sebagai "Aku" ada dua kemungkinan. Yang pertama, Alloh dalam keadaan sangat marah, yang kedua, sangat cinta. Ayat ini merupakan salah satu wujud kecintaanNya yang besar terhadap kita. T.T Alloh tuh dekat..tapi kitanya aja yang kadang lupa, malah kadang malah menjauh. Di ayat ini juga Alloh memastikan bahwa Alloh menjawab setiap doa. Ohya, doa itu sebenarnya kata jamak, bentuk tunggalnya yaitu dakwah.
186.[11] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat[12]. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdo'a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.DRS5jMUv.dpuf
So..tidak menyambut datangnya Ramadhan ibarat ada orang yang memberi kita hadiah, namun kita buang begitu saja, kata Murobbiyah saya. Itulah mengapa ada beberapa hal yang harus disiapkan agar berhasil di bulan Ramadhan. Persiapan tersebut meliputi persiapan fisik, harta dan ilmu.
Are you ready for Ramadhan? Jika belum, sekarang belum terlambat kok. Mari kita buat target yang tinggi untuk Ramadhan tahun ini, terutama yang berkaitan dengan Al-Qur'an. Bismillahirrohmaanirrohiim.......

