![]() |
| sumber |
Ketika baru lulus kuliah, banyak orang mengucap 'welcome to the jungle!' setelah kalimat selamat wisuda. Dan benar juga sih, segera setelahnya kita dihadapkan dengan realita yang cukup mencengangkan tentang dunia kantor.
Rimba itu berupa dunia pascakuliah yang sangat, well bisa dibilang keras. Setelah kita lulus, kita bersaing dengan jutaan pencari kerja. Kita menyadari bahwa diri kita bukan siapa-siapa. Di hadapan perusahaan-perusahaan itu, kita hanya dipandang sebatas angka. Nomor-nomor disematkan dalam diri kita. Asal jurusan, titel sarjana serta berapa IPK yang akhirnya akan mengubah kita dari sekadar angka statistika, menjadi manusia yang bernama.
Setelah diterima kerja, ujian juga sudah siap menanti. Jika tak pandai memperlihatkan potensi diri, kita hanya akan berarti sekadar digit. Perusahaan-perusahaan mengenal kita hanya dari NIK. Tak lebih. Maka itu, kita harus bersusah payah untuk menjadi menonjol.
Apalagi, kebanyakan para fresh graduate itu harus merangkak dari tempat terendah. Tak semua keinginan dapat terwujud. Maka bisa jadi banyak orang yang terjebak di posisi tak menguntungkan karena terburu-buru harus menafkahi dirinya sendiri. Jadi tukang fotokopi, tukang beres-beres arsip, seksi "wira-wiri" merupakan pekerjaan-pekerjaan yang lazim dilakukan pekerja pemula. Namun tak usah khawatir. Hal itu dilakukan oleh banyak orang di awal-awal karirnya.
Keprihatinan itu adalah suplemen untuk orang-orang sukses kata Mario Teguh. Coba hitung, berapa banyak orang sukses di masa kini yang dulunya menjadi 'keset', menjadi orang yang diinjak-injak. Kesuksesan lahir dari perjuangan dan kesabaran. Jadi, jika Anda sekarang sedang jenuh dengan apa yang Anda lakukan, ingatlah cicilan akan ada akhir yang indah bagi orang yang sabar.
