Untukmu Saudara Sesama Muslim: Refleksi 4 November 2016, Aksi Demonstrasi Damai Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia

Bismillah.

Memandang fenomena 4 November 2016 sebenarnya tidak rumit dan menurut saya tidak memecah belah bangsa. Yang ada malah memecah belah teman-teman muslim saya menjadi dua klasifikasi, yang merasa Al-Quran terhina dan tidak. Yang tidak merasa Al-Qur’an terhina menunjuk para peserta aksi sebagai seorang fanatis. Namun tahukan Anda? Beberapa bukti menunjukkan bahwa Bapak BTP (dan umumnya orang-orang besar) JUGA merupakan pemeluk agama yang fanatik. Berikut buktinya,

1.   Menurut kesaksian teman kantor yang anaknya sekolah di salah satu SMA negeri di Jakarta, kini peraturan mengenai kewajiban mengenakan pakaian muslim di hari Jum’at dihapuskan.
2.    Dari kesaksian teman saya karyawan KAI, dulu saat Ignasius Jonan menjabat sebagai Kepala KAI, beliau tidak memperbolehkan karyawan pria mengenakan celana cingkrang.
3.  Salah satu mal di dekat rumah saya di Tegal atas perintah pemiliknya, menerapkan larangan karyawannya memakai jilbab, kecuali tenaga kasir dan pramuniaga.

See? Dari contoh kecil di atas, BTP, Jonan, dan pemilik mal tersebut gerah dengan simbol-simbol yang bukan agamanya. Tapi ya memang wajar kan? Itu semua merupakan indikasi  bahwa mereka adalah loyalis agamanya masing-masing. Itu bagian dari ‘dakwah’ mereka. Dan karena memiliki kekuasaan untuk mengubah, maka mereka merancang agar peraturannya sejalan dengan ajaran agama yang mereka anut, atau paling tidak, tidak menyerupai ajaran agama lain dalam hal ini Islam.

image credit


Seperti halnya dengan pemilik Waroeng Steak and Shake, karena dia Muslim yang taat, maka dia juga memberlakukan peraturan bernuansa Islami di tempat yang dia pimpin. Jadi poin saya adalah, jangan berpikir hanya orang Islamlah yang fanatik. Pernyataan –jangan bawa-bawa agama- juga tidak relevan jika hanya disangkutkan kepada umat Islam yang protes saja, karena pemimpin non muslimpun juga kerapkali membawa sentimen keagamaan dalam kepemimpinannya.

Kefanatikan terhadap agama inilah yang membuat semua pihak takut. Takut pemimpin Jakarta nantinya berbeda dengan agama yang dianutnya sehingga ditakutkan akan mengancam eksistensi agamanya sendiri . Kami takut kepada BTP sebagaimana BTP takut kepada kekuatan orang Islam. Beliau mengerti adanya kemungkinan besar bahwa umat Islam sebagai mayoritas agama konstituennya tentunya akan memilih pemimpin seagama.

Fanatisme terhadap agama sebenarnya bukan hal baru bagi kita. Di pelajaran sejarah saat SMA, kita mengenal gold, glory, gospel sebagai semboyan bangsa barat dalam misinya melakukan penjelajahan kolonial. Gold yaitu harta kekayaan, glory yaitu penaklukan wilayah, dan gospel yaitu menyi’arkan agama (Kristen).  Jadi bisa disimpulkan, orang yang berjuang demi agama bukan hal yang baru.

Umat Islam wajar tersinggung saat BTP mengatakan QS Al-Maidah sebagai kebohongan sebagaimana umat Kristiani tersinggung saat Dan Brown melakukan misinterpretasi terhadap Kitab Injil di bukunya The Da Vinci Code.  Umat Islam wajar marah ketika masjid-masjid di Tolikara dihancurkan sebagaimana Umat Kristiani marah ketika ada anak beragama Kristen di Aceh Singkil dipaksa untuk belajar Islam di sekolah.

Jadi untuk teman-teman saya sesama Muslim yang kemarin menghujat dengan keras aksi pembelaan Al-Qur’an. Sorry not sorry kita menjadi penyebab ramainya jalanan dan timeline kalian. Tapi plis dong ah, orang-orang besar seperti BTP dan Jonan aja fanatik terhadap agamanya. Masa kalian engga?