Antara Bayangan, Hembusan Angin dan Air yang Hina

Disarikan dari Kajian Tafsir Surat Al Furqan 45-54. Ust. Mustofa


Maha Besar Alloh dengan segala penciptaanNya. Pernahkah kita berpikir mengenai bayangan? Adalah kebesaran Alloh termasuk matahari berikut bayangannya. Bayangan? Iya mungkin selama kita tidak terlalu memperhatikannya. 

Bayangan akan memanjang, memendek, bahkan menghilang. Bayangan menghilang saat matahari tepat berada di tengah bumi (dan menjadi waktu yang diharamkan untuk sholat). Pada bayangan yang terlihat sepele inilah, ternyata merupakan bentuk kebesaran Alloh 'azza wa jalla.  

Bisa saja Alloh menakdirkan tidak ada bayangan. Atau juga tidak memanjang pendekkan bayangan. Namun Alloh dengan kebesaranNya menarik bayang-bayang sebagai petunjuk atas kebesarannya yang lain. Yaitu adanya siang dan malam. Jika tidak ada bayangan, mungkin kita akan bingung menentukan jam.
 Kemudian di ayat ke 47, disebutkan bahwa siang merupakan saat untuk berusaha sedangkan malam untuk istirahat. Hikmahnya, kita harus mendengar sinyal tubuh yang menginginkan istirahat. Kita harus cukup beristirahat agar tenaga untuk beribadah selalu terjaga. Rasulullah SAW mencontohkan tidur Qolillah atau tidur siang sebelum dhuhur.

Pada ayat ke 48, Alloh mengajak kita untuk memikirkan penciptaan yang terlihat sepele lain : angin. Di ayat ini Allah menyebut bahwa Dia meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira akan kedatangan hujan. Angin ini memiliki banyak manfaat dan berperan penting menjaga keseimbangan alam.

Anginlah yang membantu proses penyerbukan sehingga tanaman dapat berbunga dan menghasilkan buah. Angin pula yang membawa bibit tanaman. Coba bayangkan, pada tanah yang tandus, setelah hujan biasanya akan tumbuh rumput dengan sendirinya.

Angin juga berfungsi untuk mengumpulkan awan. Lalu ada angin yang memencar awan untuk dijadikan hujan. Kemudian turunlah hujan yang bersih dan suci. Hujan ini dipergilirkan di satu daerah ke daerah lain. Inilah pula yg menjadi salah satu kebesaran Alloh.

Ayat 51 Dan 52... Entah kenapa akhir-akhir ini hampir selalu menemukan ayat dengan topik seperti ini... Tapi ustadz tidak terlalu dalam mengelaborasi. Hanya menitikberatkan pada kuasa Alloh yang sebenarnya bisa mendatangkan nabi di setiap umat.



Lalu di ayat no. 53
Arti Bahr: air yang banyak. Jadi telaga bisa juga Bahr.
Alloh menakdirkan air laut yang asin lagi pahit berbatasan langsung dengan air yang tawar lagi segar dan tidak saling bercampur. Terlepas dari adanya penemuan terkini mengenai fenomena ini, merupakan suatu keajaiban bahwa air laut asin bisa mengalirkan aliran air yang tawar sehingga menjadi sungai. Ustadz juga menyebutkan adanya aliran-aliran sungai kecil di tengah laut. Aliran sungai kecil ini terlihat pada saat laut surut dan menghilang saat laut sedang pasang.

Mengapa lautan yg luas dijadikan asin? Mengapa kebanyakan spesies bintang air hidup di laut yang asin? Inipun menjadi tanda kebesaran Alloh. Air laut diciptakan asin supaya hawa tetap segar. Garam yang terkandung pada air laut menjadi pengawet alami sehingga makhluk yang mati dalam jumlah banyak di laut  tidak menyebabkan bau dan tidak mencemari lingkungan. Bayangkan apabila bangkai seekor paus ada di sungai atau danau yang airnya tawar, pasti akan mengeluarkan bau tidak sedap.

Kemudian si ayat 54, Alloh mengajak kita untuk memikirkan mengenai penciptaan diri kita. Setelah kita diajak merenungi kebesaran-kebesarannya yang jauh seperti bayangan, angin an air hujan, kita diajak untuk memikirkan kebesarannya hingga yang terdekat yaitu penciptaan kita. Kita yang berasal dari air yang hina, Alloh jadikan dapat berkembang biak dan menghasilkan kekerabatan.

Alloh juga menakdirkan agar manusia berproses. Sedari kecil tidak langsung memikirkan untuk menghasilkan keturunan. 

Wallahu 'alam bishawab