Sebuah hal yang mengganjal pikiran saya bahwa, mengapa ada pemeluk agama yang mencela peraturan-peraturan agamanya sendiri. Terlebih, ada lagi orang yang menghabiskan masa belajar di sekolah agama, namun saat dewasa melakukan penafsirannya sendiri terhadap kitab sucinya dan akhirnya melenceng dari hukum dasarnya. Mereka memiliki pengetahuan agama yang mumpuni namun hal itu malah digunakan untuk melakukan dekonstruksi terhadap konsep yang ada.
Saya menulis ini bukan berarti saya adalah orang yang mengerti tentang hukum agama ya. Saya menulis tentang pendidikan juga gara-gara sok tahu doang, karena punya anak pun belum. Namun saya harap tulisan ini bisa membuka insight baru dalam menanamkan pemahaman agama untuk anak.
Penyebab adanya orang-orang yang saya sebut sebelumnya tentunya masalah pemahaman dan hidayah. Mereka bukannya tidak tahu akan syariat agama. Namun, tahu bukan berarti paham. Tapi terlepas dari masalah hidayah yang menjadi hak prerogatif Tuhan, apakah mungkin hal ini berawal dari pemahaman agama yang diajarkan sedari kecil?
Dalam dunia pendidikan, lekat kita kenal metode reward and punishment. Di dalam pendidikan agama, metode ini tertuang dalam konsep dosa dan pahala. Surga dan neraka. Jika berbuat dosa kita diancam neraka. Maka berbuat baik dihadiahi pahala dan surga. Nah, inilah poin yang perlu digarisbawahi, jangan sampai kita lebih banyak mengancam anak dengan neraka. Terlebih saat usia anak masih dini. Sepertinya tidak tepat jika pendidikan dengan ancaman dosa diterapkan di saat awal tumbuh kembang anak.
Kepahaman yang baik terhadap agama tidak dapat tercapai dengan cara menakut-nakuti anak dengan gambaran mengerikan tentang neraka. Anak yang tumbuh dengan ancaman-ancaman membuat mereka malah menjadi antipati. Bayangkan saja, apa yang terjadi jika sedikit-sedikit anak dilarang dan diancam bahwa ini dosa, itu dosa, nanti dapat siksa, nanti masuk neraka. Lama- lama hal tersebut malah merusak citra agama di dalam pola pikir anak. Akan terbentuk pola pikir bahwa beragama itu ribet. Tuhan itu jahat. Buat apa menjadi pemeluk agama yang taat jika hal tersebut malah membatasi gerak?
Menurut saya, menanamkan pendidikan agama harus bertahap. Kita tertarik pada hal yang baru tentunya karena hal tersebut menyenangkan bukan? Itulah yang saya coba sampaikan, kita harus berusaha mendidik anak dengan ' iming-iming' pahala dan konsep surga terlebih dahulu, sebelum mengenalkannya dengan neraka sebagai konsekuensi dari perbuatan dosa. Dengan itu, diharapkan anak menjadi pribadi yang optimis dalam menerapkan konsep keagamaan di setiap aktivitas mereka.
Oh ya ada satu lagi walaupun rada-rada OOT. Saya nemu satu konsep pendidikan agama yang patut dicontoh dari Denada. Denada yang kita kenal sebagai penyanyi ini memiliki ternyata konsep yang keren mengenai pendidikan agama untuk anaknya. Silahkan disimak petikan wawancaranya dengan salah satu infotainment berikut
Keren yang Denada :')
Oh ya ada satu lagi walaupun rada-rada OOT. Saya nemu satu konsep pendidikan agama yang patut dicontoh dari Denada. Denada yang kita kenal sebagai penyanyi ini memiliki ternyata konsep yang keren mengenai pendidikan agama untuk anaknya. Silahkan disimak petikan wawancaranya dengan salah satu infotainment berikut
".....dan, aku sekarang ini melihat aku mempunyai tanggung jawab pada Alloh, punya tanggung jawab terhadap Shakira. Aku harus menjadikan dia anak yang sebaik-baiknya seorang anak, yang solehah. Yang cinta, bukan hanya senang beribadah saja, tapi cinta sama Alloh dan menganggap bahwa menyenangkan Alloh itu adalah suatu kebahagiaan buat dia."
Keren yang Denada :')