Bismillah
Rangkuman Kajian Tafsir At Tahriim
Tanggal 18 Maret dan 15 April
2017
Oleh Ustadzah Sarah Zakiah, Lc
KEUTAMAAN MEMPELAJARI TAFSIR
Ada tiga kewajiban manusia
terhadap Al-Qur’an, yang pertama yaitu membaca dan mengimaninya. Kedua
memahaminya, ketiga mengamalkannya. Ilmu Tafsir penting dipelajari karena
adanya kewajiban bagi manusia untuk memahami isi Al-Qur’an. Dengan memahami,
maka diharapkan manusia bisa mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Namun begitu, tidak mengapa jika selama ini kita membaca Al- Qur’an tanpa
mengerti isinya. Hal ini diibaratkan dengan ember bocor yang diisi terus
menerus dengan air. Mungkin tidak dapat menampung air namun ember tersebut
setidaknya menjadi bersih.
TAFSIR SURAT AT TAHRIIM
Surat At Tahriim diturunkan di
Madinah dan memiliki 12 ayat. Topik utama surat At Tahriim ini adalah kerumahtanggaan.
Pada ayat 1-5 kita membaca tentang kehidupan rumahtangga Nabi Muhammad SAW.
Kemudian pada ayat 6-9 ada arahan dari Alloh tentang bagaimana seharusnya kita
menjaga keluarga kita beserta konsekuensinya. Sementara di ayat 10-12 Alloh
menjabarkan tentang contoh model keluarga yang baik dan buruk.
At-Tahriim sendiri memiliki arti
‘pengharaman’. Kata pengharaman ini merujuk pada kisah di 5 ayat pertama surat
ini yakni mengenai kehidupan rumahtangga Rasulullah SAW.
Kisah ini diawali dengan
kecemburuan ummul mukminin Aisyah RA kepada istri nabi yang lainnya bernama
Zainab binti Jahsy karena beliau terkenal dengan kecantikannya. Aisyah RA
mengajak serta madunya yang lain, Hafshah binti Umar bin Khattab untuk
berkonspirasi. Aisyah RA menyuruh Hafshah berkata kepada Nabi SAW bahwa mulut
beliau SAW berbau maghafir (sejenis
buah yang berbau tajam seperti pete/jengkol). Hal ini harus dikatakan
sesampainya Rasulullah dari rumah Zainab.
Maka saat Nabi ke rumah Aisyah
setelah kunjungannya ke Zainab, Aisyah bilang pada Nabi bahwa mulutnya berbau maghofir. Pada kesempatan lain saat Nabi
mengunjungi Hafshah sepulangnya dari rumah Zainab, Hafshah pun mengatakan
demikian. Maka nabi menjawab bahwa beliau baru saja makan madu dari rumah
Zainab dan menyimpulkan bahwa madu itu mungkin berasal dari lebah yang
menghisap tanaman maghafir. Maka
sejak saat itu, untuk menyenangkan hati Hafshah, beliau mengharamkan untuk
dirinya sendiri madu yang disediakan oleh Zainab selama-lamanya.
Dari kejadian ini maka Allah
segera menurunkan surat At-Tahriim untuk memberitahu Nabi mengenai konspirasi
yang dilakukan istri-istrinya sekaligus untuk memberi peringatan kepada Nabi.
Allah mengingatkan Nabi untuk mencabut sumpahnya, karena mengharamkan sesuatu
yang dihalakan oleh Allah itu tidak diperbolehkan, apalagi alasannya untuk
mengharapkan keridhoan istrinya. Allah juga memperingatkan kedua istri nabi
yang berkonspirasi ini bahwa jika mereka menyusahkan Nabi, maka ada Alloh
beserta malaikat dan orang-orang mukmin sebagai pelindung Nabi SAW. Alloh juga
berkata bahwa mudah bagiNya untuk mengganti mereka dengan wanita lain yang
lebih baik dari mereka untuk dijadikan istri Nabi SAW.
Dari kisah ini, Alloh ingin
menunjukkan bahwa Nabi beserta istrinya juga merupakan manusia biasa. Hal ini
juga menjadi jawaban mengapa Alloh mengutus seorang manusia (berupa Nabi)
sebagai penyampai risalah. Risalah tidak disampaikan oleh malaikat yang
notabene tunduk sepenuhnya pada Allah, namun oleh seorang manusia karena yang
akan didakwahi juga manusia. Nabi dan istrinya juga pernah berbuat kesalahan
karena merekapun memiliki hawa nafsu.
Kemudian di ayat ke 6 Alloh
menekankan pentingnya menjaga keluarga agar terhindar dari api neraka. Neraka
merupakan tempat yang sangat dahsyat. Di dalamnya Alloh mengutus malaikat yang
sangat bengis dan kasar sebagai pemberi azab. Di sebuah riwayat disebutkan
bahwa kelak saat pintu neraka dibuka, sudah ada 400ribu malaikat yang telah
menunggu para penghuni neraka. Malaikat-malaikat itu tidak memiliki belas
kasihan karena Alloh memang telah mencabut rasa kasih sayang dalam hati mereka.
Jika di dunia ini api berasal
dari bahan bakar gas, minyak, sekam, arang dsb, maka kelak di neraka bahan bakar
itu berupa manusia dan batu-batu yang tidak akan pernah habis dimakan api.
Siapa manusia-manusia yang menjadi bahan bakar api neraka ini? Mereka adalah
manusia yang bersifat kafir dan munafik.
Kekafiran merupakan sebuah hal
yang sangat dibenci oleh Alloh. Alloh telah menanamkan aqidah dan mengambil
sumpah setiap manusia sebelum dilahirkan, namun mengapa para orangtua dan
manusia itu sendiri mencabut ikrar tersebut? Itulah sebabnya di ayat ke-9 Alloh
mengutus para Nabi untuk memerangi orang kafir dan munafik. Para nabi diutus
untuk bersikap tegas kepada para kafir dan munafik karena orang tersebut akan
membawa pengaruh buruknya kepada orang lain.
Pada ayat 8 Alloh mengajak para
mukmin untuk bertaubat nasuha baik untuk dosa kufur maupun dosa lainnya.
Taubatan nasuha memiliki 4 cara yaitu:
1. Menyesal
atas perbuatan yang dilakukan.
2. Tidak
mengulangi perbuatan tersebut.
3. Mengiringi
kesalahan dengan kebaikan-kebaikan lain.
4. Jika
melibatkan manusia, harus meminta halalnya (mengakui perbuatan tersebut dan
meminta maaf secara langsung)
Taubatan nasuha akan membuat
Alloh mengampuni dosa seorang manusia dan mengantarkannya pada cahaya yang
menaungi seorang manusia hingga Ia sampai ke surga. Mengenai cahaya ini, ada
riwayat yang menyebutkan bahwa kelak saat hari kebangkitan ada cahaya yang melingkupi
manusia sebagai tanda bahwa ia pengikut Rasulullah SAW. Tanda tersebut yaitu
wajah yang berseri-seri karena wudhu, diterimanya buku catatan amal di tangan
kanan dan adanya tanda sujud di kening mereka.
Di 3 ayat terakhir, Alloh
memberikan tiga contoh model wanita. Yang pertama dalam ayat 10 Alloh
memberikan kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth sebagai model istri yang masuk
neraka disebabkan pengkhianatan mereka pada suami mereka dan juga Alloh. Istri
Nabi Nuh adalah contoh istri yang buruk karena turut mencemooh usaha Nabi Nuh
saat membuat kapal.
Sementara istri Nabi Luth
dikisahkan mengkhianati Nabi dan Alloh dengan cara memberitahukan kedatangan
dua pria tampan kepada umat nabi Luth yang penyuka sesama jenis. Hal ini
mengakibatkan umat-umat Nabi Luth berbondong-bondong mendatangi rumah Nabi dan
melemparinya dengan batu supaya Nabi mau menyerahkan kedua orang ini. Mereka
tidak mengetahui bahwa dua orang tampan ini sebenarnya merupakan jelmaan
malaikat yang datang untuk mengabarkan datangnya azab bagi umat Nabi Luth.
Selain dua kisah tersebut, ayat
ini juga mengajarkan hikmah yaitu hidayah hanya dapat datang dari Alloh. Walaupun jelas-jelas memiliki suami seorang
nabi, tidak membuat mereka secara otomatis masuk surga.
Kemudian di ayat 10 dan 11 Alloh
sampaikan tentang kisah dua orang wanita mulia. Yang pertama yaitu Asiyah istri
Fir’aun. Kisah ini merupakan kebalikan dari kisah sebelumnya. Asiyah merupakan
istri yang masuk surga sementara suaminya merupakan seorang yang dimurkai
Alloh, sementara istri nabi Nuh dan Luth masuk neraka padahal suami mereka
tidak diragukan kesolehannya. Inilah sebabnya suami istri harus saling
menguatkan satu sama lain dalam ketaatan kepada Alloh.
Surat At-Tahriim diakhiri dengan
kisah kemuliaan seorang Maryam binti Imron. Maryam dianugerahkan Alloh surga
karena hidupnya diisi dengan ketaatan kepada Alloh. Sebagaimana telah kita
ketahui bersama bahwa beliau diuji dengan Alloh dengan lahirnya Nabi Isa AS
tanpa memiliki seorang bapak. []
Pertanyaan
1. Bagaimana
cara menjadi istri sholehah?
-Hanya ada dua,
yang pertama tunduk dan patuh kepada Alloh, Rasululloh dan juga suami. Yang
kedua yaitu menjaga diri dan kehormatannya terutama di kesendirian. Maksudnya
adalah, waktu yang perlu diwaspadai adalah ketika seorang wanita sedang sendiri
karena tidak ada orang yang melihat sehingga leluasa berbuat dosa. Di
kesendirian ini wanita harus lebih menyadari bahwa walaupun tidak ada orang
lain, namun Alloh senantiasa mengawasi.
Perselingkuhan seringkali diawali dengan hal ini
2 2. Jika
salah satu cara bertaubat adalah meminta maaf saat berbuat salah dengan
manusia, maka haruskah meminta maaf jika kita telah menuduh seseorang, padahal
bukan dia yang melakukannya?
-YA. Kita harus meminta maaf karena telah
berprasangka padanya. Namun tidak perlu menyebutkan perkara apa yang
diprasangkakan.
Tambahan:
• Orangtua harus memikirkan bagaimana caranya agar
anaknya dapat mendatangkan kebaikan baginya terus-menerus bahkan saat orangtuanya telah meninggal. Oleh
karenanya, orangtua diharapkan senantiasa memberi ilmu dan mengajarkan adab
kepada anak-anaknya. Seperti halnya Nabi Yakub yang sebelum ajalnya mengumpulkan keduabelas anaknya dan bertanya pada mereka, " Siapa Tuhan. Yang akan kalian sembah sepeninggalnya aku?" . Begitulah seharusnya topik yang dibicarakan sebelum seseorang meninggal, alih-alih membicarakan tentang hal keduniawian.
• Sepertiga isi Al Qur’an adalah cerita, kemudian
sepertiga lainnya merupakan hukum, sementara sepertiga terakhirnya berisi janji
Alloh.