![]() |
| sumber |
Disclaimer: Blogpost ini udah mangkrak di draf sejak taun 2017 (sekarang udah Maret 2019). Waktu itu pengen memuntahkan pemikiran tapi ga tau gimana cara nulisnya. If you ever found some story with 'gantung' ending, this could be one of them. Jadi maaf kalau rada-rada random yee
Cerita dimulai dari seorang anak teman saya (sebut saja Dara) yang tiba-tiba ingin pulang dari masa pendidikannya di pesantren. Dara duduk di kelas 5 SD. Dia terlihat sangat stres dan tak berhenti menangis. Setelah diajak bicara, barulah dia bilang kalau ada temannya yang menyebalkan (selanjutnya disebut Lara).
Lara ini merupakan anak baru di pesantren tempat Dara mengenyam pendidikan. Dan kebetulan anak ini ditempatkan sekamar dengan Dara. Lara tadinya bersekolah di sekolah alam, namun karena kelakuannya 'liar' dia dimasukkan ke pesantren oleh orangtuanya.
Lara sering curhat padanya tentang macam-macam mengenai keadaannya keluarganya. Cerita-cerita Lara sangat dramatis hingga Dara akhirnya mulai merasa simpati kepada Lara dan menaruh perhatian lebih. Namun, lama-kelamaan Dara mulai merasa aneh karena Lara menaruh dominasi atasnya. Lara selalu meminta ditemani kapanpun. Tak hanya itu, Dara juga sering disuruh-suruh bahkan minta dipijat.
Dari sini kita bisa melihat sulitnya posisi Dara. Di satu sisi, dia menaruh simpati dan berusaha memberi Lara solusi agar hidupnya membaik. Namun di sisi lain, dia melihat bahwa sikap Lara semakin manipulatif dan mengganggunya. Terlebih, Lara juga tidak menggubris nasihat-nasihat yang Dara berikan atas permasalahannya.
Coba bayangkan jika kita terus dikuntit? Dara memendam perasaan ini berbulan-bulan hingga akhirnya ada suatu titik dimana dia merasa tidak kuat. Dara minta dijemput orang tuanya, lalu di rumah dia menjadi sangat stres. Dia menangis meraung-raung sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Siapa yang bisa disalahkan dalam masalah ini? Ada teman yang berpendapat pendidikan yang salah terhadap Dara. Dara bersekolah di tempat yang homogen sejak kecil, mayoritas beragama Islam, sehingga dia kaget saat menemui ada karakter yang berbeda dari yang biasanya dia temui. Dara tidak dapat mengatasi hal tersebut. Kesimpulannya, pendidikan homogen membuat Dara tidak memiliki fighting spirit.
Dia lebih memilih sekolah negeri alih-alih sekolah Islam agar sang anak terbiasa dengan lingkungan yang heterogen dan pendidikan agama akan ditanamkan di rumah, karena sesungguhnya orangtualah yang wajib mengajarkan hal itu.
Saya pribadi kurang sependapat dengan hal ini karena pendidikan agama harus ditanamkan secara kuat di usia dini seorang anak. Adalah penting bagi seorang anak untuk mendapatkan paparan pendidikan agama yang simultan dan intensif, dimanapun dan kapanpun mereka berada.
Teringat perbincangan dua orang anak berusia 7 tahun dan 9 tahun yang pernah saya dengar sendiri
A: Sholat kan wajib ya untuk orang Islam
F: Iya ya, sholat kan bisa mencegah keji dan munkar
Waw saya benar-benar amaze dengan ini dan faktanya, mereka berdua bersekolah di sekolah Islam. Ya katakanlah walaupun implementasi kebaikan secara nyata belum bisa terlihat namun setidaknya mereka bisa saling menguatkan karena mereka biasa terpapar dengan ajaran-ajaran yang baik. Jadi argumen bahwa Dara menjadi pribadi yang baik-namun-lemah karena bersekolah di sekolah agama bisa saya lemahkan ya.
Pertanyaan saya belum terjawab. Siapa yang salah? apakah salah orangtuanya karena membesarkan anak dengan didikan untuk berbuat baik kepada semua orang?
Nah pe-ernya sekarang, bagaimana caranya mendidik anak yang baik tapi tidak mudah dimanfaatkan orang? Ya didiklah anak biar jadi baik, cerdas plus berkarakter kuat.
Ada poin permasalahan yang saya perhatikan di sini:
1. Dara dibesarkan oleh keluarga bahagia yang hidupnya cenderung alim dan lurus. Namun hal tersebut menjadikannya lembek dan rawan dimanfaatkan. Jadi apakah berarti salah membesarkan anak dengan didikan untuk berbuat baik kepada semua orang?
Jawabannya bisa ya bisa tidak. Salah jika orangtua sekadar mengajarkan kebaikan-kebaikan saja tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk mempertahankan diri. Tapi bagaimanapun, tetap penting untuk memastikan anak dididik menjadi orang yang baik.
Hahaha... Berat banget ya kayanya besarin anak. Dididik biar jd orang baik, eh jatohnya malah dimanfaatin. Kalo dididik jadi jahat lebih ga bener lagi.
Cuma yang saya bisa pastikan, anak baik itu (walaupun sering dibilang lemah, lembek, lelet, klemar-klemer dsb) tetap lebih baik karena memiliki hati yang masih hidup.
Jadi gimana dong?
Caranya mendidik anak?
Yang pasti.... Harus sesuai Al Qur'an dan Sunnah... Kita harus Ikhlas... Mendidik karena Allah semata.
Lalu berilmu, jangan lelah menuntut ilmu
Selebihnya biar Allah yang menyempurnakan.
Ya Allah mampukan hamba mendidik anak-anak ya Allah
