Hari ini saya merasa seperti bajingan. Kenapa? Karena saat
bersama orang partisipan manhaj A saya menjelek-jelekkan manhaj B. Sebaliknya saat berada si tengah partisipan
manhaj B, saya merendahkan manhaj A.
Sampai akhirnya saya tercerahkan. Saya mengambil keputusan
hari ini dan berharap saya tidak akan memusingkan hal ini di masa yang akan datang. Saya tidak
lagi tertarik untuk melihat siapa yang paling baik.
Saat ini saya memutuskan untuk mengabdi di manhaj ini karena dari sinilah wasilah hidayah saya berasal. Saya memilih ini karena merasa manhaj ini menawarkan cara efektif untuk merangkul orang-orang pemula, sekaligus tentunya inilah cara saya untuk membalas budi. Hal ini kiranya mungkin sepadan dengan yang dialami Ust. Felix Siauw setahu saya. Mengapa beliau memilih HTI? Simply because the ustadz who guide him to Islam is HTI member.
Jadi kini saya dapat menyimpulkan bahwa referensi terbaik tak
datang dari manhaj, namun tentunya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk apa hanya memilih satu sementara kita dapat mengambil yang baik dari semuanya? Menurut saya, rugi apabila kita hanya terpaut manhaj tertentu apalagi hingga merendahkan manhaj lain (yang jelas2 pokok ajarannya lurus lho ya). Bahaya banget kalau sudah ada perasaan yang paling baik hanyalah yang ada di diri kita. Kita harus menghargai cara orang lain, apalagi jika
jelas-jelas cara tersebut ada dalam Al-Quran dan atau Sunnah.
Memaksakan pendapat kita dengan cara menjelek-jelekkan
manhaj lain hanya akan membuat orang antipati pada kita (dan dapat berimbas
pada manhaj yang kita dukung). Jika ingin menarik simpati orang pada manhaj
kita, tidak perlulah koar-koar. Karena seringkali kita bukan mencaci ajarannya,
melainkan partisipannya. Seringkali kita menggeneralisasi manhajnya atas
kelakuan oknum individunya. Tak usahlah kita mengghibah lagi. Dengan kita
menunjukkan kebaikan diri yang bersumber dari ajaran manhaj yang kita bawa,
bukankah itu akan lebih mengena?