Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Mendidik Anak Sesuai Fitrah


Makalah yang disusun dari Resume Kajian Madrasah Ummahat oleh Ustadzah Hani Hendayani

Mendidik anak bukanlah tentang menjejali anak dengan berbagai teori Parenting. Namun kita terlebih dahulu harus membaca dan memahami terlebih dahulu bagaimana anak kita. Dan yang harus ditanamkan pada diri kita, didiklah anak dengan hukum Alloh, bukan hukum kita. Semua yang terjadi dalam dunia ini telah ada fitrahnya.

Fitrah Anak

1.       Diciptakan Alloh dengan keadaan yang sebaik-baiknya.
2.      Seperti halnya makhluk Alloh yang lain, telah memiliki ‘modal’ untuk bertahan hidup. Seperti halnya tanaman dapat tumbuh tanpa dirawat manusia. Tugas orangtua adalah menjadi pendamping dan fasilitator.
3.       Alloh memilih kita menjadi orangtua, berarti kita dalah pendidik terbaik untuk mereka.
4.       Setiap anak adalah unik, jadi penyeragaman adalah suatu hal yang menyalahi fitrah.
5.      Tanpa perlu dipaksa, anak sebenarnya telah memiliki naluri untuk bertahan hidup, mencari tahu dan mengembangkan diri.
6.       Anak lahir dengan fitrah yang dibawanya, namun seringkali kita sebagai orangtua yang ‘mematikan’ fitrahnya. Contoh: Anak bangun malam, namun kita menyuruh tidur lagi. Kita menyamankan anak dengan kotor dengan memakaikannya pospak. Sebenarnya mereka telah memiliki modal kedisiplinan dari lahir.
7.       Skenario hidup anak telah dipetakan oleh Alloh.
8.       Fitrah Gholizah : Naluri pemandu kebaikan yang diberikan Alloh sebagai indikator benar salah.
9.       Fitrah Munazalah: Fitrah yang diturunkan Alloh kepada kita yaitu Al Qur’an

4 Fase Fitrah Seorang Anak

1.       0-6 tahun yaitu Masa Pra Latih
Pada masa ini, anak tidak paham aturan.
Seharusnya dimunculkan fitrah individualitas pada masa ini, anak tidak perlu didisiplinkan. namun dicontohkan. Ego mereka harus terpuaskan karena jika tidak, di masa dewasanya mereka menjadi orang yang egois.
2.       7-10 tahun yaitu Masa Latih/Tadhrib. Amak usia 7 tahun mumayyiz, baru bisa dilatih namun tanpa hukuman dan paksaan. Yang harus ditanamkan yaitu menumbuhkan kesadaran, kecintaan dan pemahaman pada aturan dan syariat-syariat Alloh.
3.       10 tahun-Aqil Baligh
Pada masa ini anak perlu dijelaskan tentang adab. Pada usia ini hukuman boleh mulai diterapkan.
4.       Aqil Baligh
Pada masa ini anak telah dibebani syariat.

Hal-hal yang Harus Dilakukan Orangtua untuk Mendampingi Anak Sesuai Fitrah

1.  Menyadari bahwa anak adalah anugerah, maka yang terlebih dahulu harus kita lakukan yaitu MENSYUKURINYA.
2.    Syukuri, ridho kepada pemberian Alloh tersebut, terima kelebihan dan kekurangannya, nikmati dan sabar saat dipergilirkan susah senangnya.
3.   Fokus pada cahaya, fokus pada kelebihan anak sehingga hati kita menjadi lebih lapang dan lebih supportif padanya.
4.      Menyadari bahwa tujuan utama pendidikan adalah memelihara dan menumbuhkembangkan.
5.    Jangan memperlakukan anak seperti yang kita inginkan, tapi harus sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
6.      Menyadari bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Begitu pula dengan anak.
7.      Menciptakan lingkungan yang nyaman.
8.      Tumbuhkan cinta di dalam rumah.
9.      Menjadi contoh dan menghiasi diri dengan kebiasaan baik.
1.   Mengingatkan anak akan tugas utama manusia, yaitu tugas seorang hamba yang harus mematuhi peraturan dan menjauhi larangan. Dan tugas kedua yaitu sebagai khalifah. Khalifah bertugas memelihara apa yang diberikan Alloh dan juga menumbuhkan kemanfaatan sebagai bentuk rasa syukur.
1. Tidak ada kompetisi yang adil karena anak diciptakan berbeda-beda. Yang lebih tepat adalah kolaborasi.
1.   Berikan kesempatan pada anak untuk bereksplorasi namun tetap dalam bingkai Al-qur’an.

Bagaimana Cara Mendidik Anak dalam bingkai Al-Qur’an?

Inspirasi dalam mendidik anak dalam Al-qur'an dapat didapat dari kisah nabi Zakaria As. Nabi Zakaria ini dikaruniai anak (Nabi Yahya) di saat usianya menginjak usia ke-100 (!!!). Ya, di usia 100, dan usia istrinya 90 tahun, akhirnya Alloh menganugerahkan seorang anak kepada beliau. Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Maryam ayat 2-15

19:2 (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

19:3 yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

19:4 Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

19:5 Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

19:6 yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

19:7 Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

19:8 Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.

19:9 Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.

19:10 Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.

19:11 Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

19:12 Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,

19:13 dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa,

19:14 dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

19:15 Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Di ayat ini jelas dideskripsikan permintaan Nabi Zakaria AS atas seorang anak, yaitu yang mewarisi dakwah para nabi dan keturunan yang diridhoi. Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh akhirnya dikabulkanlah permintaan tersebut. Tak hanya mendapat anak, beliau dikaruniai anak yang setidaknya memiliki 8 keunggulan
  1.  Nama "Yahya" yang sebelumnya belum pernah ada di muka bumi
  2. Nabi Yahya diangkat menjadi nabi di usinya yang masih anak-anak
  3. Luar biasa kasih sayangnya
  4. Suci (menjaga diri dan kehormatannya)
  5. Taqwa kepada Alloh 
  6. Berbuat baik kepada kedua orangtuanya
  7. Tidak keras kepala dan berbuat maksiat/durhaka kepada Alloh
  8. Tidak sombong