Bismillah.
Akhir-akhir ini banyak kita lihat bencana yang terjadi. Di satu sisi kita patut bersyukur semua itu tidak menimpa pada kita. Namun di sisi lain kita jangan terlalu percaya diri bahwa kita cukup soleh untuk dapat terhindar dari bencana.
Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ia berkata
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ (رَوَاهُ أبو داود والترمذي وَغَيْرُهُمَا)
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya, sanadnya shahih)
Hadits Nabi SAW
“Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.”Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hlm. 139, hadits no. 2493. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Hibban, ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan yang lainnya dengan redaksi masing-masing.
Kesolehan yang terpancar dari ibadah2 dan tidak berbuat maksiat ternyata tidak cukup membuat kita aman dari azabNya. Jika kita berdiam diri di saat lingkungan kita penuh maksiat, maka kemungkinan kita ditimpa azab. Kita dianggap berdosa karena pendiaman itu berarti kita ridho dengan kemaksiatan tersebut. Lalu apa yang dapat diandalkan untuk terhindar dari bencana?
Jawabannya tidak lain adalah Amar Ma'ruf Nahi Munkar (AMNM). Keutamaan AMNM ini tercantum pada banyak ayat di al-qur'an. Tercatat ada delapan ayat yang menyebut secara jelas kalimat AMNM ini dgn segala keutamaannya
1. Amar ma'ruf nahi munkar adakah tanda orang beruntung
Ali Imron 104 dan
2. Al'A'raf 157
3. Amar ma'ruf nahi munkar adalah penyebab rahmat Alloh
At Taubah 71
4. Amar ma'ruf nahi munkar terdapat pada umat terbaik
Ali Imron 110
5. Amar ma'ruf nahi munkar adalah tanda orang saleh
Ali Imron 114
6. Luqman 17
7. Luqman 31
8. Al Hajj 41
1. Amar ma'ruf nahi munkar adakah tanda orang beruntung
2. Al'A'raf 157
3. Amar ma'ruf nahi munkar adalah penyebab rahmat Alloh
4. Amar ma'ruf nahi munkar terdapat pada umat terbaik
5. Amar ma'ruf nahi munkar adalah tanda orang saleh
6. Luqman 17
7. Luqman 31
8. Al Hajj 41
Cara Amar Ma'ruf Nahi Munkar
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman"
Diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim, Juz 1 (Beirut: Dar Ihya at-Turats, t.t), hlm. 69, hadits no. 78. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud ath-Thayalisi, Ibn Hibban, al-Baihaqi, dan yang lainnya dengan redaksi masing-masing.
Kesimpulan:
ADAB BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR
1. Ikhlas
2. Berilmu
3. Harus menjadi suri tauladan
4. Berlemah lembut dalam dakwah
Maksudnya bukan selalu dgn suara yang lembut namun bagaimana menyampaikan dengan retorika yang tepat tergantung siapa yang didakwahi.
1. Ikhlas
2. Berilmu
3. Harus menjadi suri tauladan
4. Berlemah lembut dalam dakwah
Maksudnya bukan selalu dgn suara yang lembut namun bagaimana menyampaikan dengan retorika yang tepat tergantung siapa yang didakwahi.