Artikel untuk Dimuat tapi Gak Dimuat-muat Taro Blog aja deh :D

 

Surat untuk Anakku

 

Oleh Adinda Fauziah Kusumawardani

 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh 

 

Nak, apa kabar engkau di sana? Tahukah engkau bahwa sebelum engkau lahir, dunia mengalami sebuah peristiwa besar? 

 

Nak, pada tahun 2020 bangsa kita diuji dengan sebuah wabah penyakit bernama Covid-19. Tak hanya bangsa Indonesia sebenarnya. Hampir seluruh bagian di bumi ini telah terjangkit. Kemungkinan terburuk yang terjadi jika seseorang tertular penyakit ini adalah kematian karena Covid-19 dapat menginfeksi saluran vital manusia yaitu sistem pernapasan. Penyakit yang bernama ilmiah SARS-CoV-2 ini sangat mengguncang sehingga dunia berada dalam perubahan drastis. Manusia tidak lagi leluasa pergi keluar rumahnya demi menghindari penyakit ini.

 

Kantor-kantor ditutup, sekolah-sekolah diliburkan, acara-acara penting dibatalkan. Pemerintah menghimbau rakyat untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Ibu ingat di kota kita, semua ini dimulai pada 15 Maret 2020. Baru pertama kali dalam hidup, Ibu melihat masjid dan mushola ditutup.  Tak ada sholat berjamaah di rumah Allah. Bahkan tidak ada sholat Jum'at. Pemerintahpun menetapkan larangan mudik padahal sebentar lagi hari raya Idul Fitri datang. 


Di awal-awal jujur Ibu takut. Namun tak lama kemudian Ibu mendengar bahwa ganjaran bagi seorang yang wafat karena wabah adalah kesyahidan. Hati ini seperti mendapat angin segar. Nak, berislam itu seperti halnya rumah bagi jiwa yang tersasar. Betapa Ibu sangat beruntung dilahirkan dan tumbuh dengan agama ini. Tak ada kegundahan yang tak ada jawabannya dalam Islam. 

 

Wabah penyakit telah ada sejak dulu dan terdokumentasikan dengan baik dalam kotak sejarah. Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ada juga penyakit dengan ciri-ciri yang mirip, yaitu mudah menyebar dan memakan banyak korban jiwa. Wabah ini ada di negeri Syam yang pada saat itu yang diperintah oleh sahabat yang mulia, Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahu anhu

 

Abu Ubaidah menolak untuk pergi dari negeri berpenyakit itu sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya, sekaligus menaati perintah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan beliau berharap diri dan keluarganya ditimpa pula oleh penyakit tersebut agar tercatat sebagai syahid. Dan memang pada akhirnya beliau Radhiyallahu anhu wafat karena penyakit tersebut. 

 

Jujur Ibu sempat berpikir untuk berdoa kepada Allah untuk dikaruniai kematian sebagaimana sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah RA. Namun semakin menjalani hari-hari, semakin merasa diri tidak mampu. Kenapa?  Karena menanggung beban sakit yang ringan saja Ibu merasa tak sanggup. Apalagi sekarang saat rumah sakit dalam keadaan penuh. Bisa jadi nantinya malah menambah beban para tenaga medis. Lagipula, apakah amal ibadah Ibu cukup untuk menjadi bekal jika harus mati sekarang? Akhirnya Ibu tetap mengharapkan kesehatan dari Allah, sekaligus juga menanti janjiNya bahwa siapapun yang menahan diri di rumah saat terjadi wabah tetap terhitung syahid walaupun tidak sampai meninggal. 

 

Nak, hari ini memasuki pekan ke 7 Ibu dan Ayah, begitupula mayoritas penduduk Indonesia mengisolasi diri di rumah. Tapi Nak, tidak semua orang mendapatkan keberuntungan seperti kami. Kami dapat diam di rumah dan Alhamdulillah kebutuhan dapat terus dipenuhi. Sementara ada banyak orang lain yang membutuhkan uluran tangan karena keadaan mereka berbeda. Dan di sinilah Ibu berpikir, inilah alasan yang membuat Ibu harus bertahan. 

 

Di luar sana ada banyak orang yang menggantungkan pendapatannya dari pekerjaan harian seperti para pedagang kecil, tukang ojek, pekerja konstruksi, tukang sol sepatu, tukang parkir. Hanya berdiam di rumah sama dengan kematian bagi mereka, karena mereka tentu akan dilanda kelaparan. 

 

Begitupula dengan Teteh. Teteh adalah seorang janda yang sesekali membantu ibu bebersih rumah dan menyiapkan buah untuk berjualan salad. Qadarullah saat masa wabah ini Teteh pun menjadi salah satu orang yang "dirumahkan". Dirumahkan bukan berarti bekerja di rumah, tapi diberhentikan dari tempat bekerjanya sehari-hari. 

 

Pada saat itu Ibu dan Teteh bertemu. Dia menceritakan keadaannya yang sekarang menganggur, padahal anaknya tiga, dan dua di antaranya masih bersekolah. Dia meminta Ibu untuk mendaftarkan namanya sebagai penerima bantuan sosial. Tapi Ibu berpikir, bukankah seharusnya tidak boleh meminta-minta kepada sesama manusia kecuali dalam keadaan sangat terdesak? Namun belum tentu orang paham dengan hal ini.  Akhirnya Allah memberikan Ibu ilham untuk membantu dengan cara lain, yaitu membuatkan Teteh sebuah lapangan pekerjaan yaitu usaha bumbu dasar siap pakai. 


 

Kenapa usaha ini? Berangkat dari kelelahan yang Ibu rasakan di awal masa isolasi. Ibu merasakan sedikit kesulitan ketika harus memasak setiap hari. Biasanya Ibu hanya memasak di akhir pekan. Hal ini disebabkan Ayah jarang makan di rumah mengingat padatnya jadwal di kantor saat hari kerja. Alasan kedua, modal yang dikeluarkan tidak harus besar. Disamping itu, di masa penuh ujian saat ini pastinya orang akan semakin berhemat dan memprioritaskan kebutuhannya pada hal yang primer yaitu makan. Jenis makananpun akan dipilih-dipilih. Menurut Ibu bumbu dapur merupakan penunjang makanan pokok yaitu dalam pembuatan lauk. 

 

Dengan pemikiran-pemikiran itulah yang akhirnya membuat Ibu meminta izin pada Ayah untuk menginfakkan sebagian rezeki untuk menjadi modal usaha untuk Teteh. Alhamdulillah ayah setuju. Dengan uang itu Ibu belikan keperluan usaha pokok seperti bawang, minyak, cabai dan rempah-rempah. Alhamdulillah akhirnya usaha tersebut berjalan hingga proses produksi yang kesekian kalinya. 


 

Proses lahirnya usaha bumbu ini adalah salah satu dari sekian banyak hikmah yang terjadi saat wabah. Ada banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa ini. Pertama, mari kita bahas dari aspek agama. Nak, berkat wabah ini, sekarang orang lebih menyadari bahwa syariat Islam itu baik. Yaitu syariat untuk menutup wajah dan juga syariat menyucikan diri. Ya, sekarang orang ramai-ramai menggunakan masker dan mencuci tangan. Semoga momen ini menjadi titik di mana banyak orang mendapat hidayah ya,  Nak. 

 

Hikmah lain dari wabah ini yaitu mendekatkan seseorang dengan keluarganya. Sudah tidak ada lagi alasan bagi orangtua untuk tidak bermain dengan anak-anaknya. Bagaimana tidak,  mereka diharuskan untuk selalu berada di rumah. Mungkin hal ini membuat sebagian orangtua kerepotan. Namun bagi anak, hal ini merupakan anugerah karena dapat menghabiskan waktu bersama orang yang paling mereka sayang.

 

Hikmah selanjutnya dari wabah ini adalah, bumi seperti sedang menyembuhkan diri dari berbagai kerusakan akibat aktivitas manusia. Tahukah engkau, pada saat orang di rumah, binatang-binatang lebih leluasa bermain di luar. Di sebuah negeri terlihat keluarga babi hutan bercengkerama di taman kota seperti sedang berpiknik. Bahkan binatang eksotis seperti burung merak, dapat santai berjalan di tengah jalan raya! Lapisan es di kutub yang sempat mencair akibat pemanasan global, kini mulai kembali terbentuk. Di berita lain Ibu dengar, kanal di kota Venezia, Italia menjadi jernih.

 

Pada suatu hari mata Ibu terperangkap di salah satu ayat di Al Qur'an. Ayat itu terdapat pada Surat Ar Rum ayat 41. Bunyinya begini,

  "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"

 

Begitu jelas dan relevan pesan Allah yang tercantum dalam ayat ini. Musibah ini bisa jadi merupakan buah dari perilaku kita sendiri. Dan ternyata tujuan Allah menguji agar kita kembali padaNya. Mungkin kita tidak diijinkan mudik dalam bentuk fisik., tapi Allah menghendaki kita mudik secara spiritual. Dan seharusnya di situasi ini orang tidak dapat lagi beralasan. Dulu mungkin orang bisa berdalih sibuk lah, agenda penuh lah, capek lah. Kini sudah tak ada lagi alasan karena tak ada lagi jadwal yang dikejar. Maka hendaknya manusia, terutama Ibu, harus memanfaatkan momentum berharga ini untuk mendekat kepada Allah yang Maha Agung.

 

Dan omong-omong tentang mendekatkan diri, hari ini sudah hari keenam belas Ramadhan. Sepertinya Ibu harus menyudahi surat ini untuk bisa mengejar ketertinggalan dalam ibadah. Ibu sangat berharap suatu hari nanti dapat menceritakan perihal wabah ini langsung kepada engkau, yang telah kami nantikan sejak 7 tahun lamanya

 

Salam sayang dan rindu

Ibu