Habis liburan panjang.. Saatnya kembali ke rutinitas. Menabung receh demi receh amal, untuk menjadi bekal kelak.
Hanya kepada Allah aku berharap untuk dapat menjalani hari demi hari dengan rasa semangat; kombinasi antara raga yang prima, iman yang terjaga dan hati yang ceria. Cailaah....
.........
Pulang kampung selalu menjadi aktivitas mencharge semuanya lagi. Entah kenapa masa-masa di rumah memberikan insight baru, seperti kemarin. Pencerahan ini terkait dengan jalan hidayah seseorang.
Mungkin kita sering bingung kepada orang yang bertanya. Kenapa tidak semua orang dapat hidayah? Kenapa harus ada penjahat? Kenapa ga semua orang dijadikan baik?
Mungkin tidak pernah terlintas di benak kita pertanyaan itu. Hal ini biasanya ditanyakan oleh seseorang terkait keadaan yang terlampau banyak mengandung kriminalitas. Namun ternyata pertanyaan ini bisa ada juga karena salah satu orang terdekat kita ternyata "membutuhkan hidayah" pula.
Kita beranggapan dia belum dapat hidayah karena kita berbeda pandangan dengannya. Berbeda dalam hal apa saja? Berbeda prinsip, berbeda nilai hidup, berbeda standar keyakinan, dsb. Hal inilah yang kemudian membuat kita bertanya dan menuntut,
"Kenapa ga semua orang dapat hidayah?"
Adab Menasihati
1. Niat Ikhlas
Yup. First things first: niat. Apa niat kita? Apa sih yang membuat kita menuntut perubahan pada dirinya? Pertama tentunya memang kita takut tak bisa bertemu dengannya lagi dalam keabadian akhirat. Lalu selanjutnya apa? Kita mungkin tak nyaman mendengar berita-berita buruk tentangnya. Atau mungkin kita takut hidup kita terimbas oleh perilakunya.
Kedua hal tersebut nggak salah.. Namun ingatlah pertama-tama kita harus mendasari niat kita untuk menasihati semata-mata mengharap ridhoNya. Ya.. Sesimpel itu. Kita melakukan ini untuk melaksanakan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dan mengharap agar Allah ridha.
Masalah diterima atau nggak, ga usahlah kita pikirkan karena bukan wewenang kita. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa manusia tak diberi wewenang untuk memberikan hidayah. Agar tak ada dalam hati perasaan berjasa terhadap seseorang. Urusan hidayah itu hak prerogatif Allah semata.
2. Cara yang benar sesuai syariat.
Ketiga tahapan dalam berdakwah ini menjadi pedoman sekaligus menenangkan loh. Kok bisa? Ya karena tidak semua hal buruk dapat kita nasihati. Kita harus lihat-lihat siapa yang kita hadapi sekaligus situasi kondisi pada saat menasihati. Menurut pengalaman, saat terbaik menasihati orang adalah saat orang itu yang memulai dahulu pembahasan mengenai hal yang kita anggap munkar tersebut. 👌
3. Gunakan kata-kata yang baik
Mungkin kita mengira bahwa memaksa seseorang untuk berubah itu merupakan cara terbaik. Tapi kenyataannya, tidak. Pemaksaan agar seseorang mengikuti jalan yang kita mau merupakan hal yang kontra produktif. Alih-alih membaik, nasihat kita malah akan jadi mental.
Menuntut orang lain untuk berubah berarti berharap jalan pintas sekaligus gambaran ketidaksabaran.
Ambillah contoh dari kisah para Nabi karena hal ini terjadi pula pada para Nabi terhadap umat-umatnya. Jelas ada di surat Nuh. Keluh kesah lengkap sang nabi terhadap sang pencipta.
Walaupun mengambil contoh dari umat terdahulu mungkin lebih ekstrim karena perbedaan itu pada masalah akidah, namun setidaknya hal ini dapat menjadi pelajaran bahwa begitulah keniscayaan dalam dakwah.
Perintah Allah Subhanahu wata'ala terkait cara berdakwah dapat dibaca pada ayat Al Qur'an :
“Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44)
Perintah ini diturunkan saat Nabi Musa disuruh mendakwahi Firaun. See? Firaun orang terbengis aja disuruh dakwahnya lemah lembut, apalagi target dakwah kita?
4. Tabayyun (cross check)
Sebelum ngoceh nggak jelas. Tanyakan dulu.. Konfirmasi apa benar dia udah ngelakuin hal itu? Pastikan kejadiannya benar agar kita ga malu karena bawa berita hoax, okay?
5. Jangan suuzhan
Nah ini yang susah. Jangan su'udzan. Padahal kita udah berapi-api.. Tapi tetep ya.. Tahan dulu.. Ingat dia ini saudara muslim yang harus kita beri udzur..
6. Jangan memaksa agar dakwah diterima
Kita harus mengingat bahwa setiap kita dihisabnya satu persatu.. Sejatinya kita ga akan ditanya tentang orang lain. Namun bagaimana pun juga kita wajib mengingatkan. Ketika kewajiban itu tertunaikan. Jangan berharap orang itu dapat langsung berubah. Ikhlaskan hati.. Sekarang yang bisa dilakukan yaitu kencangkan doa untuknya..
Beberapa doa yang dapat dilafalkan antara lain:
7. Tidak menasihati di depan umum
Dulu saya sempat menyesali kenapa ya.. (terutama pas masih sekolah) Kalau lagi dibully di depan orang-orang saya ga bisa bales dengan kata-kata yang juga sama nyelekitnya. Pas udah nyampe rumah baru nyesel, kenapa ga dibales gini, kenapa ga bales itu.
Ya, ternyata semua itu kebaikan juga yang Allah kasih agar konflik tak jadi berkepanjangan (selain penjelasan bahwa kemungkinan besar saya ini phlegmatis 😁)
Membalas ejekan orang lain di muka umum tak akan menjadikan orang itu jadi lebih baik. Malah bisa saja dia balas lagi dengan perkataan yang lebih menyakitkan. Menasihati yang paling baik memang harusnya empat mata.. Dan yang seperti pernah saya cuplik di atas, saat orang tersebut terlebih dahulu membahas "isu" yang sesang ingin kita kritisi.
8. Tidak melakukan tahrisy (provokasi)
Nah ini saya ga begitu mudeng nih pembahasannya.. Langsung cuss aja ya ke https://muslim.or.id/52031-adab-adab-dalam-memberikan-nasehat.html
Okey?
.
.
.
Epilog
Kenapa sih menulis ini? Salah satunya adalah agar kita bersyukur memiliki kesempatan untuk dapat berjalan di jalan hidayah yang InsyaAllah lurus ini..
Juga agar tak pegel hati mengurusi yang bukan menjadi domain kita.
Yang bisa kita lakukan yaitu berdoa sekuat tenaga dan melakukan sebab yaitu tetap bersilaturahim seperlunya..
