Antara Pandemi dan Pulang

Semalam saya terpaku dengan video di youtube ini

Beliau adalah seorang ustadz yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya karena Covid-19. Mirisnya lagi.. Video ini dia buat juga ketika sedang menjalani isolasi di rumah sakit - juga karena Covid. Bicaranya bergetar, beberapa kali tangisannya tak terbendung. Sementara hidungnya terpasang selang oksigen.

Terlebih dulu ibundanya yang wafat. Kemudian beberapa hari setelahnya, ayahandanya pun berpulang. Sebelumnya mereka memang dirawat bersamaan di kamar yang sama. 

Sedikit banyak video ini menyentuh saya. Bukan hanya karena memang beliau adalah kakak kelas SMA saya, ibunya pun merupakan teman pengajian ibu saya. Namun lebih kepada.. Allah sepertinya menunjukkan musibah yang menimpanya agar saya melihat dan mengambil pelajaran darinya. 

Bayangkan saya ada di posisinya.. Sakitnya tak hanya di raga, namun jiwanya. Beberapa kali saya mendapati teman atau tetangga mengenang orangtuanya di media sosial. Terasa sekali rasa kehilangan dan kerinduannya.. Bagaimana dengan Ustadz Weemar yang kehilangan keduanya hampir dalam waktu bersamaan? 

"Ga gila aja udah untung" sahutnya. Saya rasa wajar memang.  Namun katanya dia dimudahkan untuk mengikhlaskan kepergian ibundanya karena sebelum wafatnya, ibu ustadz Weemar pernah minta didoakan untuk bisa husnul khotimah. Ya. Dan insyaAllah memang dia dapatkan. Bukankah meninggal karena wabah penyakit Allah ganjar dengan pahala syahid? 

Hal ini seketika "menyembuhkan" sedikit kegelisahan saya yang takut juga terpapar sakit ini. Kegelisahan itu muncul karena gelombang kedua COV19 ini. Sekarang keadaannya kerasa banget mencekam. 
Udahlah banyak berita dari temen dan tetangga. Sodara juga ada yang meninggal karena covid. Tiap hari dari speaker masjid ada berita dukacita. Sering banget denger sirine ambulans.

Di titik ini saya merasa down banget dan berujung pada futur. Sebuah keadaan di mana semangat ibadah mengendur. Namun setelah mendengar kisah Ustadz Weemar sedikit banyak membuat saya merenung. 

Mengapa kita harus takut mati?  Sedangkan kematian itu tentunya merupakan jalan kita bertemu Sang Pencipta? 

Itu hal pertama. 
Yang kedua, mungkin dari pertanyaan itu kita dapat berdalih.  1. Saya bukan takut mati tapi lebih kepada takut akan penderitaan sakit..  Seperti susah dapat obat, susah dapat RS, atau oksigen dll. 
Itu merupakan kekhawatiran yang wajar. Namun bukankah selalu ada kesempatan untuk berdoa?  

Dan bukankah jika memang kita selama ini berniat ingin mati syahid, sekaranglah kesempatan itu terbuka lebar? 

Dalih kedua. Saya takut mati karena merasa amal belum cukup. Ya udah sekaranglah saatnya untuk memaksimalkan waktu. Ingat jargon, "the power of kepepet?" 

Sikapi pandemi ini seperti saat kita sedang tertimpa masalah. Jangan malah "kabur" dengan cari2 hiburan dan pelampiasan agar kita lupa pandemi ini sedang terjadi. Jangan mencoba mengalihkan perhatian kita terhadap wabah ini dengan mencari kesenangan. 

Tapi HADAPILAH. 
Jangan avoidant. Ini masalah yang harus diselesaikan. Kita harus jalan menuju jalan keluarnya.  Walaupun tidak bisa selesai dalam waktu singkat namun kita harus tetap mengusahakan yang terbaik. "alihkan" perhatian kepada hal-hal yang berdampak baik setelahnya. Seperti beramal soleh, tetap produktif dengan tugas-tugas rumah, olahraga, dll. Mencari kesenangan lewat HP bukannya tenang hati kita malah jadi BM, duit terkuras, mood jadi jelek.. 

Kata Ustadz Syafiq, pandemi ini semakin menyadarkan kita bahwa dunia ini adalah penjara.. Bukan di sini kita berharap kebahagiaan yang hakiki.. Tapi tetap ingat.. Walaupun dunia ini penjara, tapi kita hendaknya menjalani dengan tetap optimis dan bahagia. Bahkan bahagia itu harus selalu diusahakan. Makanya.. Mari kita selalu berdoa agar Allah bahagiakan kita walapun sedang diuji. 

Dan selalu hadirkan optimisme dalam hati kita bahwa insyaAllah keadaan akan membaik. Bukankah program vaksin sedang digalakkan? Dan selalu ada tanah untuk bersujud kan untuk kita melangitkan doa-doa?