Bismillahirrahmaanirrahiim
Hola everyone..
Jumpa lagi dengan saya, kali ini kita akan membahas tentang : Timbangan.
Yha.
Wanita tak jauh dari urusan timbangan bukan? (bukaaann)
Wkwk
Jadi ceritanya kemarin pas pandemi saya naik lagi tuh.. Balik lagi ke muasal 68 kg. Emang parah banget kalau dipikir-pikir. Makan ga ada jeda. Tapi ya udahlahh.. Semua telah terjadi .. Kata orang, bisa survive dari virus covid aja dah sukur banget.
Saya pernah bahas masalah ini sampai dengan dengan pede bikin tips langsing . Sekarang pas udah sadar.. Ngapain ya dulu panjang lebar nulis gitu karena sebenernya waktu itu yang buat saya kurus cuma satu hal deh : karena stres nerima jahitan. Wkwkkw
Anyway.. Saya ga sendiri.. Ada orang di luar sana yang juga menggendut selama pandemi. Tapi di akhir 2021 ini sepertinya orang-orang mulai bounce back. Istilah mudahnya tobat. Saya pun mengalami hal yang sama. Dulu pada saat saya makan tanpa henti, ada sebuah bisikan di dalam batin saya, "sampai kapan mau begini? "
Lalu akhirnya saya ditimpa penyakit yang mengharuskan saya terkapar di rumah sakit. Obat-obatan rumah sakit yang begitu manjur, ternyata tak bersahabat dengan lambung. Sepulang dari RS perut saya menjadi lebih mual. Nafsu makan turun.
Bahagia? Hmm.. Gimana ya. Ada memang perasaan seperti itu. Karena memang inilah yang dulu saya dambakan. Dulu saya selalu bertanya-tanya, akankah ada saatnya nafsu makan saya menurun hingga tak lagi rakus. Namun saya juga tak mau dengan cara begini. Saya tak mau nafsu makan berkurang karena sakit. Saya mau sehat dan juga makan secukupnya. Lalu akhirnya saya berdoa sapu jagad.
Ya.. Terkadang kita suka berprasangka buruk terhadap diri kita sendiri.
Dulu sering saya merasa
- Saya tak mampu untuk menahan makan
- Saya tak mampu diam di rumah tanpa main HP sepanjang waktu
- Saya harus menyibukkan diri dengan sebanyak mungkin aktivitas di luar rumah agar tak main HP mulu
Sakit mengajarkan saya untuk mematahkan semua pendapat di atas. Sekarang saya belajar, bahwa semakin saya sibuk, semakin stres dan semakin banyaklah nafsu makan saya. Kecapekan membuat saya makan dengan sembrono.
Maka dengan kasih sayangNya, sekarang saya bisa mulai menikmati waktu istirahat di rumah. Saya belajar untuk beristirahat dengan berkualitas.. Saya mengambil waktu untuk rebahan sebanyak mungkin dan tetap dapat produktif walaupun sedang berbaring.. Ternyata dengan aktivitas yang tidak terlalu sibuk, saya jadi merasa tidak perlu untuk memasukkan terlalu banyak makanan di tubuh. Saya pun memiliki waktu untuk mempersiapkan makanan sehat.
Sebelum sakit, saya sempat berkonsultasi online dengan dokter gizi klinik. Saya menyampaikan keinginan saya untuk menurunkan berat badan kepadanya. Kemudian dokter itu memberikan saya beberapa saran dan juga meal plan. Namun saya merasa berat untuk menjalani karena banyaknya pantangan yang ada di situ.. Sehingga akhirnya saya tidak mengikuti sarannya sepenuhnya.
Hingga akhirnya saya sakit, Allah mengabulkan permintaan saya untuk menurunkan berat badan.. Dan hal itu adalah karunia terbesar karena saya menganggap hal itu sebagai kesempatan saya untuk memulai semuanya dari awal. Kapasitas perut saya menjadi kecil.. Sebagai gambaran, sekali makan saya hanya bisa menghabiskan tiga sendok nasi.. Dengan lauk seuprit.. Semua itu saya lakukan dengan terpaksa karena memang perut sedang tak nyaman.
Kini, seiring dengan membaiknya keadaan fisik saya (and my appetite as well) saya merasa inilah saat untuk memperbaiki keadaan saya.. Tapi kembali lagi, saya tak mau dengan peraturan yang ketat. Saya ingin santai menjalani diet ini.. Maka dari itu yang saya lakukan adalah: makan apa saja boleh asal dijeda. Jangan sampai makan banyak dalam waktu bersamaan.
Yang kedua yaitu jangan menyengaja membeli jajanan tak sehat. Meskipun ditujukkan untuk suami. Kalau untuk lauk apa saja boleh dibeli.
Dua hal itu doang sih yang harus saya tanamkan baik-baik dalam pikiran saya. Nah peraturan yang merupakan tambahan ini adalah berdasarkan saran dokter selama di RS juga dari pengamatan pada tubuh saya sendiri. My obgyn didn't forbid me to eat certain food. But nutritionist from the hospital said that i should limit eating uncooked food and food with preservatives to prevent me from kambuh. She also writes I should prevent gassy food (spicy, sour, santan) to prevent my stomach bloating.
Jadi dengan pedoman tersebut akhirnya saya menyimpulkan bahwa diet saya seperti berikut.
Batasi
1. Pedas
(karena saya menghindari agar tidak ambeien dan juga membuat nafsu makan menggila)
2. Minuman manis
(gatau kenapa buat bloating parrah ga enak buat susah tidur. plus dia buat ketagihan juga alias sugar craving..ohya jadi bikin sugar rush sampe susah ngantuk di malam hari woy.
3. Susu
(bikin bloating. Kalau pengen banget, beli yang ukuran kecil mecem Ultramimi gitu aja lah)
4. Tepung
(karena buat autobuncit. Ciyus... Dan juga gluten membuat usus kita bingung membedakan mana yang bagus mana yang tidak. Buat konstipasi. Mengganggu penyerapan nutrisi pulak)
5. Semua yang dingin
(gatau kenapa skg jadi lebih sensitif ama yang dingin2.. Include buah yang ada di kulkas. Dulu saya bisa loh makan sop dingin dari kulkas..tapi sekarang mana sanggup.. Auto radang tenggorok shay)
Alternatif cemilan
1. Sumber Probiotik
- yogurt, kimchi, tape, tempe, acar,
2. Snack
- putih telur rebus
- kacang kulit
- kuaci
- pisang panggang
- tape
- almond slice
- kismis
- overnight oats
- granola
- salad
Wajib banget
- air anget bangun tidur
- buah 3 porsi
- sayur segar (ini diakalin pakai acar dan kimchi sesekali)
- nasi putih
- air putih 1,95 liter /day
- jalan kaki santai tiap hari
- kerjakan hobi (masak, baking, crafting, jahit) kenapa? Karena menciptakan rewarding feeling.. Selain itu agar tubuh kita bergerak, hormon kebahagiaan memancar, juga agar kita memiliki legacy. Memandang barang hasil karya sendiri itu bahagianya 'khan maenn
Jadi gitu.. Saya butuh jaga makan tak hanya agar berat badan ideal.. Utamanga juga agar saya memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri. Karena menjaga tubuh merupakan bentuk dari syukur kita terhadap Allah.. Selain itu saya juga ingin menghindar penyakit hemorrhoid saya jadi lebih parah karena operasi ambeien tuh sakitnya lwar byasah (menurut cerita rang orang)
So, yeah.. Doakan semoga saya istiqomah okay?
Ohya satu lagi.. Ada kalanya memang kita makan sembarangan karena keadaan emosi yang stabil. Seperti stres atau PMS. dan ini scientific. Jadi please ga usah terlalu guilty ya.
Penting juga untuk tidak memasukkan terlalu banyak informasi ke dalam pikiran kita. Stick with something you observe in yourself and what doctor's say !!!