Finally Quit

Semakin hari semakin menyadari betapa perbedaan itu sebuah keumuman.
Apalagi dalam hal agama.. feel juga beda ya.. benar kata orang yang bilang, agama itu sangaat personal.
Dan akhirnya setelah mulai dari 2009.. saya memutuskan untuk keluar dari lingkaran ini.

Izinkan saya mengelaborasi sejenak, 

Metode orang dalam 'menyelami religiusitas' itu memang berbeda. Berbanding lurus dengan fitrah manusia yang memang unik per individu. Banyak jalan dalam mengaji ajaran Islam yang lurus. Yang saya tahu yaitu Jamaah Tabligh, HTI, Tarbiyah, Hidayatullah, Muhammadiyah, Salafy.. Selebihnya pasti ada namun karena keterbatasan pengetahuan, saya tak tahu yang lainnya.

Di awal perjalanan saya memperdalam Islam, saya bertemu dengan Tarbiyah. Saya saat itu merasa beruntung karena memang materi agama Islam ada di dalam materi perkuliahan. Di titik ini, pertanyaan dan rasa keingintahuan saya terjawabkan.. Dan Alhamdulillah mengantarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik di bawah naungan ajaran syariat.

Waktu berjalan.. Kelompok pengajian (halaqah)  yang saya ikuti pun berubah seiring fase hidup saya. Kuliah, kerja, menikah. Semua sangat saya senangi.. Mencari kelompok baru selalu saya lakukan di tiap tempat yang saya tinggali. Selain agar keimanan tetap terjaga, saya merasa terbantu dengan pergaulan di dalamnya. Pergaulan ini sangat membantu saya untuk mengenal lingkungan yang baru saya tinggali. 

Kelompok halaqah saya yang sekarang merupakan kelompok terlama yang saya ikuti. Hal ini wajar karena memang saya settle untuk membangun keluarga kecil saya. Tempat ini merupakan kota yang belum pernah saya tinggali sehingga saya perlu berusaha keras untuk betah.. Karena saat itu yang saya kenal hanya mertua dan keluarga ipar. 

Proses untuk mengenal lingkungan ini saya dapat dari berbagai kegiatan dan penugasan dalam hal sosial kemasyarakatan dari guru saya. Darinya, perlahan saya mulai berkenalan dengan lokasi dan orang-orang baru. 

Waktu berjalan, berbagai hal terjadi dalam hidup saya. Di awal saya berniat untuk stay. Inilah tempat saya menuntut ilmu. Inilah tempat untuk giving back to society. Namun lama-lama saya merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah lingkaran itu. 

Bagaimana cara mendefinisikan ketidaknyamanan itu?  

Tiap ada pengumuman untuk bertemu, jantung berdegup kencang. Rasanya hal ini bukanlah lagi sesuatu yang saya sukai. Saking stresnya saya malah jadi futur. Malas ngapa2in.. Kelihatannya kegiatan cuma 2-3 jam saja namun kenyataannya, efek pada saya bisa sepekan penuh. Karena saya merasa emotionally drained.

Saya tak tahu, saya yang berubah, atau mereka? 



Di kelompok yang ini, 6 tahun telah terlewati. Sangat sulit rasanya harus berpisah dengan orang-orangnya. Namun keputusan ini memang harus dibuat karena hati saya sudah memberontak walaupun pertanyaan datang bertubi dari dalam diri.

1. Benarkah keluar agar sekadar tidak capek?
 Mungkin benar iya. 

2. Nanti bagaimana dengan kelanjutan target dakwah?
Alhamdulillah sekarang walaupun cuma satu namun ada.

3. Nantinya dapat ilmu dari mana?
 InsyaAllah saya dapat dari materi yang saya ajarkan juga kepada target dakwah.

4. Nanti tak ada sahabat bagaimana?
Gapapa toh masih ada keluarga.

5. Bagaimana jika nanti malah jadi ga beramal sholih?
InsyaAllah target amal tetap per bulan. Infaq yatim dan dunia islam. 

Saya membayangkan, bagaimana bila ganti kelompok saja dengan guru yang baru? Namun pastinya dengan guru baru pun program tak kan jauh berbeda. Dan itu masalah saya sekarang. Saya merasa tidak mampu mengemban amanah lagi selain yang sudah ada by default, yaitu amanah yang menyangkut suami dan rumah.

Dan satu lagi.. amanah membimbing seorang muslimah muda. Dia merupakan seorang gadis rapuh yang perlahan kuat seiring maslah-masalah yang dihadapinya. Dia adalah seorang wanita yang kelak menjadi ibu. Membimbingnya menjadi harapan saya untuk menjadi amal jariyah.. karena nantinya dari rahimnya akan lahir generasi-generasi baru, Insya Allah. 

Tugas harian dan tugas membimbing dua kali sepekan.Ya.. itu saja sebenarnya. Amanah anak juga belum ada. Terus terang saya agak malu jika dibandingkan dengan rekan saya yang lain.. Namun kembali lagi, setiap orang unik. Dan keadaan saya berbeda dengan mereka dalam hal fisik dan psikologis. Saya merasa amanah yang saya emban sekarang sudah cukup berat karena saya tipe orang yang perfeksionis. Saya ingin amanah yang ada dan setiap ekspektasi yang timbul darinya, saya penuhi dengan baik. 

Bicara ekspektasi, salah satu hal besar yang menjadi pertimabangan saya keluar, karena saya merasa awful kalau seseorang meminta saya sesuatu namun saya tidak dapat memenuhinya. Nggak tahu kenapa ya saya merasa bersalah aja.

Lalu semakin hari saya semakin belajar bahwa yang membuat saya bahagia menjalani hari-hari walaupun kewajiban menumpuk, adalah ketika saya dapat melakukan hal yang saya sukai sekaligus bermanfaat. Dan yang saya maksud adalah melakukan hobi. Saya ingin sekali di waktu yang saya miliki, saya masih dapat mengerjakan hobi yang menyenangkan.

Mengapa saya ribut mengenai perihal kebahagiaan ini. Itu semua tidak lain karena saya tetap ingin mencapai cita-cita duniawi tertinggi saya, yakni menjadi hafidzah. Ya.. Hafidzah seperti yang (ternyata) telah tertera di blog ini sedari lama. Kegiatan menghafal yang tak pelak membutuhkan waktu yang cukup dan suasana hati tenang, mengharuskan saya untuk tetap menjaga agar hati saya ringan dan gembira. Tak dapat dipungkiri kegiatan ini mungkin tak melezatkan raga.. But in the end of the day, I strongly believe that I will gain 100% satisfaction guarantee (and the reward as well, InsyaAllah).

So,  yeah
Bismillah