Pertama ketrigger sama postingan salah satu temen..udah lama banget sih beberapa tahun lalu. Postingan itu nunjukkin chart umur orang dan seberapa jauh seharusnya posisi karirnya. Sekarang saya cari-cari grafik itu tapi ga nemu. Ya udahlah akhirnya bikin ala-ala nya.
Ini sebagai gambaran aja ya. 100% tidak berdasarkan data saintifik wkwk.
Ya! Dulu sebelum punya pegangan hidup saya mudah terpengaruh dan terintimidasi oleh postingan-postingan seperti itu. Dulu saya memegang erat jargon "Jika kita keras pada diri sendiri, dunia akan lembut terhadap kita. Begitu pula sebaliknya"
Hadeh.
Kasian ya dulu saya jahat banget sama diri sendiri.. Ambisius banget dan menganggap diri selalu kurang.
(Again, thanks to pandemic. Sekarang orang-orang lebih memiliki waktu untuk self reflect, sehingga kini orang lebih memikirkan ulang tentang prioritasnya. )
Oke balik lagi ke chart yang tadi. Di saat itu kayaknya saya umur 25. Di umur segitu paling nggak saya harusnya udah jadi officer. Padahal realitanya, saya masih jadi admin. Masih staf 😁..
Kalau dilihat sekarang.. Ya orang kan beda-beda. Tapi kebanyakan skg sih wajar banget di umur segitu masih jadi 'staf'. Tapi tentu kalian tau aku. Aku yang ambis waktu itu ngerasa rendah diri dengan posisiku waktu itu. Overthinking lah. Kenapa ya aku kok ga jadi orang yang punya jabatan penting di kantor? Kenapa dulu kerjaku di tempat yang sangat general: administrasi. Tapi ya mungkin emang karena aku ga menekuni satu bidang aja sebagai "identitas"ku. Terus kenapa di umur aku yang segitu aku tidak jadi seorang expertise yang ahli di suatu bidang. Kenapa aku tidak menekuni satu bidang yang sama sehingga aku bisa meniti jalan menuju sukses (versiku dulu) ?
Aku berkuliah di Fakultas Sastra, ikut kegiatan ekstra kampus dalam bidang politik dan jurnalistik, kemudian bekerja di bank syariah sembari usaha kecil-kecilan di berbagai bidang.
Kalau dilihat memang terlalu random ya. Saya juga sadar memang saya orang yang mudah bosan dengan satu hal yang sama. Karena saya penasaran dengan berbagai hal yang ada di luar sana.. Dan saya memiliki keingintahuan yang besar di bidang-bidang yang lain.
Nah.. Tapi sekarang saya baru sadar kalau saya nggak aneh. Di barat ada istilah, "Jack of All Trade". Dan ternyata saya merupakan salah satu di antaranya. Jadi saya tuh bisa macem2 tapi hanya sekadar bisa aja. Ga sampe ditekuni dan jadi ahli. Misal nih saya bisa jahit, tapi ya sekadar bisa aja, ga sampe jago.
Terus pertanyaannya, apakah itu menjadi masalah?
Ternyata eh ternyata.. Nggak masalah kok... Ga usah pressure kalau orang lain udah achieve ini itu.. Mungkin kita sempat iri dengan wanita di luar sana yang menonjol dengan karirnya. Di sini kita minder, sekolah tinggi-tinggi eh ujung-ujungnya cuma ngurusin kasur, sumur, dapur. Katanya,,
Tapi menurutku malah seharusnya seorang wanita bangga dengan perannya menjadi IRT karena dia bisa maksimalkan seluruh waktunya untuk menunaikan perintah Allah yang ada di pundaknya. Yakni perintah untuk tetap berada di rumah dan mengabdikan segenap waktu dan tenaganya untuk urusan rumah, suami dan anak-anaknya.
Dan menjadi seorang generalis -yang merupakan karakteristik seorang jack of all trade - memberikan kita keuntungan tersendiri dalam menjalani peran sebagai wanita. Mengapa? Hal ini disebabkan karena tolak ukur kesuksesan seorang wanita bisa dilihat dari "produk"nya. Yaitu suami dan anaknya.
Maksudnya gimana? Jadi sebenernya kita bisa melihat seorang wanita berhasil atau tidak.. Bukan dari dianya yang sukses dan menonjol, tapi dari suami dan anak2nya yang sehat, bahagia dan berdaya. Maka jika seorang ibu memiliki kemampuan di berbagai bidang, hal itu akan sangat berguna untuk mengantarkan sukses suami dan anak-anaknya.