Bismillahirrahmaanirrahiim
Ketika lihat headline berita tentang "Kemarau Basah" dan juga film yang viral tentang "KKN"... Diri ini jadi teringat pernah menulis dengan tema sama.... 12 tahun yang lalu. MashaAllah...
Tulisan ini ditulis di notes FB. dan guess what, tidak semudah itu menemukan fitur ini di versi facebook yang baru.. Alhamdulillah tapi setelah uplek browsing tutorial nyarinya.. Ketemu juga.. Jadi akhirnya untuk back up saya tulis ulang di blog..
Sooo... Inilah lintas balik hidup belasan tahun silam.. Dan tentunya slightly revised version karena tulisan aslinya kurang komprehensif.
So, enjoy!
===
Kemarau Basah di Dusun Tegalrejo
" (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. 8:11)
Ada yang aneh dengan tahun 2010. Mungkin ini yang didengungkan orang-orang mengenai dampak pemanasan global. Seharusnya sesudah bulan April, Indonesia mengalami musim kemarau, tapi yang terjadi sekarang, hujan tak henti-hentinya turun. Jika meminjam istilah Pak Kasmo, pemilik demplot RT.5, inilah yang disebut “Kemarau Basah”
Sebenarnya, saya bukan orang dengan tipe romantis yang suka mengait-ngaitkan suatu fenomena alam tertentu dengan kejadian yang kualami. Tapi hujan telah berkali-kali menjadi saksi bisu (yang berisik sebenarnya, karena saking derasnya) di kejadian-kejadian penting nan sentimental dalam hidupku terutama saat KKN sebulan lalu. KKN di Tegalrejo, sebuah dusun di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Aku ingat di hari pertama ke sana untuk survey lokasi, hujan turun.
Sebelumnya, KKN di pikiran saya tak ubahnya sebuah momen terkungkungnya mahasiswa-mahasiswa dari peradaban, untuk melakukan hal-hal membosankan di tempat yang membosankan.. Itulah sebabnya, persiapan yang saya lakukan juga terbilang berlebihan : isi ulang penuh modem, membawa 2 selimut (dengan asumsi satunya untuk alas tidur yang mungkin tidak representatif), hand sanitizer, sebotol penuh cairan disinfektan, 3 macam tisu (tisu toilet, tisu basah, dan facial tissue), serta berbagai peralatan sok higienis lainnya.
Sesampainya disana dan mengalami 2 bulan kehidupan di desa, rasanya mindset yang selama ini menyelubungi saya tentang hidup di pedesaan runtuh. Saya tak tahu, tapi saya baru sadar betapa sederhana hidup di desa. Semua serba ramah, orang-orang peduli satu sama lain. Tamu dijamu dengan sangat mulia. Semua yang teman-teman KKN lakukan rasanya tidak sebanding dengan sambutan masyarakatnya. Saya tak pernah merasakan ketulusan semacam itu di tempat lain.
Hingga tiba saatnya tanggal 31 Agustus, tibalah waktunya program KKN berakhir. Hujan itu kembali turun. Dan me-rewind semua kenangan indah selama KKN. Saya tak akan bilang “mungkin langit menangis karena ikut merasakan pedihnya perpisahan” karena itu terlalu, ehm, menjijikan. Namun yang pasti, hujan bagi saya memberikan efek magis yang akan selalu membuat saya teringat akan perpisahan.
Tampaknya, mulai sekarang saya harus mulai membiasakan diri dengan perpisahan. Kadang terpikir, untuk apa Tuhan memberikan pertemuan kalau diakhiri dengan perpisahan yang menyakitkan? untuk apa ada perpisahan karena setelahnya, kita pasti dituntut dengan sulitnya beradaptasi di lingkungan yang baru lagi?
Tapi itulah yang membuat kita belajar, bahwa tak ada yang abadi dalam hidup. Dan kita tak boleh sedikitpun menyandarkan diri pada makhluk. Karena sampai waktunya nanti, kitapun akan menghadap-Nya dalan keadaan sendirian. Karena Dia-pun telah menjanjikan keindahan bagi orang yang bertemu dan berpisah karena-Nya.
Sabtu, 25 September 2010, saya kembali ke Gunungkidul untuk bersilaturahmi sekaligus istirahat sejenak dari hiruk-pikuk kampus serta perasaan inferior karena undangan rapat minim sambutan. Bisa ditebak, di tengah perjalanan hujan kembali mengguyur deras (saya baru tahu ternyata di Sleman, itu bukan sekadar hujan). Dan saya kembali merasakan romantisme itu.
(maybe) the last day at the purple room,
27 September 2010
===
Whoaa... Baca tulisan ini saya bisa merasakan "badai" pada diri saya saat itu. Perasaan waktu itu: sedih karena berpisah, sedih karena tim organisasi kampus banyak yang absen di agenda rapat. Sekaligus stres karena mau pindah kosan (bisa dilihat di akhir tulisannya).
Pantesan bisa dapet ketrigger buat tulisan ini .. (terima kasih ya Allah..la haula walaa quwwata illa billah). Inilah contoh nyata bahwa kesedihan yang kita alami... Di tahun2 berikutnya justru akan disyukuri karena bisa membawa saya menulis cerita ringan nan menjadi pengingat. Tak hanya pengingat tentang momen penting dalam hidup, namun juga pengingat diri untuk selalu bergantung kepada yang Maha Berdiri Sendiri. Teorinya mah dah ada dari belasan tahun... Tapi prakteknya suka lupa wkwk.
Dah ya segitu aja nostalgianya