Bismillahirrahmaanirrahiim
Cerita dimulai saat menjelang pernikahan di tahun 2013. Ibu saya tercinta menyuruh saya untuk konsultasi ke dokter gigi padahal tak ada keluhan sakit sedikitpun. Kenapa? Alasannya dia mencium bau tidak sedap dari mulut saya dan berharap nanti suami saya (yang waktu itu masih jadi calon) tidak menghirupnya.. wkwkwk.. Agak memalukan sih. Miris campur haru. Tapi aku bersyukur karena ibuku berani bertindak demi kebaikan anaknya.
Dan benarlah setelah diperiksa ada sebuah permasalahan yang cukup serius, yakni impaksi. Impaksi itu gigi bungsu saya tumbuhnya miring dan menempel pada gigi sebelahnya. Hal ini terjadi karena ruang rahang yang tidak memadai untuk gigi itu tumbuh secara normal. Jadi pas dirontgen panoramic keliatan deh tuh gigi bungsu saya gelendotan di gigi sebelahnya. Waktu itu dokter bilang kalau ada dua pendapat di kalangan dokter gigi. Yang pertama disarankan langsung cabut karena berpotensi mengakibatkan gangguan. Pendapat kedua bilang kalau selama tidak menimbulkan keluhan maka tidak perlu dicabut. Maka saya pilih dibiarin dulu karena hari pernikahan tinggal menghitung hari.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Selama itu saya tidak merasakan gangguan yang berarti pada gigi itu. Saya hanya merasakan jika ada makanan nyelip, ambilnya agak susah. Namun di saat pandemi melanda di tahun 2020, saya merasakan nyeri di lokasi itu. Benarlah setelah dicek, gigi bungsu itu plus gigi geraham yang digelendotin itu mulai berlubang karena terkikis. Dokter lalu menambalnya.
Lalu di akhir tahun 2021 saya merasakan nyeri lagi, saya pergi ke dokter lagi. Namun beda dokter karena saya sedang pulkam. Dokter ini bilang kalau tambalan gigi saya masih bersih. Dan bilang bahwa gigi bungsu saya masih ada peluang untuk tumbuh lurus seiring dengan proses mengunyah yang saya lakukan. Beliau bilang kalau fase awal gigi bungsu tumbuh selalu seperti itu. Dan nyeri yang saya rasakan bisa jadi karena gusi yang dalam posisi lunak karena sedang berusaha ditembus gigi. Terus terang saya lega mendengar kata-kata dari dokter tersebut karena sebelumnya sempat ada wacana untuk gigi saya dioperasi di dokter spesialis bedah mulut. Namun pada akhirnya dokter ini juga menyarankan untuk kembali cek 6 bulan setelahnya.. yakni bulan Juni 2022 untuk melihat progres pertumbuhan gigi ini.
Di bulan Juni 2022 saya kembali merasakan sakit. Namun saat itu posisi saya ada di Semarang utntuk menghadiri acara pernikahan adik, jadi tidak mungkin untuk periksa dokter. Saya berasumsi bahwa waktu itu saya sakit gigi karena sebelumnya saat di Tegal, saya kurang bersih menggosok gigi karena sikat giginya keras. (banyak alasan LOL)
Barulan di awal September kemarin, saya kembali merasakan nyeri itu. Singkat cerita, akhirnya ga ada toleransi lagi saya putuskan gigi ini harus dicabut. Dan akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah itu. Tanggal 22 September, hari Kamis, jam 16.30, bertempat di ruang praktek dokter bedah mulut, antrian nomor satu. Tercabutlah si gigi bungsu sebelah kanan bawah. Prosesnya memakan waktu setengah jam. Saya dibius lokal yang mana saya tidak merasakan sakit namun sedikit banyak saya merasakan something happen inside my mouth.
Setelah itu saya keluar setelah sebelumnya dokter menyampaikan edukasi mengenai perawatan gigi pasca dicabut. Selain itu saya juga diberi print out nya.
Efek bius bertahan Alhamdulillah saat saya mengantri obat, saat perjalanan pulang, juga saat saya mampir ke Alfamart untuk belanja es krim sesuai anjuran dokter. (tapi belanjanya ga cuma eskrim wkwk...because I think I deserve some rewards for being so brave 😝)
And then, what is it like when I'm finally home?
Jujur saya merasakan kepanikan (sedikit?) saat kapas yang disuruh dilepas setelah satu jam , ketika saya biarkan satu jam lebih setengah ternyata masih mengeluarkan darah juga. Kenapa panik? Karena efek bius mulai hilang, rasa sakit mulai terasa, tapi kalau saya masih menggigit kapas ya saya ga bisa makan dan minum obat. Akhirnya saya langsung konsultasi di Halodoc. Dokter menyuruh saya untuk menempelkan es batu langsung di atas luka dan meresepkan obat untuk menghentikan perdarahan. Es krim yang dianjurkan dikonsumsi itu juga ternyata harusnya digigit dalam potongan agak besar lalu langsung ditempatkan di bekas cabut giginya.
Padahal keknya ini common sense tapi kok ya Qadarallah saya lupa juga ya. wkwkw. Berat sungguh nulis ini karena memori itu agak bikin trauma wkwk. Tapi gapapa.. Saya harap ini bisa jadi penghibur orang lain yang mengalami nasib sama. Alhamdulillah setelah itu akhirnya saya bisa makan dan minum obat. Hingga Alhamdulillah kini sudah 11 hari terlewati saya udah bisa makan normal lagi yeayyy... no bubur-bubur club.
Dan sekarang dalam kesempatan ini saya ingin me-recap pengalaman cabut gigi saya.
SAKIT GAK?
- Pada saat proses cabutnya sih ga sakit ya. Lebih ke nervous berat. Abis operasi zuzur rasanya aku pengen peluk suster untuk ngeredain tension tapi mikir pandemi masih berlangsung akhirnya ga jadi LOL. Atasi dengan dzikir dan atur nafas. Alhamdulillah saya bisa nyetir sendiri juga pas pulangnya. Pas udah nyampe rumah dan bius mulai ilang, itu memang agak berat. Cara ngatasinya: minum obat, berdoa, mencoba tidur dengan pencahayaan minim (aku berharap waktu itu punya lampu tidur gitu deh) karena siap-siap kata kakakku hari pertama susah untuk tidur. Alhamdulillah aku tidur ga perlu waktu lama. Dan bangunnya relatif ga too early lah).
- Saya juga menghibur diri dengan pemikiran bahwa yang terberat udah terlewati. Penantian nyeri bertahun-tahun sudah teratasi. Karena proses yang dilalui untuk menuju ini juga lumayan panjang melewati beberapa sesi konsultasi dan menunggu konfirmasi asuransi. (hey it's rhyme!) Saya juga menghibur diri bahwa ini ajang untuk menurunkan berat badan LOL.
- Iya bengkak. Bengkaknya pelan-pelan dan kempesnya juga pelan-pelan. sampai hari ini hari ke-11 juga masih berasa ada jendolan dikit. Kata dokternya, bengkaknya dikompres anget. saya udah nyoba dari mulai koyo hangat, kompres handuk hangat dan ice pack. Dan paling nyaman ternyata ice pack. Jadi caranya, didihin air agak banyak sampai merendam ice gel, kemudian matikan api dan masukkan ice pack dan diamkan sekitar setengah jam. Tempel di pipi yang bengkak dengan lapisan kitchen cloth.
- Jadi pas mulai bengkak, saya baru menyadari kalau daging pipi bagian dalam juga ikut terdorong masuk sehingga jika kita pakai gigi kiri untuk mengunyah, makan gigi kanan juga akan menggigit pipi yang sedang bengkak itu. Jadii...sebenarnya dokter tidak memberikan pantangan makanan apapun kecuali semua yang hangat,panas,pedas. Namun karena ternyata yang terjadi seperti itu, maka mau ga mau makanan yang masuk harus bertekstur lembut agar tidak perlu ada proses mengunyah dulu untuk sementara. Saya melewati fase "semua-makanan-diblender" kira-kira 4 hari. Makanan yang saya makan apa? bubur of course, smoothies buah dan sayur, es grimm, bubur kacang ijo dan ketan item my love 💖sama puding🍮
- Kalau lagi sakit gini jujur mental juga kerasa down bangett. Yang pertama karena emang karena sakit ya. Kedua karena posisi aku waktu itu tuh ada banyakk makanan di kulkas. Akhirnya frustasi sendiri karena makanan numpuk sementara diri sendiri lagi ga bisa ngabisin. Sebenarnya bisa sih lauk yang udah ada diblender aja (terjadi padaku dimana aku memblender teriyaki dan tahu goreng LOL) tapi tetep aja yang masuk cuma dikit. Jadi, sebagai persiapan operasi cabut gigi, kita bisa ngosongin kulkas ya guys!
- Cari tahu keutamaan orang yang lagi sakit. Yakni denger kajian guys. Bener deh ilmu itu kayak oase guys. Hati kita jadi lumayan terhibur dengan fakta bahwa sakit itu ajang penghapusan dosa (sehingga meringankan azab kubur dan akhirat), ajang untuk mengangkat derajat anak Adam, dan sakit itu membuat seseorang berjumpa dengan Allah tanpa memiliki dosa sama sekali.
- Karena mulut lagi ga enak dibuat makan, saya keidean untuk puasa aja sekalian. Jadi di hari Seninnya, which is hari ke 4 pasca tindakan saya niat puasa. Pertimbangan lainnya agar luka gigitan di pipi bagian dalam juga bisa cepat sembuh. Konsekuensinya tapi ga boleh skip sahur karena antibiotik harus tetep masuk kan. Saya agak nyesel kenapa puasa baru di hari keempat LOL. Tapi qodarallah ya emang baru ada idenya di hari keempat. Terus ya alasan harus minum antibiotiknya itu tiga kali sehari sih. Kalau pas puasa minumnya jadi dua kali sehari doang pas sahur dan buka. Tapi kakakku kasih ide,,bisa tiga kali yaitu pas buka, sebelum tidur malam, dan sahur. Gitu ceunah.
Ya Allah jaga selalu kesehatan kami ... Aamiin