Cinta yang Menembus Batas Suka-Tidak suka


Adalah iman, yang menjadikan logika tak selalu menjadi raja.
Imanlah yang penengah antara logika-intuisi. Iman yang menjadi alasan cinta yang menembus batas suka dan tidak suka.

Lalu, ...

Oke, nyerah deh. Memang sepertinya saya tidak cocok dengan gaya kepenulisan yang serius semacam itu. Hehe.

Kontemplasi ini dimulai ketika saya mulai membaca sebuah buku berjudul, "Panduan Keluarga Sakinah" (Yazid bin Abdul Qadir Jawas: Pustaka Imam Syafi'i: 2011) . Karena satu dan lain hal akhirnya topik tentang nangka ini menjadi menu bacaan saya sebulan terakhir. (kenapa juga harus dibahas?) Ada beberapa hal yang akhirnya membuat saya berkesimpulan bahwa menjadi seorang istri tidaklah mudah. berat. pake banget. Kenapa? Berikut saya uraikan, 1. Kewajiban untuk Taat Begitu banyak ayat dan hadits Al-Qur'an yang menjelaskan mengenai kewajiban yang satu ini, baik implisit maupun eksplisit. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا "Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kpd seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya." [Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1159), Ibnu Hibban (no. 1291 - al-Mawaarid) dan al-Baihaqi (VII/291), Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1998)] see? Seperti itulah peran suami sehingga kepadanya pantas diperintahkan untuk sujud. Sebenarnya saya juga tidak terlalu kaget mengenai hal ini, namun setelah saya melihat sendiri bunyi ayat dan hadits2 Rasulullah SAW itu, ada rasa ketakutan yang menyelinap di hati ini. Apakah rasa pemberontakan dalam diri saya sudah terlalu mendarah daging ya? Ketaatan yang selama ini saya tunjukkan kepada orang lain selalu bersyarat. Misal, kepada atasan. itupun kalau tidak suka, saya memilih mundur. Kedua, terhadap orang tua. Yang memang seharusnya saya taat, ya karena itu sudah perintah Allah. Namun taatpun tidak selalu. Tergantung kepada beberapa hal, mood saya dan juga tergantung perintah yang diberikan. Hahaha, kesannya saya sangat pembangkang ya? Saya tidak tahu persis mengenai itu.. Namun, ketaatan pada suami itu merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Ibaratnya begini, sewaktu dulu saya awal bekerja, ikatan dinas hanya 6 bulan. Nah, karena jangka pendek tersebut saya merasa lega, karena di awal saya tidak enjoy. Saya bertekad untuk keluar di bulan depan. Nah, namun pada akhirnya saya bertahan hingga saat ini. Hingga setahun setengah. Di waktu yang sama, dulu saya sempat mengajukan pekerjaan di tempat lain dengan ikatan dinas yang lebih lama, yaitu 5 tahun. Wah, saya langsung mundur begitu mendengarnya. Dari hal tersebut saya menyimpulkan. Saya sadar betul jika memang saya adalah tipe orang yang bisa (bukan mudah) menyesuaikan diri. Saya juga tipe orang yang memegang komitmen pekerjaan. Namun, jika 5 tahun ke depan masa depan saya sudah terpeta sedemikian jelas, saya tidak bisa. Saya tidak berani mempertaruhkan waktu, membiarkan ada orang lain yang mengatur jalan hidup saya. Yang mengakibatkan saya tidak leluasa menentukan sendiri pilihan-pilihan hidup. DAn itulah yang terjadi jika sudah menikah. (?) -nggak tau juga sih apa tepat analoginya. 2.Treatment kepada pasangan yang durhaka Kedurhakaan atau nusyuz dalam Al-Qur'an merupakan kedurhakaan istri kepada suaminya dalam hal-hal yang Allah wajibkan atasnya untuk menaatiny (hal. 269). Oke, kalau wanita yang durhaka, maka begini tuntunan Al-Qur'an untuk mengatasinya, “Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini) nusyuznya maka hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidur, dan memukul mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa’: 34) nah, kalo suami yang nusyuz, maka tuntunan penyelesaiannya adalah begini, “Dan apabila seorang istri khawatir akan nusyuz suaminya atau khawatir suaminya akan berpaling darinya maka tidak ada keberatan atas keduanya untuk mengadakan perbaikan/perdamaian dengan sebenar-benarnya.” (an-Nisa’: 128) -Ya Allah, lindungilah hamba dari kefakiran ilmu, maafkan hamba jika ilmu hamba dalam memahami ilmu-Mu masih dangkal- Menurut saya, dalam kacamata manusia saya yang sangat faqir ini, perlakuan atas nusyuz suami dan istri lumayan kontradiktif, kalau tidak bisa dibilang tidak adil. -Ya Allah hindarkanlah hamba dari suudzan kepada-MU- 3. Poligami Bagian yang ini paling seru mungkin yah. Oke, dasar hukum dari ayat mengenai poligami sangat jelas. Namun ada menarik. Dalam surat An-Nisa ayat 3, berbunyi “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” Dalam pembahasan di buku itu, mungkin ada orang yang berpendapat bahwa, 'wah, berarti ga mungkin dong poligami, kan Allah sendiri yang berfirman kalo sejatinya manusia tidak dapat berlaku adil', sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa ayat 129, "Dan tidaklah kamu sanggup berlaku adil kepada istri-istrimu, sekalipun sangat menghendakinya. Karena itu janganlah kamu cenderung secenderung-cenderungnya kepada salah seorang istrimu, sedangkan yang lain kau biarkan ibarat barang tergantung." Untuk orang yang kontra poligami, mungkin dapat bernapas lega begitu mengetahui ayat ini. Namun ternyata keadilan yang dimaksud itu bukan keadilan seperti yang disebutkan dalam ayat ke-129 tersebut. Keadilan yang tidak bisa benar-benar adil adalah dalam hal cinta dan syahwat (hal. 313). Sedangkan adil dalam kriteria Islam (untuk diperbolehkannya poligami adalah adil dalam sifat kebendaan dan dalam hal giliran. Hehe, pusing nggak bacanya? Saya pribadi sih jadi banyak mikir setelah mengetahui hal ini. Saya takut kalau terjebak dalam logika lemah saya sebagai manusia. Terlepas dari tafsir dan asbabun nuzul turunnya ayat2 tersebut yang saya sendiri sangat tidak menguasai sehingga berhak memberi kesimpulan, melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan. Nggak jauh-jauh koq, ke diri sendiri agar tidak terlalu 'paranoid' menghadapi pernangkaan. Semua dikembalikan kepada iman. Sisi feminis saya yang jahiliyah terusik dengan adanya kesan-kesan diskriminatif yng terdapat pada ketiga aspek tersebut. Namun iman-lah yang harus dikedepankan. Iman yang membuat kita belajar menerima. Iman itulah yang meleburkan batas 'suka' dan 'tidak suka' pada ketetapan Allah 'Azza wa Jalla. Toh ternyata, setelah dipikir lagi, semua itu make sense koq.. Allah merencanakan sedemikian rupa, many step ahead, mengatur sedemikian detail karena Dia tahu bahwa pernikahan tidak akan selalu berjalan mulus. Allah memberikan tindakan preventif. Allah tahu yang terbaik, maka Dia ciptakan ketentuan-ketentuan itu. Hanya logika kita yang terbatas sehingga dengan mudahnya menghakimi Allah.. And you know what girls, sebagai privilege, kita mempunyai persyaratan masuk surga dengan mudah, hanya dengan 4 langkah!
Dari Anas, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki syurga melalui pintu mana saja yang dia sukai.” (Hadis Riwayat Ahmad)
Bismillahirrohmaanirrohiim ^0^
picture source