![]() |
| sumber |
"Din, bentar lagi Pemilu. Tumben kamu nggak nyuruh Mamah Bapak milih siapa."
Hehe, ketahuan kalau saya sering mengintervensi orangtua saya. Pertanyaan tersebut membuat saya terinspirasi untuk menuliskannya dalam blog ini.
Jawaban saya kepada Ibu waktu itu,
"In syaa Allah aku pilih Prabowo, Mah"
Ada berbagai alasan mengapa akhirnya saya sampai pada keputusan ini. Saya sadar saya bukanlah seorang pengamat politik yang mumpuni. Saya tentunya juga merasa diri sendiri tidak kompeten untuk menilai mereka secara pribadi. Satu, karena elemen terpenting dari keputusan memilih presiden Indonesia bukanlah semata-mata dari kepribadian tokohnya. Dua, karena era pencitraan saat ini, sangat sulit untuk mengetahu reputasi yang sebenernya dari seorang tokoh. Banyak fitnah yang beredar. Nah, masalah fitnah ini juga, jaman sekarang saking banyak media yang tidak akurat dan dipercaya, perihal fitnah ini juga perlu dicermati. Apakah sebuah fitnah selalu dibuat oleh lawan? Sangat mungkin kan kalau tim sukses capres itu sendiri membuat fitnah untuk meraih simpati? Jadi, bisa dibilang dari kedua calon yang ada, Jokowi maupun Prabowo, sulit bagi saya untuk secara objektif menilai siapa yang lebih baik akhlaknya.
Karenanya, saya di sini akan memaparkan pendapat saya memilih salah satu capres berdasarkan pengetahuan dan analisis sederhana saya sebagai orang awam. Pilihan saya bukan berdasarkan berita-berita simpang siur yang ada di luar sana, namun analisis saya melihat fenomena yang terjadi di balik pencalonan mereka. Here they are:
1. Pemberitaan Jokowi yang lebay
Saya letakkan ini sebagai alasan paling utama. Karena saya melihat pemberitaan mengenai Jokowi memang lebay. Porsi pemberitaannya sangat besar dan masif di berbagai media. Lho, emangnya ga pantas kebaikan-kebaikan Jokowi dipaparkan? Pantas sekali sebenarnya. Tapi ini Indonesia, Bung. Mana ada sih media yang bebas nilai. Janggal rasanya ada media yang secara intensif dan konsisten memberitakan baik-baiknya seseorang.
Saya perhatikan, pemberitaan masif tentang Jokowi ini sudah ada sejak pencalonannya sebagai gubernur DKI tahun 2012. Meski berita tentangnya juga ada di tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana saat dia masih menjabat sebagai walikota Solo. Pemberitaan ini bagi saya sangat terasa. Hampir semua media nasional, atau sebutlah dengan media mainstream, tak ada yang luput memberitakan Jokowi. Ini cuma saya sendiri atau teman-teman pembaca juga rasakan, sih? menurut saya hal ini janggaaal banget. Apalagi beberapa (banyak sebenarnya) beritanya suka nggak penting seperti,
1. http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/06/07/n6sirn-sebelum-kampanye-jokowi-beli-sayuran-di-pasar-anyar
2. http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-beli-beras-daging-dan-ikan-ke-makassar.html
3. http://www.independen.co/news/index.php/nasional/politik/item/1891-jokowi-minum-jamu-saat-blusukan-di-pasar-klender
see? itu baru beberapa lho. Saya cari berita jokowi di detik.com aja sampe puyeng lihatnya karena banyak banget. dan ga berhenti sampai situ. Berita masif ini juga berkaitan dengan Ahok a.k.a Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi wakilnya. (http://bola.kompas.com/read/2012/09/20/08552821/Ahok.Begadang.Terima.Ribuan.SMS.Dukungan)
Menurut saya, berita tentang Jokowi ini sudah pada tahap yang janggal. Media di Indonesia, seperti yang pernah saya tuliskan di sini, hanya mau memberitakan kalau ada berita yang bombastis, bad news is a good news. Walaupun ironis, tapi itu memang nyata. Jika konten berita mereka terus diisi oleh prestasi-prestasi dan kebaikan seseorang, patut diwaspadai, siapa yang menjadi dalang di balik semua itu? siapa pihak yang sebegitunya iingin Jokowi berkuasa?
Dan mengenai berita-berita ini, salah satu website pernah mengulasnya, seperti yang terdapat di website Liputan6 ini, saya merangkumnya seperti ini
"Elektabilitas Jokowi tinggi karena pemberitaan-pemberitaan tidak penting. Dia minum temulawak, sepatu robek. Jokowi dianggap sebagai Ratu Adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki"
Elektabilitas
Jokowi unggul dalam mayoritas survei calon presiden. Tingginya
elektabilitas Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Joko Widodo itu
karena masifnya pemberitaan di media massa. Padahal berita soal Jokowi
itu tidak penting, karena banyak yang tidak terkait dengan kebijakan
mantan Walikota Solo ini.
"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
Elektabilitas
Jokowi unggul dalam mayoritas survei calon presiden. Tingginya
elektabilitas Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Joko Widodo itu
karena masifnya pemberitaan di media massa. Padahal berita soal Jokowi
itu tidak penting, karena banyak yang tidak terkait dengan kebijakan
mantan Walikota Solo ini.
"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
Elektabilitas
Jokowi unggul dalam mayoritas survei calon presiden. Tingginya
elektabilitas Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Joko Widodo itu
karena masifnya pemberitaan di media massa. Padahal berita soal Jokowi
itu tidak penting, karena banyak yang tidak terkait dengan kebijakan
mantan Walikota Solo ini.
"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
2. Pengusung Prabowo dari PKS"Jokowi minum temulawak saja diberitakan, dia naik tangga, padahal di sebelahnya ada tangga yang normal, difoto oleh wartawan. Sepatu Jokowi robek juga diberitakan," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi dalam diskusi 'Haruskah Jokowi Jadi Presiden RI? Kalau Bukan Dia Lalu Siapa?' di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Menurut Nasbi, kondisi itu diperparah dengan masyarakat yang condong memilih presiden berdasarkan tren. Masyarakat hanya melihat bahwa tren Jokowi sedang positif, sehingga mereka berbondong-bondong menjagokan suami Iriana ini menjadi presiden.
Pria yang juga konsultan politik Jokowi pada Pilkada DKI 2012 ini menambahkan, masyarakat yang menjagokan Jokowi itu tidak tahu bagaimana kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin.
"Kalau kita men-challenge, perubahan apa yang sudah dilakukan Jokowi di Jakarta? Jawabannya selalu beri dong waktu. Saya mau memberi waktu. Yang nggak mau itu dinamika politik yang memaksa Jokowi untuk jadi presiden sekarang," ujar dia.
Faktor pengamat juga berpengaruh pada tingginya elektabilitas Jokowi. Sebab, para pengamat yang biasanya bersikap kritis, kini lembek kepada Jokowi karena takut di-bully oleh masyarakat pendukungnya. Para pengamat juga menganggap sikap Jokowi selalu benar. Akibatnya, fenomena Jokowi seperti dibangun ke dalam persepsi mitologi.
Selain itu, kata Nasbi, Jokowi sudah dianggap sebagai 'messiah', dianggap sebagai ratu adil tanpa diperhitungkan kekurangan yang dimiliki. "Jadi kalau katanya suara rakyat itu sama dengan suara Tuhan, saya ingin mengatakan kalau Tuhan salah lagi kali ini," pungkas Nasbi. (Eks/Sss) - See more at: http://m.liputan6.com/news/read/818211/pengamat-elektabilitas-jokowi-tinggi-karena-berita-tak-penting#sthash.bJk7s2en.dpuf
Jujur, saya merupakan simpatisan PKS, dan saya masih tsiqoh atau percaya pada mereka. Seperti di awal saya bilang, saya tidak tahu dan tidak mampu mengetahui secara mendetail mengenai akhlak kedua calon pemimpin Indonesia tersebut. Berita di luar sana bisa simpang siur. Masing-masing mengklaim dirinya didzolimi, difitnah. Visi-misipun sama-sama baik. Sama-sama normatif. Itulah mengapa keputusan saya salah satunya didasarkan karena PKS yang berkoalisi mendukung Prabowo. Karena keterbatasan saya mencari kebenaran dalam memilih calon ini, maka saya menyerahkan keputusan pada PKS. Di balik segala kekurangannya, saya tetap menganggap bahwa sejauh ini PKS yang paling sesuai dengan hati nurani saya. (Loh jadi ini lagi bahas PKS Atau Hanura? :D)
3. Backing Jokowi yang notabene non Islam.
Kita lihat bahwa partai pendukung Jokowi adalah PDIP. Nah PDIP ini merupakan partai dengan anggota non-muslim terbanyak .
sumber
Nah, apa yang menjadi dampak atas banyaknya kader non-Islam ini? Saya tidak bermaksud memungkiri kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang heterogen. Namun, semakin orang mengenal Islam, semakin yakin orang tersebut bahwa Islam merupakan agama terbaik yang akan membawa kebaikan tidak hanya kepada pemeluknya, namun juga pada umat lain. Suami saya pernah bilang, jika di suatu negara yang mayoritasnya Islam, pasti umat agama lain akan hidup damai. Namun jika suatu negara mayoritas non-Islam, maka umat Islam di sana berada pada kondisi yang tidak aman dalam menjalankan kegiatan-kegiatan ibadahnya.
Begitu pula dengan kita. Okelah, orang di luar Islam bisa saja keberatan dengan tegaknya aturan Islam di Indonesia. Namun yang saya heran, kadang (malah banyak) orang Islam yang tidak setuju syariah Islam ditegakkan. Katanya tidak cocok untuk suasana negara yang pluralis. Lah, kalau begitu, bukankan berarti mereka juga tidak meyakini bahwa Islam itu agama terbaik? yang menjadi rahmat untuk semua? Coba lihat sistem ekonomi syariah, bukankah sudah jelas ekonomi Islam menguntungkan semua pihak?
*kemudian dicap SARA*
Untuk menguatkan, di sumber lain yang saya baca, ada sumber dan statistik yang menyebut PDIP Partai terkorup (sumber) . Selain itu, ternyata PDIP juga walkout saat dibahasnya UU Pornografi (sumber sumber )
----------
Bagaimanapun, misi saya menuliskan ini tidak muluk-muluk. Hanya sebagai pertanggungjawaban pribadi atas pilihan yang saya ambil. Agar saya bisa menjawab kelak di akhirat, apa dasar memilih capres 'itu'. Semoga Allah melindungi kita semua dengan menganugerahkan pemimpin yang amanah, shiddiq, tabligh, fathonah..
*Judul terinspirasi dari artikel karya Lakso Anindito di Buletin PERISAI BEM KM UGM pada 2009
PS 1: ternyata pusing juga ya nulis beginian,haha
PS 2: maaf jika link yang saya masukkan membuat pembaca 'sakit mata' dan tidak nyaman. Hal ini semata-mata untuk menguatkan argumen yang saya berikan agar tidak dianggap fitnah.
PS 3: ada sumber lain yang membahas perbandingan Jokowi-Prabowo yang lebih berimbang. Berbentuk infografis. Yaitu di situs surveikampus.com . Berikut overview-nya



